• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Category: 2007

Model Pengembangan Fasilitas Fisik Pada Lingkungan Buatan (Built-Up Environment) Yang Memberi Kemudahan Kepada Semua Orang Termasuk Penyandang Cacat Dan Lansia Dalam Mewujudkan Pembangunan Kawasan Bebas Kendala.

Kata kunci: lingkungan buatan, penyandang cacat, lansia, kawasan bebas kendala.

Setyaningsih, Wiwik*)
Fakultas Teknik UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti Lanjutan, 2006.
Salah satu isu global pada milenium ketiga yang telah digulirkan oleh dunia internasional dan UNESCAP adalah aksesibilitas. Hal ini bermula pada sebuah kenyataan masih kurangnya fasilitas umum dan lingkungan buatan yang tidak aksesibel (non-handicapping environment). Di Indonesia, penyandang cacat dan lansia cenderung belum mendapatkan perhatian yang memadai dengan terbatasnya penyediaan elemen aksesibilitas yang accessible. Lingkungan buatan yang ada cenderung belum mencerminkan keadilan bagi semua pengguna. Kenyataan ini antara lain disebabkan kurangnya perhatian dari pihak pemerintah maupun swasta serta masih kurangnya kesadaran dan kepedulian tentang aksesibilitas lingkungan, sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap terbatasnya aktivitas penyandang cacat dalam bermobilitas (Wiwik, 2005).
Guna menjawab tantangan globalisasi bagi keseluruhan aspek pembangunan termasuk pengembangan lingkungan buatan yang aksesibel, maka sebagai perencana harus mempertimbangkan keberagaman dari potensi penggunanya, termasuk penyandang cacat dan lansia dalam mengakses lingkungan buatan tersebut.
Pada tahun ke dua penelitian yang menggunakan pendekatan partisipatif ini dimaksudkan untuk mengujicobakan model yang telah dirumuskan pada tahun pertama, dengan melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan uji coba serta melakukan penyempurnaan model. Adapun tahapan yang dilakukan dalam mengujicobakan model sebagai berikut : 1) melaksanakan focus group discussion yang dilanjutkan dengan simulation exercise dengan melibatkan representatives dari stakeholders yang terkait; 2) melakukan monitoring, evaluasi dan revisi untuk penyempurnaan desain, 3) melakukan sosialisasi dan gagasan barrier free built environment award.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan uji coba dan penyempurnaan model pengembangan elemen aksesibilitas pada lingkungan buatan yang aksesibel untuk penyandang cacat dan kelompok masyarakat yang berkebutuhan khusus dapat berjalan dengan lancar serta mendapatkan tanggapan dan dukungan positif dari semua peserta. Pelaksanaan uji coba model dalam bentuk simulasi diikuti oleh berbagai stakeholder terkait termasuk pemerintah dan swasta serta masyarakat penyandang cacat. Pelaksanaan uji coba model berupa sosialisasi serta pengenalan gagasan Barrier Free built environment Award secara umum dapat dikatakan berhasil dan dapat berjalan dengan lancar meskipun terdapat beberapa kendala seperti waktu penyempurnaan desain harus disesuaikan dengan setting yang ada, serta proses perijinan yang rumit.
Pelaksanaan uji coba model sebagai wahana sosialisasi barrier free built environment sebaiknya dilaksanakan secara terus menerus oleh berbagai pihak terkait untuk mewujudkan lingkungan buatan bebas kendala yang dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat. Oleh karena itu hasil penelitian ini akan direkomendasikan kepada berbagai pihak termasuk pemerintah daerah (Kabupaten/Kota) serta pemerintah propinsi dan pemerintah pusat selaku fasilitator dan pihak-pihak swasta sebagai pelaku pembangunan.

Pengembangan Model Revitalisasi Seni Pertunjukan Tradisi Sebagai Upaya Mengkokohkan Ketahanan Budaya Lokal Serta Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Sekitarnya Melalui Program Pariwisata Budaya (Studi Kasus Seni Tradisi Wayang Wong di Surakarta).

Kata kunci: wayang wong, revitalisasi, ketahanan budaya, pariwisata budaya.

