• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Category: 2oo9

KARAKTERISASI FISIK, MEKANIK DAN KOROSI PENGGUNAAN MATERIAL TRANSISI PADA PENGELASAN LOGAM TAK SEJENIS ANTARA BAJA TAHAN KARAT DAN BAJAKARBON

Kata kunci: material transisi, sambungan las logam tak sejenis

Triyono, M. Noer ilman, Jamasri, Wai Wahdan
LPPM UNS, Penelitian, KRT, Program Insentif Riset Dasar, 2009
Kereta api adalah angkutan massal yang saat ini sedang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Untuk memenuhi anggaran pengadaan armada kereta api, dilakukan beberapa penghematan antara lain adalah dengan substitusi material yang lebih murah, sebagai contoh frame gerbong kereta api yang biasanya terbuat dari baja tahan karat, diganti dengan baja karbon sedangkan sheeting tetap menggunakan baja tahan karat sehingga terjadi kasus sambungan logam tak sejenis. Sambungan ini perlu diteliti karakterisasinya dan juga perlu mencari solusi dengan menggunakan material transisi. Sampai saat ini telah dilakukan evaluasi proses pengelasan spot weld, kekuatan tarik/geser, tegangan sisa dan struktur makro/mikro dan optimasi penggunaan material transisi. Hasil evaluasi antara lain adalah: (a), tidak terjadi perbedaan distribusi temperatur pada proses pengelasan sambungan las logam tak sejenis (SS400-SUS304) dan sambungan las logam sejenis (SUS304-SUS304), (b). permasalahan yang timbul pada sambungan las logam tak sejenis adalah antara lain timbulnya retak, karbida dan oksida pada daerah interface, (c). beban geser maksimum sambungan logam tak sejenis hanya 60% jika dibandingkan dengan beban geser maksimum sambungan logam sejenis, sedangkan beban tarik maksimum sambungan logam tak sejenis hanya 40% jika dibandingkan dengan beban tarik maksimum sambungan logam sejenis, (d). laju korosi sambungan las logam tak sejenis semakin ke dalam semakin tinggi, sedangkan laju korosi sambungan las logam sejenis semakin ke dalam semakin rendah (e). tegangan sisa pada daerah interface adalah resultan dari tegangan tarik akibat beban bending plat yang atas dan tegangan tekan plat yang bawah akibat tekanan elektroda. Pada sambungan las logam tak sejenis tegangan tarik akibat bending lebih besar sehingga tegangan sisa yang terjadi adalah tekan, sedangkan pada sambungan las logam sejenis tegangan tarik akibat bending relatif sama dengan tegangan tekan elektroda sehingga tegangan sisa tekan yang terjadi lebih kecil bahkan cenderung terjadi tegangan sisa tarik, (f) pada tahap optimasi sambungan spot weld logam tak sejenis dengan material transisi , parameter yang paling berpengaruh adalah arus listrik, (g) penggunaan material transisi dapat meningkatkan kekuatan geser sekitar 75% dan kekuatan tarik 100% dibandingkan dengan sambungan tanpa material transisi. Kekuatan geser dan tarik sambungan dengan material transisi hampir sama dengan kekuatan sambungan logam sejenis (SUS304-SUS304), (h) berdasarkan hasil uji geser dan uji tarik, material transisi terbaik adalah J4, dan arus terbaik adalah 4600 A

Usaha Penggemukan Sistem Feed/of Sapi Simental Berbasis Pakan Jerami Padi Fermentasi (Straw Fermented Block=SFB) dan Suplementasi Konsentrat Pemacu Pertumbuhan (Growth Promoting Concentrate=GPC) Pola Integrated Sustainabality Farming System Berwawasan Zero Waste-LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Peternak Kelompok Tani Ternak “Sambi Mulyo” Desa Jagoan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali

Kata Kunci : Penggemukan, sapi, suplementasi

Joko Riyanto
LPPM UNS, Penelitian, KNRT, Insentif Peningkatan Kapasitas IPTEK Sistem Produksi, 2009

