• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Category: 2008

Pengembangan Batik di Lasem Sebagai Upaya Revitalisasi Seni Rupa Tradisional dan Peningkatan Ketahanan Budaya Berbasis Pariwisata.

Kata kunci : batik Lasem, revitalisasi seni rupa tradisional, pariwisata.

Prabowo, Tjahjo; Witurahmi, Sri; Ismaryati*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah bersaing Lanjutan, 2007.

Tujuan umum penelitian adalah untuk menghidupkan kembali industri batik di Lasem yang produknya mampu mengambil peran aktif dalam Sapta Pesona Pariwisata. Sedangkan tujuan khusus pada tahap kedua ini adalah  membuat model pengembangan batik Lasem ditinjau dari  motif, fungsi dan alat produksi sera menejemen keuangannya.
Metode penelitian multi years yang digunakan pada tahap pertama bersifat eksplorasi Etnografis.sedang untuk tahap dua ini adalah lebih banyak bersifat aplikatif.  Data digali dari sumber primer dan sumber sekunder dengan teknik observasi, wawancara dan analisis dokumen diolah melalui FGD (focus group discussion) untuk mendapatkan satu model yang cocok bagi pelaku batik dan steakhokdernya. Sumber primer terdiri dari para informan yang berprofesi sebagai pengusaha batik, buruh batik, unsur pemerintah dan pedagang batik.
Untuk mengembangkan usaha batik lasem yang masih cukup profitable ini model yang paling tepat adalah  bukan dengan mekanisasi murni alat produksi dengan padat modal akan tetapi harus memperhatikan latar belakang kultural, potensi masyarakat serta sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya yang kemudian di emplementasikan dalam disain motif dan fungsi produk yang dihasilkan. Alat batik yang berifat mekanis sifatnya hanya sebagai alat bantu produksi bukan alat utama yang menghasilkan batik. Untuk itu model yang tepat adalah mengkombinasikan antara mesin dan hand made.
Perkembangangan Pariwisata Kabupaten Rembang merupakan pasar potensial bagi usaha revitalisasi batik Lasem asal didukung dengan model menejemen yang baik yang dilakukan oleh pengusaha batik.

Pengaruh Sosial Budaya Ekowisata Berbasis Masyarakat Terhadap Masyarakat Lokal di Taman Nasional Gunung Halimun.

Kata kunci: pariwisata, ekowisata berbasis masyarakat, konsep pembangunan berkelanjutan.

Ernawati, Dyah Bekti; Agus, Sri; Sugiarti, Rara; Setyaningsih, Wiwik*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007

Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun memiliki kekurangan dan kelebihan serta kendala-kendala untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat lokal. Untuk itu disusun model pengembangan ekowisata berbasis masyarakat melalui wawancara dan diskusi kelompok yang melibatkan para ahli dan perwakilan atau representatives yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Model pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun yaitu model pengembangan yang menggarisbawahi pentingnya pengembangan yang mengacu kepada konsep pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang berwawasan pembangunan berkelanjutan, pengembangan ekowisata berskala kecil, pengembangan ekowisata berbasis keunikan potensi lokal, pengembangan ekowisata berbasis kemitraan, serta pengembangan ekowisata berbasis penguatan kelembagaan masyarakat.
Dalam upaya mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat, pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun perlu diarahkan untuk menciptakan keseimbangan dalam memenuhi kepentingan generasi sekarang dan generasi yang akan datang tanpa mengurangi nilainya. Konsep ini dikenal dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun sebagai kawasan ekowisata yang saling mendukung secara timbal balik (win-win relationship) dengan sektor-sektor terkait lainnya seperti pertanian, lingkungan dan sosial budaya, harus didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan pada dasarnya mengutamakan pelestarian fungsi lingkungan alam dan budaya secara berkesinambungan untuk dapat dinikmati lintas generasi. Pariwisata merupakan sektor yang dipengaruhi oleh dan mempengaruhi seluruh aktivitas sosial-ekonomi sehingga diperlukan adanya komitmen dan tanggung-jawab terhadap pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor pariwisata dan seluruh sektor lainnya yang saling berhubungan. Dalam mengiplementasikan konsep pembangunan berkelanjutan khususnya di bidang penataan ruang diperlukan penyadaran dan pemahaman bahwa pembangunan pariwisata harus didukung oleh semua elemen pemangku kepentingan atau stakeholder dan masyarakat secara luas.
Adapun strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan objek dan daya tarik ekowisata, melakukan diversifikasi produk ekowisata (pendekatan 4-A), menguatkan kelembagaan yang sudah dibangun oleh masyarakat dalam upaya mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat, menjalin kemitraan dengan sektor atau unsur terkait, serta melakukan pemasaran dan promosi produk ekowisata secara bertanggung jawab (responsible marketing).

