• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Category: 2008

THE FORMATION OF CONSUMER LOYALITY TOWARDS MALLS MODERATED BY GENDER, INCOME AND EDUCATION

Key words: consumer loyalty, relationship marketing, consumer commitment, consumer trust

Tulus Haryono, Dwi Hastjarjo KB.
LPPM-UNS, Penelitian, DIKTI, Penelitian Fundamental, 2008.

This study was meant to explain the relation between relationship marketing, consumer trust, consumer commitment, and consumer loyalty moderated by gender, income, and education. The data were collected through surveys to consumers loyal to Malls. This was done to ensure that the collected data had a predicting accuracy that is reliable to explain the phenomenon of consumer loyalty.
The number of sample was 419 consumers who came online casino and shopped to Malls by purposive sampling technique. The number of sample was determined by the  quality of the given information and the reliability of the minimum number of sample required by the selected statistic method.
Based on the number of the sample, the tests of sample validity and reliability showed that the result was that the sample was valid and reliable. The data analysis was carried out by using “Structural Equation Model” (SEM).
The findings of the present study shows that: (1) there is a positive relation between relationship marketing and consumer trust, (2) there is a positive relationship between relationship marketing and consumer commitment, (3) there is a positive relation between consumer trust and consumer commitment, (4) there is a positive relation between consumer commitment and consumer loyalty, and (5) there is a positive relation between relationship marketing and consumer loyalty.

Analisis Pengaruh Pengungkapan Informasi Pertanggungjawaban Sosial (Corporate Social Reponsibility) terhadap Firm Value pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia

Keywords: CSR disclosure, firm value, size company, financial leverage, institutional ownership

Sri Suranta,
LPPM-UNS, Penelitian, DIKTI, Penelitian Fundamental, 2008.

The aim of this research is to get empirical evidence of effect corporate social responsibility disclosure to firm value. For the purpose, it used manufacturing companies that listing at BEI in 2007 are as samples using purposive sampling. The hypothesis is tested by multiple regression analysis.
There are 146 samples, only 134 samples are complete. Before hypothesis testing, data is examined by classical assumption. Using multiple regression analysis, the hypothesis is supported by empirical data. It means that firm value is affected by corporate social responsibility disclosure. This research use control variables, i.e. company size, financial leverage and institutional ownership. Company size and financial leverage are supported by data. Meanwhile, institutional ownership isn’t.

Peningkatan Mutu Produk Kain Batik Melalui Pengembangan Desain, Rekayasa Alat dan Manajemen

Kata kunci : kain batik, motif dan desain batik, UKM.
Handayani, Sarah Rum; Wardani, Dewi Kusuma; Sujono, Agus; Ariani, Sri Retno Dwi *)
LPPM UNS, Pengabdian  Kepada Masyarakat, Dikti, Vucer Multi Tahun  (VMT), 2007.