Subiyantoro, Slamet; Markamah; Kristiani; G. N.U., Fawarti*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2006.
Sektor pariwisata di Kodya Surakarta merupakan andalan sumber pendapatan potensial, mengingat kekayaan budaya sangat melimpah. Namun demikian, kontribusi sektor pariwisata masih belum merupakan unggulan. Upaya mewujudkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan ekonomi yang lebih tinggi, telah ditempuh dengan berbagai cara, seperti mensukseskan program Indonesia Visit Year 1990, Asean Visit Year 1991, Sapta Pesona dan menyambut tahun 1998 sebagai tahun Seni-Budaya, dan Bengawan Solo Fair (BSF) dari tahun 1999 - 2002. Tetapi, hasil yang dicapai masih belum seperti yang diharapkan.
Kenyataan tersebut disebabkan karena potensi budaya yang ada, terutama salah satunya adalah seni pertunjukan wayang wong, belum diberdayakan fungsinya secara maksimal sebagai paket tontonan eksotik bagi wisatawan. Fungsi seni pertunjukan wayang wong meskipun sudah dipertunjukkan secara komersial, akan tetapi belum dipadukan dengan program paket pariwisata budaya. Padahal keunikan pertunjukan seni wayang wong tersebut, merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Seni pertunjukkan wayang wong juga menjadi aset budaya, dan sekaligus sebagai simbol serta identitas kota Surakarta. Karena nilai historis seni wayang wong tidak dapat dilepaskan dari Keraton yang juga menjadi salah satu sentral kebudayaan Jawa. Sayangnya jenis seni yang potensial ini keberadaannya semakin terjepit oleh kehadiran seni populer, karenanya berangsur-angsur ditinggalkan penggemarnya. Oleh karena itu perlunya seni pertunjukan wayang wong direvitalisasi, dan bahkan diberdayakan untuk pengembangan pariwisata budaya.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan suatu model revitalisasi seni pertunjukan wayang wong. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian dilakukan dengan Research and Development selama tiga tahapan dalam waktu tiga tahun. Penelitian pada tahun ketiga ini dilakukan serangkaian kegiatan yang difokuskan untuk menyusun model revitalisasi seni pertunjukan wayang wong yang bisa mengokohkan ketahanan budaya lokal serta bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa:
1.  Pertunjukan wayang wong yang telah digarap sebagai bentuk revitalisasi mampu meningkatkan ekonomi para pelaku kesenian dan masyarakat sekitarnya serta bagi Pemerintah daerah setempat. Pertunjukan wayang wong yang telah digarap sebagai salah satu model revitalisasi ternyata mampu memperkuat ketahanan budaya lokal seperti tercermin pada tingkat jumlah penonton yang menyaksikan sebagai pendukung kesenian tersebut di satu sisi. Disisi lain respon penonton sangat positif terhadap eksistensi wayang wong tersebut sebagai atraksi budaya yang dibanggakan sebagai ikon Solo yang sekaligus sebagai sentral pewarisan budaya Jawa secara historis
2.   Ketahanan budaya juga tercermin dengan komitmen serta antusiasme perserta lomba festival wayang orang yang berasal dari sanggar-sanggar dimana pelakunya adalah anak-anak (bocah) yang masih aktif di sekolah, baik di Sekolah Dasar maupun Sekolah Lanjutan. Para kelompok di sanggar itulah regenerasi kesenian tradisi wayang wong yang adaptif dengan masa kini yang kontekstual telah membuktikan bahwa budaya lokal adalah tidak statis namun demikian dinamis.
3.   Modul panduan untuk revitalisasi seni tradisional merupakan sarana yang efektif dalam mengembangkan dan sekaligus melestarikan berbagai jenis kesenian tradisional yang lain. Modul ini juga sangat relevan dalam upaya meningkatkan ekonomi para pelaku kesenian tersebut melalui program kegiatan pariwisata budaya.

Pengembangan Interpretasi Foklfor Obyek WIisata Untuk Meningkatkan Kualitas Sadar Wisata Di Kabupaten Grobogan.

Kata kunci: interpretasi, folkfor, sapta pesona, sadar wisata.

