• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: Pendidikan

Simposium Nasional Hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan 2010

Kami beritahukan dengan hormat bahwa Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan (PUSLITJAKNOV-BALITBANG) Kementerian Pendidikan Nasional akan menyelenggarakan SIMPOSIUM NASIONAL HASIL PENELITIAN DAN INOVASI PENDIDIKAN 2010, di Jakarta pada tanggal 3 s.d. 5 Agustus 2010.

Tema dari kegiatan ini adalah “Meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan informasi berbasis riset dalam rangka mendukung Misi Pendidikan Nasional (5K): Ketersediaan, Keterjangkauan, Kualitas dan Relevansi, Kesetaraan serta Kepastian memperoleh layanan pendidikan”

Kami harapkan para dosen di lingkungan UNS dapat mengirimkan makalah paling lambat pada hari Senin, tanggal 26 Mei 2010 melalui email: simposiumpendidikan2010@puslitjaknov.org

Berikut ini kami lampirkan panduan penulisan makalah simposium, silahkan di-download:
- simposium2010

Mempersiapkan Lulusan Yang Siap Mandiri untuk Memasok Komponen-Komponen Industri dan Otomotif Melalui Magang di Bengkel Konstruksi Mesin.

Kata Kunci : magang kewirausahaan, bengkel SBM, bengkel R. Win

Triyono, Joko; Raharjo, Wahyu Purwo*)
Fakultas Teknik UNS, Pengabdian, Dikti, MKU, 2006.
Pada kegiatan ini, dilakukan kegiatan magang kewirausahaan di 2 bengkel yang berbeda yakni bengkel R. Win dan bengkel Sinar Bengawan Machinery (SBM). Kegiatan yang dilakukan di bengkel pertama membuat pagar, tralis, pegangan rumah tangga dan kanopi. Sedangkan bengkel yang kedua spesialis membuat roda gigi untuk keperluan industri dan otomotif. Para peserta magang berasal dari jurusan Teknik Mesin S-l 3 orang, Teknik Mesin Otomotif D-3 2 orang dan Teknik Mesin D-3 Produksi 1 orang.
Pelaksanaan magang selama 6 minggu efektif, dimulai tanggal 3 Juli hingga 12 Agustus 2006. Para peserta magang dibagi ke dalam 2 kelompok. Kelompok mahasiswa S-l dan kelompok D-3. Masing-masing kelompok melakukan magang di 2 bengkel. Kelompok yang pertama melaksanakan magang dulu di bengkel SBM selama 3 minggu sementara kelompok yang satunya di bengkel R. Win. Selanjutnya dilakukan rotasi magang.
Berdasarkan pelaksanaan magang, karena peserta harus melakukan magang di 2 bengkel, maka setelah mereka menyelesaikan magang di bengkel pertama, mereka harus magang di bengkel kedua. Hal ini mengakibatkan keterlambatan proses transfer nilai-nilai kewirausahaan karena mereka harus menyesuaikan diri lagi di lingkungan yang baru. Namun demikian para peserta sudah bisa membuat semua komponen yang dibuat di bengkel, meskipun waktu yang diperlukan lebih lama dari karyawan setempat. Peserta juga sudah bisa merancang, membuat dan memasang pagar tralis dan pegangan tangga sendiri.

Pengembangan Model Pendidikan Adil Gender Pada Sekolah Dasar Untuk Optimalisasi Pengarustamaan Gender Bidang Pendidikan.

Kata kunci: pengarustamaan gender, model pendidikan.