Permasalahan yang dipilih dalam pengabdian kepada masyarakat adalah “usaha produk kain batik”. Dasar pertimbangan antara lain (1) Indonesia merupakan salah satu Negara eksportir produk batik, dan salah satu wilayah  potensial memproduksi kain batik adalah Sragen yang salah satu sentranya di Kecamatan Masaran Desa Pilang. (2) Sentra industri batik ini berjarak dekat (25 km) dengan kampus UNS. (3) Produk kain batik tulis khususnya dengan pewarna alam atau tumbuh-tumbuhan saat ini mulai digemari oleh pasar luar negeri, namun demikian tidak begitu banyak pengrajin yang menggeluti bidang usaha batik alam ini. Hal ini disebabkan karena proses produksi yang rumit, pengrajin harus memiliki keterampilan kreatif, melalui inovasi desain. Usaha batik tulis alam semacam ini yang tergolong langka, sangat perlu memperoleh pendampingan.
Menurut survei lapang kami lakukan pada bulan Januari-Maret  2004, di Desa Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, terdapat 35 unit usaha batik. Usaha batik yang tergolong besar (jumlah tenaga kerja > 100 orang) ada dua yaitu “Brotoseno” dan “Dewi Brotojoyo”, usaha batik yang tergolong menengah (jumlah tenaga kerja 20-100 orang) ada tiga yaitu milik Hadi Marjuki, Sartono, dan Harjono. Sedangkan usaha batik yang tergolong kecil berjumlah 9, tenaga kerja 2-20 orang) lebih kurang sebanyak 30 unit, yang telah kami ketahui antara lain milik Sudarsono, Ngadiyono, Sugiono, Muslih, Slamet Warisno, Al Mubasir, Alwi Prapto Suwito, Hadisaji, Muhamad Ali , Sumardi, Slamet Riyadi, Kamah, Sadino, Sukino, Munawar, Ramin, Sugiono, Siman. Dari beberapa UKM yang ada, kami pilih UKM: Ngadiyono dan M Sahid.
Pada uraian diatas, terdapat perbedaan data yang mencolok mengenai jumlah unit batik di Desa Pilang antara data dari Deperindagkop Sragen dengan data dari survei kami. Data dari Deperindagkop menyatakan bahwa di  Desa Pilang ada 900 unit batik, namun menurut survei kami terdapat 35 unit. Perbedaan ini semata-mata disebabkan oleh perbedaan pengertian mengenai usaha. Menurut hitungan kami, usaha adalah pengrajin yang memproduksi dan memiliki tenaga kerja lebih dari 2 orang. Sedangkan menurut Diperindagkop mungkin berdasarkan pengertian bahwa usaha adalah orang yang melakukan usaha batik meskipun online casino dilakukan sendiri atau cukup home industry. Namun demikian, data jumlah tenaga kerja batik di Pilang memang sebanyak 1500-an orang.
Usaha mitra kami sebanyak 2- UKM, yaitu UKM-1 milik Ngadiono, UKM-2 milik M. Sahid. UKM-1 berlokasi di Desa Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, sedangkan  UKM-2 berlokasi di Kabupaten Karanganyar. Jarak antara UKM-4 dan UKM lainnya lebih kurang 25 km. Dua UKM memiliki persamaan yaitu memproduksi kain batik, namun mereka memiliki perbedaan yaitu pada jenis produknya. UKM-1 memproduksi kain batik dengan teknik cetak saja dengan menggunakan bahan warna kimia, UKM-2 kain batik eksklusif dengan teknik tulis saja dan  menggunakan bahan warna alam (akar, kulit kayu, buah, biji-bijian, dedaunan, dan sebagainya).
Tujuan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah: secara umum untuk meningkatkan mutu produk kain batik dan efisiensi proses produksinya, melalui pengembangan desain, perbaikan mesin, dan pembenahan manajemennya. Sedangkan tujuan khususnya antara lain : (1) mengembangkan desain produk meliputi pengembangan desain untuk batik proses cetak sebanyak 5 motif dan pengembangan desain untuk proses tulis dengan pewarna alam, juga pengembangan pewarnaan. Selain warna-warna tradisi yaitu warna “sogan” dan “wedelan” dibuat warna-warna yang lebih cerah. (2) Merekayasa peralatan proses produksi meliputi alat cetak (screen) batik, mesin feeder (mesin pewarna kain) sebanyak satu model, dan bak mordanting stainless steel. (3) Membenahi lay out pabrik, dan (4) Membenahi manajemen keuangan dan pemasaran.
Metode pengabdian kepada Masyarakat yang digunakan dalam implementasi kegiatan ini adalah : metode observasi, diskusi, kerja bengkel, operasional pabrik, dan pendampingan secara individual.
Hasil pengabdian kepada masyarakat secara umum menunjukkan bahwa : melalui penerapan Ipteks  pada pengembangan desain- desain motif batik cetak yang dilakukan oleh UKM-1, dalam pengerjaan penggambaran desain secara manual diatas kertas  kalkir yang kemudian diproduk pada plangkan  cetakan (screen) sebanyak lima motif dapat divisualisasikan dengan baik, meski harus ada penyempurnaan.  Demikian juga desain motif batik tulis, master desain dibuat dibuat sebanyak 10 desain merupakan modifikasi desain menunjukkan adanya karya motif batik yang inovatif.
Rekayasa mesin feeder yang telah dibuat mampu mengurangi gesekan antara mesin dan kain yang akan diwarna. Mesin ini mampu menghemat bahan pewarna, artinya meskipun UKM hanya memiliki bahan pewarna sedikit atau sisa bahan pewarna masih ada dalam mesin, zat pewarna masih tetap dapat digunakan. Mesin dapat dioperasikan dengan motor dan dibutuhkan  satu orang karyawan, sehingga dapat  mengurangi biaya produksi. Mesin dapat menghasilkan pewarnaan lebih rata, pewarnaan cepat kering, dan hasil tampilan warna pada produk lebih berkualitas.
Rekayasa bak mordan dari stainless steel memberi dampak sisa warna tidak mudah menempel.
Lay out pabrik / alur proses produksi nampak lebih tertata. Pembenahan pembukuan dan manajemen pemasaran secara dasar mulai diterapkan, mengumpulkan nota pembelian  dan melakukan pembukuan pengeluaran.
Dari hasil uji coba pemasaran kain batik dengan motif baru hasil dari pengembangan desain, kain batik dapat diterima dan laku di pasaran. Pemasaran jenis produk yang berupa kain panjang, kain hem, dan selendang dapat berjalan lancar. Wilayah pemasaran UKM-1: Solo, Yogya, Semarang, dan mulai merambah ke Jakarta serta Bali. Sedangkan untuk batik eksklusif masih tetap memenuhi pemasaran pada agen-agen dan konsumen manca negara khususnya Jepang, juga merambah pesat ke negara-negara lain seperti: Polandia, Belanda, Eropa, Jakarta dan Bali.