Sugiarti, Rara; Sutirto, Tundjung W.; Radjiman*)
Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2006.
Hasil penelitian multi-year tentang Pengembangan Interpretasi Folklor Objek Wisata untuk Meningkatkan Kualitas Sadar Wisata Masyarakat Kabupaten Grobogan menunjukkan bahwa kualitas sadar wisata masyarakat Kabupaten Grobogan masih relatif rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai indikator antara lain seperti belum terciptanya Sapta Pesona di beberapa objek wisata. Di samping itu dalam kaitannya dengan folklor atau cerita rakyat, sebagian besar masyarakat di daerah tersebut, termasuk mereka yang bertempat tinggal di sekitar objek wisata tidak mengerti dan tidak memiliki pemahaman terhadap cerita rakyat di daerah mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum memiliki sense of belonging terhadap khasanah budaya sendiri. Sementara dari identifikasi folklor diketahui bahwa Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten yang memiliki kekayaan folklor yang luar biasa karena Kabupaten Grobogan yang memiliki nama lain Purwodadi merupakan daerah asal-usul pembentuk kebudayaan Jawa. Kata Purwodadi berasal dari kata purwo yang berarti awal dan dadi yang berarti jadi. Dengan demikian kata Purwodadi berarti awal kejadian. Dalam konteks ini berarti awal atau asal-usul terjadinya atau terbentuknya kebudayaan Jawa. Apabila dilihat dari silsilahnya, dari Grobogan lah lahir Kerajaan Mataram yang kemudian menurunkan Raja-raja Karaton Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Identifikasi cerita rakyat tersebut merupakan salah satu hasil penelitian tahun pertama. Penelitian tahun ke-dua dititikberatkan pada pembentukan model interpretasi folklor objek wisata di Kabupaten Grobogan. Model yang dihasilkan pada tahun ke-dua disebut model Interpretasi Pariwisata Berbasis Masyarakat (IPBM) atau dalam Bahasa Inggris dinamakan Community Based Tourism Interpretation (CBTI). Model tersebut antara lain menggarisbawahi pentingnya peran pemandu wisata lokal untuk menyampaikan interpretasi folklor atau cerita rakyat di daerahnya, yang merupakan daerah tujuan wisata atau objek wisata. Perumusan model dilakukan melalui beberapa metode, antara lain metode diskusi kelompok terarah (FGD) dan wawancara, yang melibatkan seluruh elemen pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata di Kabupaten Grobogan, termasuk pemerintah, swasta dan masyarakat. Hal ini antara lain didasarkan pada pentingnya mengutamakan keterlibatan dan partisipasi seluruh komponen masyarakat dalam menyusun perencanaan, pengembangan, pembangunan, pemantauan dan penilaian, termasuk juga partisipasi mereka dalam merumuskan model yang digunakan untuk melestarikan folklor dan sekaligus mengembangkan atraksi wisata yang dapat menjadi magnet yang kuat untuk menarik wisatawan agar mengunjungi objek dan daya tarik wisata yang terdapat di Kabupaten Grobogan.
Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas sadar wisata dengan memanfaatkan interpretasi folklor lokal yang menggambarkan daerah yang mereka miliki. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah terwujudnya model interpretasi folklor sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas sadar wisata masyarakat Kabupaten Grobogan. Untuk mencapai tujuan jangka panjang dan tujuan khusus tersebut maka penelitian ini direncanakan dalam tahapan-tahapan, dimulai dari tahap pertama yang dilakukan pada tahun pertama dengan melakukan analisis potensi folklor untuk menjadi sarana interpretasi wisata. Tahap kedua (tahun ke-dua) adalah merumuskan model interpretasi folklor yang sesuai. Sedangkan tahap ketiga (tahun ke-tiga) adalah mendiseminasikan model interpretasi folklor obyek wisata Kabupaten Grobogan.
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Grobogan dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki banyak obyek dan daya tarik wisata (ODTW) potensial yang bernuansa folklor lokal yang sangat kental yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengembangan pariwisata dan perekonomian wilayah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Populasi penelitian adalah semua elemen pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata di Kabupaten Grobogan termasuk pemerintah, swasta (pengusaha bisnis pariwisata), serta asosiasi terkait dan masyarakat setempat. Teknik cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball. Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer berupa informant yang terdiri atas perwakilan dari berbagai unsur stakeholders pariwisata. Data sekunder berupa berbagai dokumen yang relevan. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik termasuk wawancara mendalam (in-depth interview) dan metode simak (document study).
Diseminasi model interpretasi folklor obyek wisata Kabupaten Grobogan dimaksudkan untuk menyebarluaskan atau mensosialisasikan kepada masyarakat pariwisata atau stakeholder pariwisata tentang model yang telah dirumuskan pada tahun ke-dua. Adapun model yang telah dirumuskan pada tahun ke dua adalah model interpretasi pariwisata berbasis masyarakat, khususnya masyarakat pemandu wisata atau pramuwisata lokal di Kabupaten Grobogan. Hal ini dikarenakan untuk melestarikan dan merevitalisasi folklor obyek wisata diperlukan adanya rasa memiliki oleh masyarakat pemilik folklor itu sendiri. Selama ini masyarakat pemilik folklor belum menunjukkan sikap bahwa mereka adalah pemilik folklor yang berkewajiban untuk melestarikan dan sekaligus merevitalisasi folklor yang mereka miliki. Oleh karena itu di dalam pelaksanaan diseminasi model interpretasi folklor obyek wisata di Kabupaten Grobogan, peran masyarakat setempat sangat besar. Kegiatan diseminasi model interpretasi folklor obyek wisata Kabupaten Grobogan terdiri atas sosialisasi model, simulasi model dan gladi lapang yang masing-masing disertai dengan monitoring dan evaluasi yang dimaksudkan untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan model yang telah dihasilkan.