Wahyuningsih, Rutiana Dwi; Suharto, Didik Gunawan; Nugraheni, Ismi D.A; Hidayat, Rahayu Surtiati; Poerwandari, E. Kristi*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti Lanjutan, 2006.
Salah satu kebijakan “Education for Air” yang telah disepakati semua negara anggota UNESCO (termasuk Indonesia) adalah menghapus disparitas gender pada pendidikan dasar dan menengah menjelang tahun 2005, dan mencapai kesetaraan pendidikan menjelang tahun 2015. Pengarusutamaan gender bidang pendidikan merupakan salah satu strategi agar semua kebijakan, program, proyek, ataupun kegiatan di bidang pendidikan diarahkan untuk mengurangi atau menghapus kesenjangan gender. Untuk mendukung kebijakan tersebut, tenaga pendidikan mempunyai peran strategis. Pendidikan yang bias gender menimbulkan stereotipe peran perempuan dan laki-laki yang umumnya kurang menguntungkan perempuan. Bila tidak dilakukan perubahan secara strategis dan sistematis, akan terhambat pembangunan di segala aspek kehidupan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengujicobakan model pendidikan adil gender beserta panduan praktis aplikasinya pada sekolah dasar, sebagai acuan dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar. Secara khusus penelitian tahun kedua ini bertujuan untuk menyusun secara partisipatoris bahan panduan praktis aplikasi Pendidikan Adil Gender di Sekolah Dasar, yang terdiri dari Buku I: Konsep Gender dan Teknik Identifikasi Masalah Gender dalam Bahan Ajar dan Media Pembelajaran, dan Buku II: Integrasi Perspektif Gender dalam Proses Pembelajaran. Manfaat yang diharapkan adalah penggunaan buku panduan sebagai sarana pendukung untuk menerapkan model pendidikan adil gender pada sekolah dasar dalam rangka optimalisasi pengarusutamaan gender bidang pendidikan.
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (development research), dengan pendekatan kualitatif, dan tipe penelitian partisipatoris. Analisis data dilakukan berdasarkan interpretive interactionism. Informan dalam penelitian ini mewakili unsur birokrat Dinas Pendidikan, pendidik (Kepala Sekolah dan Guru), Dewan Pendidikan, LSM, dan Peneliti dari Perguruan Tinggi. Teknik penggalian data terdiri dari studi eksploratif dokumen, lokakarya (workshop), Diskusi Kelompok Terfokus, dan wawancara.
Penelitian ini menemukan hal-hal yang menjadi prasyarat penerapan Model Pendidikan Adil Gender pada sekolah dasar, yaitu (1) Dukungan birokrasi pendidikan sebagai pemegang otoritas kebijakan pendidikan di daerah; (2) Komitmen para pemilik kepentingan pendidikan; (3) Sarana pendukung bagi guru dan bagi peserta didik untuk memudahkan pelaksana pendidikan dalam memahami nilai-nilai adil gender. Saran dari penelitian ini adalah (1) sosialisasi pengarusutamaan gender bidang pendidikan dan pelatihan sensitivitas gender bagi guru sekolah dasar perlu diselenggarakan sebagai program rutin Dikpora Kota Surakarta; (2) Buku panduan praktis aplikasi Model Pendidikan Adil Gender yang dihasilkan oleh penelitian ini perlu didesiminasikan kepada para pendidik di sekolah dasar di Surakarta supaya proses pembelajaran yang adil gender lebih cepat terjadi.

Pengembangan Model Modifikasi Perilaku Melalui ‘Continuous Reinforcement’ dan ‘Partial Reinforcement’ Untuk Mengatasi Kebiasaan ‘Buruk’ Anak Dalam Belajar.

Kata kunci: modifikasi perilaku, kebiasaan buruk, belajar.