Model Pelestarian dan Pengembangan Kemampuan Berbahasa Jawa Krama di Kalangan Generasi Muda Wilayah Surakarta dan Sekitarnya

Kata kunci : bahasa Jawa, konteks sosio-kultural, kompetensi berbahasa Jawa.

Subroto, Edi; Dwiraharjo, Maryono; Setiawan, Budhi*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pasca, 2007

Temuan Penelitian Tahun I (2006-2007) ini, berdasarkan jawaban responden terhadap instrumen penelitian yang diteskan, dan wawancara mendalam dengan informan, yaitu para pengamat budaya dan Bahasa Jawa (BJ), para guru Bahasa Jawa, serta para Generasi Muda Jawa (GMJ), dapat dinyatakan sebagai berikut:
1.    Pemahaman dan penguasaan GMJ akan pasangan kosa kata Ngoko (Ng), Krama (Kr), dan Krama Inggil (Kr I) seperti kosa kata mangan (Ng), nedha (Kr), dhahar  (Kr I) ‘makan’ sebagian terbesar adalah sangat kurang (hal ini tercermin melalui skor rerata responden atas instrumen (tes) tersebut ≤ 40).
2.    Demikian pula kemampuan GMJ dalam hal berbahasa Jawa Kr dan Kr I tergolong sangat kurang. Dinyatakan dalam instrumen bahwa kemampuan ber-BJ Kr dan Kr I itu atau unggah-ungguhing basa diterapkan secara konteks sosio-kultural (dengan siapa seseorang berbahasa, bagaimana status sosialnya, siapa yang dibicarakan, di mana pembicaraan terjadi, bagaimana situasinya).