Film Animasi Dalam Bentuk CD Sebagai Salah Satu Industri Budaya Bangsa Kisah Asmara R. Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji.

Kata kunci: wayang beber, film animasi, industri budaya.

Afatara, Narsen*)
Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2006.

Dewasa ini pemunculan Wayang Beber lewat seni pertunjukan sudah jarang dijumpai, pertunjukan ini sudah hampir mati. Dari fakta historis, Wayang beber yang asli sangat terbatas jumlahnya dan bahkan mendekati kondisi yang rapuh. Masyarakat Surakarta pada khususnya jarang menyaksikan pertunjukan ini, dan nyaris hampir tidak mengenal perwujudan aslinya. Wayang Beber yang dijumpai adalah fragmen wayang beber yang berupa lukisan yang dibuat oleh para perajin dan biasanya terdapat di art shop, bukan lagi merupakan bagian dari pertunjukannya. Sekarang muncul; berbagai pembaharuan dalam pengembangan bentuk wayang beber ini. Dalam penelitian Hibah Bersaing IX/1 Tahun 2001 - 2002, telah dihasilkan bentuk Komik serta Cergam Wayang Beber dengan visi tradisional maupun kontemporer.
Pelestarian Wayang Beber lewat alih fungsi dari seni pertunjukan yang ritual tradisonal kedalam film animasi atau film kartun, sangat dimungkinkan. Dilihat dari sumber daya manusianya, para senimannya selalu tersedia karena ditopang oleh perguruan tinggi kesenian, yaitu STSI dan Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, serta terdapat beberapa studio yang bergerak di dalam grafis desain.
Hasil penelitian Hibah Bersaing di atas merupakan sumber gagasan untuk mengembangkan lebih jauh dari temuan penelitian, bukan sekedar komik lagi, melainkan dikembangkan menjadi film animasi atau kartun dalam bentuk CD (Compact Disc) dengan ceritera yang sama yaitu Kisah Asmara antara R. Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji, kemudian menjajagi lebih jauh untuk segmen pasarnya dengan umpan balik dari komentar para siswa SMA kemudian menuju kepada produser yang terkait dengan produk ini.
Lokasi penelitian di Surakarta dengan studio untuk proses penyelesaiannya di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, dan masih menggunakan studio swasta untuk kepentingan penunjang yang dibutuhkan. Masalah yang diteliti berkaitan dengan proses dan makna, maka bentuk pendekatannya adalah deskriptip kualitatip agar berbagai nuansa permasalahan yang ada dapat dideskripsikan dengan baik, dengan melakukan diskusi yang terfokus sangat membantu pemecahan hambatan di lapangan. Di sisi lain pentingnya bekerja sama dengan Dinas Priwisata, pusat-pusat informasi, serta yang lain, agar nantinya dapat menginformasikan kepada masyarakat luas, sesuai dengan target yang diharapkan. Menayangkannya dalam kesempatan-kesempatan yang penting. Harapan yang muncul agar hasil dari penelitian ini dapat memberikan kebanggaan masyarakat baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional. Sebagai hasil akhir dari penelitian ini adalah film animasi dalam bentuk CD.