Ternak sapi potong telah ditetapkan sebagai komoditas unggulan prioritas penghasil daging di Indonesia (RPPK, 2005). Peternakan sapi di Indonesia sebagian besar merupakan usaha peternakan rakyat, mampu memberikan kontribusi sekitar 80-90 persen terhadap produksi daging nasional. Kontribusi daging sapi sekitar 23 % dari total konsumsi daging terhadap produksi daging nasional. Rata-rata laju peningkatan konsumsi daging sebesar 5,2 % per tahun tidak mampu diimbangi dengan laju peningkatan produksi yang bertumbuh sekitar 2 % per tahun. Sapi Simental-Peranakan Ongole (SimPO) merupakan sapi hasil Backcrossing antara Sapi Simental termasuk exotic breed dengan Sapi Peranakan Ongole merupakan salah satu sapi potong yang banyak digemukkan oleh peternak dengan sistem feedlot. Kabupaten Boyolali yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil susu dari sapi perah FH ternyata menyimpan potensi sebagai gudang sapi potong bagi Propinsi Jawa tengah. Namun menghadapi kendala diantaranya manajemen feedlot masih dilaksanakan dengan cara konvensional, menurunnya tingkat kesuburan lahan hijauan dan kurangnya pasokan sapi bakalan. Hal ini merupakan faktor penyebab kesejahteraan peternak sulit meningkat. Permasalahan tersebut dapat diatasi secara simultan dengan menerapkan pola integrasi tanaman dan ternak berkelanjutan (Integrated Sustainability Farming System) melalui pendekatan Zero Waste-LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture). Program Insentif Percepatan Difusi dan Pemanfaatan Iptek dari Kementrian Riset dan Teknologi Rl ini telah dilaksanakan di kelompok tani-ternak “Sambi Mulyo” Desa Jagoan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali bulan Januari-November 2009. Kelompok beranggotakan 25 orang peternak dengan total Sapi SimPO 74 ekor. Penggemukan sistem feedlot selama 120 hari perperiode atau 3 kali/tahun. Tujuan untuk (a), mendorong percepatan dan perluasan komersialisasi produk inovatif melalui usaha penggemukan sistem feediot sapi SimPO skala peternakan rakyat, (b). meningkatkan kemampuan dan produktivitas usaha peternakan kelompok tani-temak “Sambi Mulyo” Boyolali melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membina usaha yang berkelanjutan, (c) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia lokal di daerah dan mendekatkan lembaga pendidikan tinggi dengan usaha peternakan rakyat, (d). menumbuhkan budaya peherapan hasil penelitian perguruan tinggi secara komersial dan berkelanjutan, (e). membina kerjasama dengan sektor swasta, koperasi dan sektor pemasaran, (f). memberikan peluang pengembangan penelitian dan timbulnya inovasi dengan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, (g). mempercepat proses pengembangan sistem budaya kewirausahaaan (enterpreneurship) di perguruan tinggi, dan (h). memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pupuk di Indonesia khususnya dalam bidang limbah organik berbasis feses dan urin sebagai komoditas baru sumber tambahan pendapatan. Sasaran untuk diproduksi sapi potong jenis Simental jantan yang unggul dan performan berkualitas (efisien penggunaan pakan, laju pertambahan berat badan harian tinggi, biaya pakan rendah) siap jual dan siap potong; penggunaan jerami fermentasi dan suplementasi konsentrat pemacu pertumbuhan (GPC=Growth Promoted Concentrate) berbasis bahan pakan lokal; dihasilkan pupuk organik padat dari feses dan pupuk organik cair dari urin sapi sebagai sumber tambahan pendapatan; usaha feedlot ditingkat pedesaaan berlangsung ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui penerapan Zero Waste System dan LEISA (Low External Input Suistanable Agricultural; dijalin hubungan kerja sama antara dunia usaha penggemukan sapi feedlot dengan pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masysarakat Universtas Sebelas Maret serta Lembaga Pemerintahan dan Swasta; dan terlaksana program Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNS dalam rangka aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi Metode pelaksanaan dilakukan perbaikan manajemen pakan, limbah feses dan urin, perkandangan, pembukuan dan pemasaran. Pelaksanaan program melipuji tahap persiapan (investasi ternak, renovasi kandang, pembelian peralatan, dan bahan baku, pelaksanaan kegiatan sosialisasi program, penyuluhan, pelatihan, proses produksi, penerapan bagi hasil dengan peternak, pengolahan hasil dan pemasaran, monitoring dan evaluasi, pelaporan dan presentasi hasil kegiatan. Kegiatan didasarkan pada penerapan teknologi terhadap proses penggemukan sistem feedlot dan produksi pupuk organik padat (feses) dan cair (urin) berazaskan Zero Waste (usaha peternakan tanpa limbah) melalui pola integrasi pertanian-ternak terpadu berkelanjutan. Keberianjutan pengelolaan program dan/atau asset setelah selesai kegiatan dilaksanakan menggunakan penerapan perjanjian berkelanjutan bagi hasil dalam bentuk kesepakatan kerjasama antara kelompok tani-ternak “Sambi Mulyo” dengan Tim LPPM UNS. Formulas’! bagi hasil hasil pertambahan nilai jual dibagi 70% untuk kelompok temak dan 30% untuk Tim. Rincian 70% diperuntukkan untuk peternak 60%, operasional dan pengembangan modal usaha kelompok 5% dan biaya medikasi 5% Telah diproduksi hasil penggemukan sistem feedlot Sapi Simental siap potong dengan berat akhir yang dicapai setelah 120-150 hari berkisar 450 - 500 kg dari berat badan berat badan awal sapi 330-380 kg dengan hasil pertambahan berat badan harian sebesar 1,0-1,2 kg per hari. Komposisi pakan penggemukan terdiri dari 70% hijauan (jerami padi fermentasi) dan 30% (konsentrat).Konsentrat diberi nama Konsentrat Pemacu Petumbuhan (GPC=Growth Promoted Concentrate) diberikan sebagai konsentrat supelementasi pakan penguat berupa onggok 70%, bekatul 25% dan molases 5%. Komposisi GPC tersusun dari 5 % urea, 20 % molases, 30 % bungkil kedelai, 5 % bungkil sawit, polar 39 % dan mineral 1 %. Jerami padi fermentasi dan konsentrat diproduksi sendiri oleh peternak. Jerami padifermentasi dibuat menggunakan starter Starbio. Bahan baku konsentrat berasai dari bahan lokal yang dicampur menggunakan mesin pencampur kapasitas 600 kg/jam dengan sumber daya bensin. Kandang dibuat sistem kandang kelompok dilengkapi dengan sarana dan prasarana penampungan dan pembuatan pupuk organik padat berbahan feses dan pupuk organik berbahan urin. Metode dekomposisi produksi menggunakan bahan 65% feses, 20% starter Stardect dan penambahan 10% abu dapur, 5% kapur matang. Urin dibuat menjadi produk pupuk organik cair dengan penambahan 8% empon-empon (lengkuas, temu ireng, jahe, kencur, kunir, sambiloto, dan sereh), 2% molases, 0,1% starter dalam 100% urin. Usaha penggemukan Sapi Simental sistem feediot diperoleh keuntungan Rp 801.500 perekor perbulan dengan tingkat keuntungan sebesar 52% pada tingkat keuntungan selama 4 bulan dan 46% pada tingkat keuntungan perbulan dan layak diusahakan dengan nilai B/C = 1,3 dan R/C = 0,3. Kedua pupuk organik menjadi sumber tambahan keuntungan hingga 29 % perbulan dan meningkatkan 6% nilai B/C dan 26% nilai R/C. Usaha penggemukan feediot Sapi Simental pada usaha peternakan rakyat beriangsung tanpa limbah dan ramah lingkungan. SDA Kecamatan Sambi dan SDM Kelompok “Sambi Mulyo” sangat berpotensi dikembangkan menjadi kelompok peternak andalan. Rekomendasi untuk kelangsungan usaha feediot “Sambi Mulyo” sebagai sumber pendapatan bagi petemak maka masih diperlukan pendampingan teknis terutama aspek pemasaran, masih diperlukan penguatan modal dari berbagai sumber investasi dan kerjasama baik dari swasta maupun pemerintah