3.    Temuan di atas diperkuat oleh semua informan (para pemerhati budaya dan BJ, para guru BJ). Mereka menyatakan bahwa para GMJ sekarang sudah tidak dapat ber-BJ Kr dan Kr I secara benar dan tepat. Bahkan mereka menyatakan banyak orang Jawa dewasa yang tidak mampu ber-BJ Kr dan Kr I secara benar dan tepat. Bahkan ada guru BJ yang berkata “Nalika semanten kula nembe gerah” ‘Waktu itu saya baru sakit’. Faktor penyebab yang mereka kemukakan adalah: a) di lingkungan rumah tangga orang tua tidak memperhatikan dan membinanya; b) kelompok masyarakat (Dharma Wanita, PKK, RT dan RW) tidak pernah punya perhatian; c) pengajaran BJ di sekolah juga tidak berhasil karena kebanyakan guru BJ tidak memiliki kompetensi sebagai pengajar BJ (kebanyakan guru asal mau).
4.    GMJ waktu diwawancarai dengan menggunakan bahasa Kr dan Kr I, dia menolak karena tidak dapat berbicara bahasa Kr dan Kr I dengan benar atau takut salah dan meminta wawancara dilaksanakan dengan Bahasa Indonesia (BI). Faktor penyebab yang mendasarinya adalah karena dalam kehidupan sehari-hari tidak terbiasa menggunakan BJ Kr dan Kr I dengan baik dan benar. Jadi mereka hanya mengenal kosa kata BJ Kr dan Kr I beberapa saja.
5.    Faktor penyebab mengapa GMJ tidak bisa ber-BJ dengan tepat, karena a) kebanyakan GMJ memang tidak mengenal dan menguasai secara baik dan benar pasangan kosa kata Ng, Kr, dan Kr I; b) mereka juga rata-rata menyatakan tidak tahu bagaimana menerapkan kosa kata Kr dan Kr I dalam berbahasa Ng, Kr, dan Kr I (tidak tahu unggah-ungguhing basa); c) mereka tidak terbiasakan menggunakan ragam Ng, Kr, dan Kr I dalam kehidupan sehari-hari di ranah keluarga dan juga masyarakat; d) para orang tua membiarkan anaknya ber-BI dalam kehidupan sehari-hari karena hal itu dapat menunjang kegiatan belajarnya di sekolah; e) bahkan GMJ di beberapa daerah tertentu mengatakan bahwa BJ dan budaya Jawa mendapat serangan hebat dari budaya asing; dan f) guru BJ di sekolah-sekolah rata-rata tidak memiliki kompetensi di bidangnya.

Pengembangan Model Pelatihan dan Materi Pelatihan Penerjemahan Berbasis Kompetensi Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Penerjemah di Surakarta dan Yogyakarta.

Kata kunci :      interpreter, teks bahasa Inggris, penerjemahan berbasis kompetensi.