Pengembangan Industri Batik di Lasem Sebagai Upaya Revitalisasi Seni Rupa Tradisional dan Peningkatan Ketahanan Budaya Berbasis Pariwisata

Kata kunci: revitalisasi, ketahanan budaya, pariwisata.

Prabowo, Tjahjo*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.

Penelitian yang akan dilaksanakan dalam tiga tahap ini secara umum bertujuan untuk menghidupkan kembali industri batik di Lasem yang produknya mampu mengambil peran aktif dalam Sapta Pesona Pariwisata. Sedangkan yang menjadi tujuan khusus pada tahap pertama ini adalah mendiskripsikan hal yang berkaitan dengan potensi Sumber Daya Manusia, Potensi jaringan bisnis batik tulis di Lasem saat ini, Potensi pariwisata yang terkait langsung dengan produk batik tulis Lasem, serta mengidentifikasi upaya yang telah dilakukan untuk melestarikan kekayaan budaya masyarakat yang berupa usaha batik tulis; dan juga kendala yang ada dalam upaya mempertahankan keberadaan batik tulis Lasem.
Dengan demikian metode penelitian yang digunakan pada tahap pertama ini bersifat eksploratif terhadap berbagai potensi yang terkait dengan industri batik tulis di kecamatan Lasem kabupaten Rembang serta upaya berbagai pihak dalam melakukan revitalisasi. Untuk tujuan tersebut telah dilakukan penggalian data dan informasi dan berbagai sumber dengan metode diskriptif kualitatif
Dalam penelitian ini data digali dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer terdiri dari para informan yang berprofesi sebagai pengusaha batik, buruh batik, unsur pemerintah, termasuk pejabat di Diperindagkop (Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi), Diparbud (Dinas Pariwisata Budaya dan Seni), dan pedagang batik.
Untuk membangun fakta tentang potensi batik Lasem beserta hal-hal yang berkait dengan usaha revitalisasi maka semua data yang ada digali dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan analisis dokumen.
Dari hasil temuan dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan potensi batik Lasem ditinjau dari aspek ekonomi, sosiai budaya dan pariwisata sebagai berikut.
Menejemen UKM masih konvensional dan lemah, tidak ada sistem administrasi dan pembukuan yang baik kekurangan dan kelemahan ini lebih disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang manajemen karena tidak ada pembukuan yang baik, maka dalam perhitungan pembiayaan produksi tidak pernah memasukkan nilai bangunan dan tanah, alat produksi yang dipakai dalam perhitungannya, sehingga pada dasarnya mereka tidak tahu secara persis keuntungan yang diperoleh dan hasil usaha yang ditekuni.
Usaha produksi batik masih merupakan usaha yang profitable dengan kisaran margin antara 10-50 %.Tingkat upah buruh, minimal sama dengan standard Upah Minimum Regional yang sebesar Rp 350.000/bulan, namun besaran upah yang baik ini kurang dapat dirasakan oleh para pekerja karena sistem kerja dan sistem pengupahan yang berdasarkan borongan. Rasa kekurangan pada beberapa buruh lebih bersifat psikologis, sebab pada dasarnya mereka juga menyadari bahwa pekerjaan mereka hanya pekerjaan sampingan
Jaringan bisnis yang ada merupakan jaringan tradisional sejak pengadaan bahan baku hingga pasar. Untuk mendapatkan bahan baku yang berupa kain, malam/lilin dan obat pewarna para pengusaha melakukan kontak bisnis dengan pedagang dari Solo, Semarang dan Pekalongan, kontak dengan para pedagang dari daerah-daerah tersebut sudah terjadi sejak lama, generasi pengusaha yang sekarang tinggal meneruskan hubungan yang sudah dibangun oleh generasi sebelumnya. Demikian pula dengan hasil produknya, diambil oleh pedagang yang telah lama menjadi pelanggan. Sampai saat ini belum ada lembaga sejenis koperasi yang dapat membantu pengusaha batik mengatasi masalah penyediaan bahan baku dan bahan pendukung serta pasar.