Pengembangan kendaraan niaga roda tiga dengan aplikasi teknologi “system kemudi dinamis rangka trapez” dan “struktur komposit sandwich GFRP”

Kata kunci: KNRT, rangka trapez, kemudi dinamis.

Santoso
LPPM UNS, Penelitian, KRT, Insentif Percepatan Difusi dan Pemanfaatan IPTEK, 2009

Kendaraan niaga roda tiga (KNRT) cenderung semakin benyak diminati masyarakat, khususnya sebagai alat transportasi angkutan barang. Pilihan ini disebabkan oleh kelebihan KNRT dibanding alat transportasi barang roda empat, seperti ukuran lebih kecil, lebih irit bahan bakar karena ukuran volume silinder yang lebih kecil, pengoperasian dan pemeliharaan lebih mudah, serta harganya lebih murah. Namun demikian, KNRT masih memiliki kekurangan yakni sistem kemudi yang masih kaku sehingga cenderung terlempar keluar aaat berbolok msnikung. Hal ini mernbahayakan keselamatan pengendara dan pengguna jalan lainnya. Guna mengurangi tingkat kecelakaan KNRT, maka perlu dilakuka pengembangan KNRT f-TSpeed Ricksaw dengan mengaplikasikan teknologi sistem kemudi dinamis “Rangka Trapez” yang dapat mengimbangi pengaruh gaya centrifugal pada saat kendaraan berbelok menikung. Pelaksanaan kegiatan DIFUSI dikonsentrasikan pada optimasi rekayasa manufaktur sistem kemudi dinamis “rangka trapez (rangka trapezium)” KNRT. Disain rangka trapez ini diiihami oleh US Paten “Tricycle” No. 5240267 (Owsen, 1993 dan Paten) dan IS Paten “Leaning Vehicle with Centrifugal Force Compensation” No. 490385 (Klopfenstein, 1990). Output disain dalarn kegiatan ini bukan merupakan duplikasi paten yang ada, namun mengembangkan dan melengkapi paten yang ada. Optimasi disain rangka trapez dilakukan dengan analisis teoritis yang dikembangkan oleh Paeejka dan Cossalter’s serta analisis model komputasi (MS-Excell dan Visual Basic). Teknik peredam getaran dilakukan dengan memberikan bushing dan bahan nylon pejal agar dihasilkan kendaruan yang aman dan nyaman. Selanjutnya, output analisis tersebut dibuktikan denoan uji lapangan di jalan bergelombang dan tikungan. Optimasi disain dan pengujian dilakukan di UNS, sedangkan proses rekayasa dilakukan di iridustri mitra. Kegiatan ini didukung oleh inventarisasi peralatan yang sudah ada dan rekayasa pengembangan peralatan baru pendukung standarisasi pembuatan rangka trapez. Peredaman getaran dilakukan dengan memberikan bushing berbahan baku nylon high density pada bagian sambungan Ouput kegiatan adalan pioduk sistem kemudi dinamis “rangka trapez” inovatif. Hasil akhir kegiatan adalah produk baru kendaraan niaga roda tiga sistem kemudi dinamis “rangka trapez” yang merupakan HiSpeed Ricksaw, yang dapat mereduksi tingkat kecelakaan KNRT yang sudah ada. Produk baru ini akan diberi merek dagang “SAKURY” dan telah di desiminisasikan ke masyarakat melalui sosialisasi secara langsung maupun sosialisasi melalui media cetak. Selain dari pada itu, disain rangka trapez tersebut sedang dipatenkan oleh Tim Peneiiti.