Model Revitalisasi Seni Batik Klasik Sebagai Upaya Untuk Melestarikan Warisan Budaya dan Mendukung Pengembangan Pariwisata di Surakarta

Kata kunci: revitalisasi batik, warisan budaya, motif batik

Sariyatun; Sugiarti, Rara; Subiyantoro, Slamet*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan model revitalisasi seni Batik Klasik melalui Interpretasi sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya dan mendukung pengembangan pariwisata di Surakarta. Sasaran jangka pendek yang hendak dicapai adalah memberikan pendampingan yang bersifat motivatif-alternatif dengan upaya menginterpretasi nilai-nilai filosofis batik sebagai upaya melestarikan batik sebagai warisan budaya dan memberdayakan batik sebagai pendukung pariwisata budaya.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka penelitian ini direncanakan dalam tahapan-tahapan selama tiga tahun. Tahap pertama (th 2006) di lakukan eksplorasi motif dan makna filosofis batik klasik serta pemahaman masyarakat terhadap motif dan makna filosofos batik klasik sebagai acuan untuk memilih sarana interpretasi.Tahap kedua (tahun 2007) merumuskan model revitalisasi seni batik klasik berbasis interpretasi. Tahap ketiga (tahun 2008) adalah mengimplementasikan dan menyempurnakan model revitalisasi seni batik klasik berbasis interpretasi sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya dan mendukung pengembangan pariwisata di Surakarta.
Metode penelitian yang diterapkan pada tahun ke-2 menitikberatkan pada penemuan model serta pemantapan model  revitalisasi seni batik klasik berbasis interpretasi. Perumusan model pada tahun ke-2 didasarkan pada pendekatan partisipatif di mana seluruh elemen pemangku kepentingan partiwisata (stakeholder) di Surakarta turut  berperan serta dalam proses penyusunan model. Metode yang digunakan dalam proses perumusan model adalah: 1) Pemaparan (Explanatory), 2) Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion). 3) Lokakarya dilaksanakan guna memperoleh masukan dan informasi dari berbagai pelaku (stakeholder) pariwisata dalam rangka membuat rancangan model   revitalisasi seni batik klasik. 4) Wawancara mendalam (in-depth interview).
Hasil penelitian tahun ke 2 adalah  Model revitalisasi seni batik klasik melalui interpretasi atau   interpretasi batik berbasis pemandu wisata ( Batik Interpretation based on the empowerment of guides.). Model ini menggaris bawahi pentingnya pemberdayaan  pemandu wisata dalam memberikan penjelasan mengenai motif dan makna filosofis  batik klasik kepada wisatawan agar wisatawan dapat memahami, menghargai dan kemudian ikut berpartisipasi dalam melestarikan serta memberikan apreasi  terhadap batik klasik. Oleh karena itu model ini  harus didukung oleh SDM (pemandu wisata) yang berkualitas yang memiliki pengetahuan budaya, khususnya mengenai batik, serta memiliki kemampuan berbahasa yang baik sehingga dapat menciptakan komunikasi yang harmonis dengan wisatawan.
Revitalisasi seni batik klasik melalui interpretasi akan bermanfaat antara lain: 1) menciptakan kesan tempat (sense of place); 2) menjadi ujung tombak promosi obyek dan daya tarik wisata sehingga mendukung pengembangan pariwisata daerah, khususnya pariwisata Kota Surakarta; 3) membuka lapangan pekerjaan di bidang pariwisata bagi penduduk setempat; 4) menciptakan multiplier effect sehingga dapat mengembangkan perekonomian wilayah; dan 5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sastra Anak Sebagai Wahana Pengenalan dan Pengasuhan Ideologi : Sebagai kajian Wacana.

Kata kunci : dongeng, sastra anak, pengenalan ideologi.

Santosa, Riyadi; Djatmika; Primasita, Fitria Akhmerti*)
Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Penelitian, Dikti, Fundamental Lanjutan 2007.