Khusus untuk menjaga kelestarian agar industri batik tetap ada di Lasem, maka peran pemerintah besar. Salah satu peran yang telah dilakukan online casino saat ini adalah membuat kebijakan yang mengharuskan pegawai di lingkungan pemda untuk memakai baju batik pada hari Jumat dan Sabtu. Meskipun saat ini para pengusaha batik belum dapat memenuhi kebutuhan pasar akibat dari ketentuan pemerintah tersebut namun kebijakan tersebut dapat mendorong gairah produksi pengusaha.
Belum ada kemandirian dari UKM untuk merebut pasar yang ada secara progresif melalui berbagai jenis dan media promosi. Ketergantungan pada pihak lain untuk melakukan promosi masih sangat tinggi, seperti misalnya untuk promosi keluar daerah peran Dinas Perindustrian Dan Koperasi, Dinas Pariwisata Budaya Dan Seni serta Dinas Tenaga Kerja sangat besar.
UKM belum memanfaatkan kegiatan pariwisata daerah untuk meningkatkan promosi dan produksi bagi usaha mereka. Banyak event-event wisata maupun lokasi wisata yang tidak dimanfaatkan untuk mempromosikan atau mendisplay produk batik.
Penduduk Lasem yang lebih banyak perempuan dibanding laki-laki merupakan potensi untuk bisa merevitalisasi industri batik di Lasem. Sebab pekerja yang terlibat dalam industri ini 95 % adalah perempuan dan bagi sebagian besar pengrajin beranggapan bahwa profesi pembatik merupakan pekerjaan sampingan, pengisi waktu luang yang mempunyai efek terhadap penambahan ekonomi keluarga. Bukan pekerjaan utama. Pekerjaan utama mereka adalah bertani.
Sumber Daya Manusia yang terlibat dalam industri ini adalah tenaga trained labor, terlatih karena tradisi yang hidup dalam masyarakat bukan skilled labor, tenaga yang memiliki ketrampilan karena proses pendidikan formal atau informal. Dan saat ini tenaga yang terlibat dalam industri batik adalah orang-orang yang tingkat usianya sudah tidak muda lagi, di alas 20 tahun. Sedangkan bagi generasi muda ada persepsi bahwa berkecimpung di bidang batik kurang membanggakan. Generasi muda lebih tertarik bekerja di pabrik, atau menjadi penjaga toko dan menjadi kaum urban di kota besar.
Industri batik di Lasem merupakan usaha home industry yang mengandung nilai ketahanan budaya yang strategis dilihat dari sudut integrasi antar etnis, agama yang ada di daerah tersebut sebab baik dari motif yang diciptakan, proses produksi yang ada merupakan ekspresi dari adanya simbiose multualistis antara warga pribumi dan warga keturunan tionghoa, Oleh karena itu Lasem yang mempunyai sejarah asimilasi budaya yang sangat panjang merupakan area yang dapat digunakan pemerintah untuk model pembauran antar etnis dan agama berbasis kerajinan rakyat bagi daerah lain di Indonesia.
Dari aspek visual batik Lasem merupakan ekspresi estetis khas masyarakat Lasem, yang multikultural, sederhana dan egaliter. Motifnya diambil dari lingkungan kehidupan sehari-hari tanpa berpretensi membuat simbolisasi tentang kehidupan ideal. Gaya stilasinya merupakan campuran antara gaya cina dan gaya tradisional jawa. Disain fungsi produknya monoton tidak ada kreativitas, demikian juga dalam penggunaan bahan baku dan pewarna tidak ada variasi sama sekali. Kondisi kreativitas yang stagnan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor usia pengusaha yang relatif sudah tua, faktor minimnya pengetahuan tentang disain, dan juga faktor ekonomi, takut rugi bila membuat barang kreasi baru.
