• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: Kedelai

ANALISIS MORFOLOGI TANAMAN DAN KADAR PROTEIN BIJI HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS HASIL OLAHAN BEBERAPA VARIETAS KEDELAI LOKAL DAN IMPOR

Kata Kunci: Kedelai, protein, lemak, RAPD

Ir. Sumijati, MP, Drs. Sugijono, MP
LPPM UNS. DP2M, Penelitian, Strategi Nasional 2009

Kedelai merupakan bahan pangan sumber protein nabati yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Permasalahan yang terjadi adalah rendahnya produksi dan kualitas kedelai lokal sehingga belum mencukupi kebutuhan kedelai di dalam negeri. Rendahnya mutu kedelai lokal yang mempengaruhi kualitas produk olahannya juga merupakan penyebab masyarakat lebih menyukai kedelai impor. Identifikasi berdasarkan karakter molekuler melalui RAPD mampu mendeteksi keragaman berdasarkan pola pita DNA yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh dan fase perkembangan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan marker morfologi dan molekuler penentu kadar protein yang berhubungan dengan daya tahan hasil olahan kedelai. Metode penelitian menggunakan penelitian lapangan yang disusun dalam Rancangan acak kelompok lengkap dengan macam varietas sebagai perlakuan dan penelitian laboratorium untuk analisis RAPD, analisis kadar protein dan analisis hasil olahan kedelai dalam bentuk tempe. Identifikasi dan klasifikasi kedelai berdasarkan penanda morfologi dan RAPD dengan cara menghitung koefisien korelasi dan analisis karakter morfologi dengan produksi kadar proteinbiji dan hasil olahan kedelai. Hasil penelitian menunjukkan varietas lokal yang memiliki kadar protein tinggi yaitu varietas Burangrang dan Sibayak, dan varietas Grobogan yang berdaya hasil tinggi dan berbiji besar. Kadar lemak biji kedelai yang tinggi dimiliki oleh varietas Kaba. Varietas introduksi (impor): Kedelai Argomulyo dan Anjasmoro memiliki kadar protein bji dan kadar protein hasil olahan (tempe) kedelai yang berada dibawah kadar protein varietas lokal. Analisis RAPD menunjukkan perbedaan klaster antara varietas lokal dengan dua varietas kedelai introduksi (impor). Terdapat korelasi positif antara sifat gen penentu kadar protein biji dan kadar protein hasil olahan kedelai olahan.

Introduksi Perontok dan Pengupas Kedelai di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri.

Kata kunci : Kedelai, sistem TOT, alat perontok dan pengupas kedelai.

Parnanto, Nur Her Riyadi; Anam, Choirul; Kawiji; Ariviani, Setyaningrum *)
LPPM UNS, Pengabdian, Dikti, Vucer Luaran Sibermas, 2007.

Desa Pagutan Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri merupakan daerah yang sebagian besar wilayahnya kering dan sawah yang ada merupakan sawah tadah hujan, sehingga setelah musim tanam padi diteruskan dengan penanaman tanaman semusim lainnya seperti kedelai dan jagung. Penanaman kedelai biasanya dilakukan dengan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah).
Selama ini hasil panen kedelai setelah dijemur dengan sinar matahari, kemudian dilakukan perontokan. Proses perontokan kedelai  dikerjakan secara manual, yaitu dengan memukul-mukulkan ikatan atau menumbuk kedelai yang masih menempel pada pohonnya. Jika musim raya panen kedelai tiba akan menimbulkan kelelahan pada petani. Dampak kelelahan mengakibatkan hasil berupa kualitas maupun kuantitas tidak stabil serta banyak biji yang cacat.
Salah satu alternatif mengurangi kerugian petani yang diakibatkan karena penanganan yang kurang baik sehingga banyak biji yang hilang atau cacat maka pada program sibermas ini dikenalkan pada patani alat perontok dan penampi biji kedelai, dengan harapan kualitas dan kuantitas kedelai yang dihasilkan dapat meningkat sehingga berbagai bahan pangan dengan bahan baku kedelai dapat tercukupi. Keuntungan dari alat perontok dan penampi kedelai ini antara lain 1. Tenaga manusia menjadi lebih ringan, 2 waktu proses perontokan dan penampi lebih cepat, 3. mengurangi biji pecah dan cacat, 4. keuntungan ekonomis meningkat. Dengan perancangan secara sederhana dan  bahan/ komponen alat yang terjangkau, masyarakat setempat  dapat menggandakan sendiri sehingga proses alih teknologi dapat tercapai.