Penelitian ini mempelajari cara bercerita guru TK dan orang tua kepada murid dan anaknya dalam rangka mengenalkan dan mengasuh ideology kepada murid TK dan anaknya.
Penelitian ini juga merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Bersifat deskriptif karena penelitian ini berusaha menggambarkan cara bercerita guru TK dan orang tua kepada murid dan anaknya melalui struktur ceritanya, pola turn-taking-nya, pola adjacency pair-nya, dan model scaffolding-nya. Dari struktur cerita dan pola-pola ini dapat diketahui cara pengenalan dan pengasuhan ideology kepada murid dan anaknya. Kemudian penelitian ini bersifat kualitatif pertama karena penelitian ini menggunakan data-data yang bersifat kualitatif seperti teks cerita, teks kuesioner, dan teks hasil wawancara, yang tidak diangkakan untuk mencari relasinya secara statistik. Tetapi teks tersebut dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional, Literasi, Analisis Percakapan, dan Pemerolehan Bahasa.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa secara umum struktur teks cerita terdiri dari brainstorming, inti cerita, dan tanya jawab (moral) cerita. Tetapi masih ada yang tidak menggunakan brainstorming dan tanpa Tanya jawab. Pola turn-taking pada penelitian ini umumnya masih didominasi oleh guru dan orang tua yang mencerminkan komunikasi satu arah, walaupun sudah banyak yang mendistribusikan turn-taking-nya kepada murid dan anak, yang mencerminkan komunikasi dua arah. Ini Artinya secara sadar atau tidak guru dan orang tua sebagian telah membagikan powernya kepada mereka. Pola adjacency pair yang ada dalam penelitian ini masih didominasi pertanyaan-jawaban dan variasinya, walaupun ada beberapa yang lain seperti pernyataan-persetujuan/penolakan, pengulangan, interupsi dan lain-lain. Kemudian model scaffolding yang dibangun di dalam data penelitian ini masih belum maksimal, karena masih belum menyelesaikan persoalan pemahaman nilai-nilai ideologi dan belum bisa menuntun menyelesaikan struktur teks cerita. Dengan demikian pengasuhan nilai ideologis kepada anak belum maksimal.

Pengembangan Kebijakan Hukum Pidana Untuk Menanggulangi Pembajakan Perangkat Lunak Komputer Sebagai Kejahatan Ekonomi Bidang Hak kekayaan Intelektual.

Kata kunci : hak kekayaan intelektual, penegakan hukum, perangkat lunak komputer, kebijakan kriminal.

Supanto; Purwandoko, Prasetyo Hadi; Harjono; Setiono*)
Fakultas Hukum UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Tujuan penelitian  untuk  mengidentifikasi tipe kejahatan mengenai pembajakan perangkat lunak komputer sebagai tindak pidana  bidang HaKI, menjelaskan upaya-upaya penanggulangannya, dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi  pelaksanaan penegakan hukum dalam penanggulangan kejahatan di bidang  HaKI, khususnya pembajakan perangkat lunak komputer. Metoda penelitiannya adalah  sebagai penelitian deskriptif dan penelitian hukum normatif  maupun sosiologis, sehingga pendekatannya  socio-legal, dan pendekatan yuridis-kriminologis.  Pada Tahun II ini terutama  menggunakan sumber data primer, dengan informan ditentukan secara purposive, ditunjang dengan bahan-bahan hukum. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan studi kepustakaan, juga  discussion group. Teknik Analisis dengan melakukan inventarisasi, identifikasikan, penyusunan asas-asas hukum dan penemuan doktrin dilakukan analitis-induktif. Di samping itu, merekontruksi-teoritik dan data dianalisis dengan pendekatan kualitatif.  Simpulan dari kajian yang diperoleh bahwa tipe Kejahatan  Pembajakan Perangkat Lunak Komputer sebagai tindak pidana  bidang HaKI dapat disebutkan hard-disk loading, End-user copying, Mischanelling, Counterfeiting, internet piracy. Upaya penanggulangan kejahatan terwujud dalam kegiatan penegakan hukum tidak hanya menggunakan hukum pidana, juga memanfaatkan berbagai sarana lain (kebijakan non penal) secara terpadu. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan penegakan hukum dalam penanggulangan kejahatan pembajakan perangkat lunak komputer, dilihat dari perwujudan bekerjanya Sistem Peradilan Pidana (SPP) yang  melibatkan aparat penegak hukum, dibedakan faktor interen dan faktor eksteren dalam penegakan hukum.  Faktor interen disebutkan adanya faktor perkara yang ditangani, faktor aparat penegak hukum, faktor hukum itu sendiri, dan faktor fasilitas. Adapun faktor eksteren menempatkan  lembaga peradilan dengan mekanisme SPP yang merupakan sub sistem yang berada dalam sistem sosial yang lebih besar, bersama dengan subsistem-subsistem yang lain, yakni ekonomi,  politik,  sosial, dan budaya.