Saat ini sudah tidak ada pembuat batik yang menggunakan warna alam, semua telah mengunakan bahan kimiawi. Sehingga penggunaan bahan alam, seperti buah mengkudu sebagai penghasil warna merah darah, warna khas Lasem, adalah hanya legenda. Sebagai gantinya warna merah darah dibuat dengan menggunakan napthol alat-alat yang digunakan untuk produksi yang berupa canting, gawangan, kenceng, dan lain lain merupakan alat-alat tradisional.
Lasem khususnya dan Rembang pada umumnya memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Posisi geografis, budaya yang hidup di masyarakat dan sejarah kota yang panjang dan unik memungkinkan Lasem dan Rembang untuk memiliki kelengkapan dan keragamam obyek wisata yang tidak bisa dimiliki daerah lain.
Semua obyek wisata yang ada saat ini sangat mudah untuk diakses wisatawan. Hal ini karena sarana dan prasarana yang telah tersedia dengan cukup, Hanya sayangnya sampai saat ini pemerintah daerah belum mempunyai pusat informasi pariwisata yang memadai yang mudah diakses sehingga dapat memudahkan masuknya Rembang dan Lasem dalam paket wisata yang berskala nasional dan internasional. Batik Lasem yang memiliki ciri khas dan sudah terkenal sejak lama belum diolah menjadi obyek wisata yang menarik. Demikian juga sebaliknya produk batik Lasem belum diolah menjadi produk yang mampu menyedot wisatawan.
Untuk itu pendekatan revitalisasinya seni rupa tradisinya perlu dilakukan melalui dua aspek yaitu aspek fisik dan non fisik.
Aspek fisik
1.  Motif dan selera estetik yang ada saat ini perlu dipertahankan sambil mencari alternatif pengembangannya.
2.   Memperkenalkan tenik pengerjaan yang lebih efisien dan efektif serta penggunaan alat bantu produksi yang mampu meminimalisir cacat produksi dengan tidak meninggalkan pertimbangan kuantitas sumber daya manusia setempat yang dapat terlibat dalam industri ini, sehingga kehadiran teknologi tersebut betul-betul dapat meningkatkan ekonomi rakyat Bukan sebaliknya menciptakan pengangguran. Salah satu alat yang perlu dintrodusir ke para pengusaha adalah feeder. Alat ini berfungsi sebagai bak pewarna yang menggunakan 3 rol. Dengan menggunakan feeder maka kain tidak perlu dilipat bila dimasukkan dalam bak pewarna yang bisa menyebabkan pecahnya malam/lilin. Penggunaan 3 buah rol dalam feeder dimaksudkan agar warna lebih merata serta air yang terserap kain saat masuk bak dapat terperas lebih tuntas; dengan demikian penggunaan feeder ini selain untuk menghindari pecahnya rnalam juga untuk menghemat cairan obat pewarna.
3.    Meningkatkan diverifikasi produk batik dalam berbagai fungsi sehingga tidak monoton sambil mempertimbangkan kebutuhan pasar. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah bekerja sama dengan pengrajin bordir, pengrajin tas dan dompet kulit yang ada di sekitar Lasem untuk memanfaatkan sisa kain sebagai bahan pendukung pembuatan souvenir yang memiliki ciri khas daerah sehingga dapat mendukung pariwisata di Lasem, Rembang maupun Indonesia pada umumnya.
4.    Meningkatkan promosi agar batik Lasem dapat lebih dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat luas.
Aspek Non fisik
1.   Mempertahankan sistem conveyor sambil memberi motivasi bagi pengrajin untuk dapat meningkatkan diri menjadi pengusaha.
2.  Di lingkungan pengusaha, cluster atau kelompok kerja yang sudah ada lebih diberdayakan dengan organisasi yang sudah terbentuk tersebut maka diharapkan transfer pengetahuan akan dapat berjalan lebih efisien dan efektif, serta mempermudah pengusaha untuk mengatasi kendala.
3.  Meningkatkan pengetahuan mereka tentang bahan, teknik dan disain yang sesuai antara kondisi mereka dan tuntutan pasar secara sustainable.
4.  Meningkatkan pengetahuan manajemen. Banyaknya pengrajin yang tidak memiliki pembukuan yang baik menjadi kendala untuk melakukan kerja sama dengan pihak kreditor.