THE DEVELOPMENT OF ” AKAR WANGI ” AND ” JARAK PAGAR ” FOR HEDGEROW ON THE CONSERVATION FARMING SYSTEM AT CRITISM AND MARGINAL DRY-LAND ( PENGEMBANGAN AKAR WANGI DAN JARAK SEBAGAI HEDGEROW DALAM SISTEM USAHATANI KONSERVASI DI LAHAN KERING KRITIS DAN MARGINAL )

Keywords : hedgerow, conservation farming system

Widijanto, Hery; Utomo, Sudjono*)
LPPM UNS, Pengabdian, DP2M, Penerapan Ipteks, 2009

The agriculture develompent on the critism and marginal dry-land usually affected by physico-chemical and socio-economic problem. The problems of physico-chemical were thin of soil solum, low of nutrient concentration, low of soil organic matter, high of erotion rate, and low of soil microbiologi-fertility. Then the socio -economic problems included of low responsibility and knowledge of farmer on sustainable conservation farming system, and low of tecnology adoption by farmer. The vegetative conservation tecnology usually’s called “hedgerow”. Hedgerows is an old English term that refers to narrow planting strips that grow along field borders, fencelines and waterways. In this human serve programme we used “akar wangi” and “jarak pagar” . We hope these plants have multiple benefits. They develop into shaded areas for cooling water temperature, offer wildlife habitat, encourage beneficial insects, reduce soil erosion, provide bank stabilization, and uptake nutrients and pollutants. They are shelterbelts, windbreaks, and screen for privacy . Development of hedgerow with “akar wangi” and ‘jarak pagar” in conservation farming system may be can be adopted by farmer. Cause in this system, these plants will stabilized and develop to sustainable agriculture. By this technology, farmer will be done the environmental agriculture in critism and marginal dry-land.

PEMANFAATAN OLI BEKAS SEBAGAI BAHAN BAKAR PADA PROSES VULKANISIR BAN SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI UNTUK MENGURANGI KONSUMSI MINYAK TANAH (APLIKASI PADA PERUSAHAAN VULKANISIR MANUNGGAL PUTRA BOYOLALI)

Keywords : used lubricating oil, vulcanizing, tire, burner, fuel

Wahyu Purwo Raharjo, Zainal Arifin, Nurul Muhayat*)
LPPM UNS, Pengabdian, DP2M, Penerapan Ipteks, 2009

Kegiatan ini dilakukan untuk memanfaatkan ketersediaan pelumas bekas yang ada sebagai bahan bakar dalam proses vulkanisir ban. Bengkel vulkanisir yang ditinjau dalam hal ini adalah Perusahaan Vulkanisir Manunggal Putra Boyolali. Untuk dapat digunakan sebagai bahan bakar, oli bekas harus mendapatkan perlakuan, antara lain diendapkan dalam wadah dan disaring. Selanjutnya pelumas bekas dicampur dengan minyak tanah sebagai bahan bakar burner pemanas cetakan ban. Dari pengujian dengan beberapa variasi pencampuran dengan minyak tanah yaitu 10%, 20%, 30% dan 40%, pencampuran dengan minyak tanah sebesar 40% menghasilkan proses pembakaran dengan temperatur yang paling tinggi. Dengan menggunakan pelumas bekas, konsumsi minyak tanah sebagai bahan bakar dihemat sehingga biaya bahan bakar dapat ditekan sebesar 56,7%.