Nababan, Mangatur; Ngadisi; Santoso, Riyadi*)
Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Penelitian tahun kedua ini merupakan lanjutan dari penelitian tahun pertama.  Hasil analisis data pada penelitian tahun pertama menunjukkan hal-hal berikut. Pertama, para penerjemah di dua wilayah tersebut mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup memadai untuk menjadi penerjemah. Namun, kemampuan mereka dalam memahami teks bahasa Inggris yang dibangun dari kalimat-kalimat yang kompleks masih kurang. Keterlibatan mereka dalam pengembangan profesi sangat minim. Kedua, pengetahuan mereka tentang konsep dan proses penerjemahan sangat memadai meskipun pengetahuan tersebut tidak selalu mereka terapkan pada saat menerjemahkan. Dengan kata lain, terjadi kesenjangan antara pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Ketiga, pendekatan penerjemahan yang mereka terapkan cenderung bersifat bottom-up, yang ditandai oleh  kurangnya pertimbangan mereka perihal tujuan terjemahan, sasaran terjemahan. Keempat, karena pendekatan yang mereka gunakan cenderung bersifat bottom-up, pemahaman teks bahasa sumber secara menyeluruh sebelum penerjemahan dimulai cenderung mereka abaikan. Sebagai akibatnya, acapkali timbul kesalahan dalam menafsirkan teks bahasa sumber, yang pada gilirannya menimbulkan kesalahan dalam memilih kata, istilah, dan konstruksi kalimat dalam terjemahan mereka. Kelima,  para penerjemah belum memahami sepenuhnya konsep keberterimaan (acceptability) dan keterbacaan. Padahal, kedua aspek tersebut merupakan bagian atau sifat penting dari terjemahan yang berkualitas. Keenam, strategi penerjemahan yang mereka miliki masih sangat terbatas dalam memecahkan ketidaksepadanan baik pada tataran kata, di atas tataran kata, padanan gramatikal, padanan tekstual maupun pada tataran pragmatik.
Pada akhir tahun pertama dapat dikembangkan prototip model pelatihan dan model materi pelatihan penerjemahan online casino berbasis kompetensi. Pengembangan tersebut dilakukan melalui studi pustaka, observasi, lokakarya, dan Focus Group Discussion (FGD). Prototip model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan tersebut kemudian dikembangkan dan diujicobakan. Dalam kaitan itu, penelitian tahun kedua (Tahap II)  ini secara khusus bertujuan (1) untuk mengetahui  kebutuhan-kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi oleh penerjemah di Surakarta dan Yogjakarta dalam meningkatkan kompetensi mereka di bidang penerjemahan (2) untuk mengetahui tanggapan-tanggapan stakeholders penerjemahan (pakar penerjemahan, dosen penerjemahan, penerbit) perihal model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan, yang paling tepat untuk diterapkan, dan (3) untuk menghasilkan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan, yang didasarkan pada latar belakang dan kompetensi penerjemah.
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif. Sumber datanya berupa dokumen (teks bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia), stakeholders penerjemahan (yang terdiri atas pakar penerjemahan, dosen penerjemahan, penerbit) dan penerjemah yang bekerja di biro-biro penerjemahan di Surakarta dan Yogjakarta. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner, wawancara mendalam, dan analisis isi (content analysis). Informan penelitian dicuplik dengan menerapkan criterion-based sampling technique.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data penelitian, peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, para penerjemah pemula lebih cenderung membutuhkan peningkatan kompetensi kebahasaan dalam ruang lingkup sintaksis. Sementara itu, para penerjemah tingkat lanjutan lebih menekankan perlunya kompetensi kebahasan pada tataran tekstual dan kompetensi budaya. Para penerjemah tingkat pemula dan tingkat lanjutan juga membutuhkan kompetensi strategi dan transfer. Kedua, ketiadaan sarana dalam bentuk pelatihan penerjemahan merupakan faktor penghambat utama yang dialami para penerjemah pemula dalam meningkatkan kompetensi penerjemahan mereka. Faktor lainnya adalah kurang aktifnya mereka dalam mengikuti pelatihan-pelatihan yang relevan dengan penerjemahan, seperti pelatihan menulis karya ilmiah. Sebaliknya, para penerjemah tingkat lanjutan tidak begitu mengalami kesulitan dalam meningkatkan kompetensi penerjemahan mereka kecuali dalam hal persoalan ungkapan-ungkapan budaya dan istilah teknis serta referensi tentang istilah teknis. Ketiga, secara umum model pelatihan yang ditawarkan ditanggapi secara positif oleh stakeholders bahwa model pelatihan bagi penerjemah pemula sebaiknya bergerak dari tataran mikro ketataran makro (bottom-up) dan model pelatihan bagi penerjemah tingkat lanjutan bergerak dari tataran makro ke mikro (top-down) dengan mempertimbangkan derajat kesulitan dan  keberagaman teks yang akan diberikan sebagai bahan latihan dengan tujuan untuk  mendorong peningkatan subject matter competence mereka.