Yusuf, Munawir; Legowo, Edy; Djatun, Rachmad; Gunarhadi*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2006.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan model modifikasi perilaku bagi anak dengan kebiasaan buruk dalam belajar dengan menetapkan ‘continuous reinforcement’ dan ‘partial reinforcement’. Hasil akhir yang diharapkan dari penelitian ini adalah terjadinya perubahan perilaku anak dari kebiasaan buruk ke kebiasaan yang lebih baik dalam belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pada tahun pertama (2004) telah dilakukan kegiatan penelitian untuk menghimpun data base yang dipadukan dalam penelitian tahun ke II. Pada tahun ke dua kegiatan penelitian difokuskan pada pengembangan produk penelitian berupa Buku Panduan Modifikasi Perilaku Untuk Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak Dalam Belajar. Buku tersebut akan digunakan sebagai bahan pelatihan kepada guru dan orangtua sebagai calon pengguna yang akan diterapkan pada kegiatan penelitian tahun ke tiga.
Secara metodologis proses pengembangan buku panduan dilakukan melalui tahap-tahap (1) pengkajian terhadap ‘content’ atau ruang lingkup isi materi buku panduan, (2) pengembangan deskripsi kajian dari setiap lingkup materi, (3) penulisan draf buku panduan, (4) lokakarya finalisasi draf buku panduan, (5) uji ahli oleh ‘judges’ dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, (6) Uji lapangan terbatas kepada calon pengguna buku.
Setelah melalui beberapa kali revisi atas draf buku panduan, hasilnya dapat dilaporkan sebagai berikut:
1.      Telah dihasilkan 6 (enam) Paket Buku Panduan Modifikasi Perilaku untuk Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak Dalam Belajar. Ke enam buku tersebut merupakan satu kesatuan bahan pelatihan yang harus dikuasai oleh guru dan orangtua untuk dapat melakukan proses pengubahan tingkahlaku.
2.       Ke enam buku panduan tersebut terdiri atas : Buku 1 (Mengenal Anak Dengan Kebiasaan Buruk Dalam Belajar, Buku 2 (Pengertian dan Asumsi Modifikasi Perilaku), Buku 3 (Prosedur Pengubahan Tingkah Laku), Buku 4 (Merencanakan dan Melaksanakan Pengubahan Tingkah Laku), Buku 5 (Menilai Hasil Pengubahan Tingkah Laku), dan Buku 6 (Teknik Kontrak dan Penguatan Tingkah Laku).
3.      Hasil uji validitas yang dilakukan oleh 5 orang ‘judges’ yang memiliki keahlian di bidang psikologi, PLB, Teknologi Pendidikan, Bimbingan dan Konseling dan Ahli Bahasa, diperoleh hasil rata-rata berada pada rentang tinggi - sangat tinggi.
4.       Hasil uji lapangan terbatas terhadap tingkat keterbacaan maupun keterlaksanaannya jika diterapkan di lapangan, diperoleh kesimpulan :
(1)    Buku panduan dapat dimengerti dan difahami isinya dengan baik (84%)
(2)    Buku panduan penting untuk dilatihkan kepada guru dan orangtua (95%)
(3)    Buku panduan memungkinkan dapat diterapkan guru dan orangtua (92%)
(4)    Buku panduan akan membantu guru dan orangtua (84%)
(5)   Buku panduan menggunakan bahasa sederhana dan mudah difahami (82%)
(6)    Buku panduan memiliki daya tarik penampilan yang cukup baik (85%)
Pada tahun ke III (2006) penelitian difokuskan pada implementasi panduan modifikasi perilaku oleh guru dan orangtua. Hasil yang diperoleh dari penelitian tahap ke III adalah sebagai berikut:
1.  Respon guru dan orangtua terhadap buku panduan modifikasi perilaku yang dikembangkan, sangat positif, dengan 100% responden menjawab sangat penting dan bermanfaat.
2.      Baik guru maupun orangtua mampu mengimplementasikan buku panduan setelah mendapatkan pelatihan awal, dengan rincian sebagai berikut:
a.   Kelompok  guru,   95%   menyatakan  mudah   dalam   implementasi   di
lapangan, dan sisanya 5% menyatakan cukup mudah.
b.   Kelompok orangtua, 85% menyatakan mudah dalam implementasi di
lapangan, 10% cukup mudah dan sisanya 5% agak mudah.
3        Jumlah siswa yang mengalami perubahan perilaku positif setelah mendapatkan intervensi guru dan orangtua, cukup signifikan dengan rincian :
a.   Kelompok guru, 90% siswa mengalami perubahan perilaku positif dengan sangat signifikan, 5% cukup signifikan, dan 5% biasa-biasa saja.
b.   Kelompok orangtua, 85% anak mengalami perubahan perilaku positif dengan sangat signifikan, 10% cukup signifikan, dan 5% biasa-biasa saja.
4.    Dampak penerapan modifikasi perilaku terhadap prestasi belajar siswa cukup signifikan dengan rincian, Bahasa Indonesia dari rata-rata sebelum perlakuan 6,2 naik menjadi rata-rata 6,8 setelah perlakuan. Matematika dari 5,6 menjadi 6,5. IPA dari 6,2 menjadi 6,9, dan IPS dari 6,9 menjadi 7,4. Secara keseluruhan rata-rata sebelum perlakuan 6,2 menjadi rata-rata 6,9 setelah perlakuan. Dengan demikian terjadi kenaikan pestasi belajar setelah diterapkan modifikasi perilaku.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut direkomendasikan bahwa buku panduan modifikasi perilaku yang dikembangkan dalam penelitian ini, dapat didesiminasikan di sekolah-sekolah lain. Untuk desiminasinya perlu memperhatikan latar belakang pendidikan orangtua.

Pengembangan Model Pelatihan dan Materi Pelatihan Penerjemahan Berbasis Kompetensi Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Penerjemah di Surakarta dan Yogyakarta.

Kata kunci: pelatihan, penerjemahan, kompetensi.

Nababan, Mangatur*)
Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.
Penerjemahan merupakan proses pengalihan pesan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Penerjemahan dapat pula diartikan sebagai proses pengambilan keputusan dalam peristiwa komunikasi interlingual. Dari sudut pandang Studi Penerjemahan Deskriptif (Descriptive Translation Studies, disingkat DTS), konsep penerjemahan sebagai proses pengambilan keputusan menjadi sangat penting.
Konsep tersebut dipandang penting karena alasan-alasan berikut ini. Pertama, penerjemahan selalu ditandai oleh perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran, baik dalam hal strukturnya maupun budaya yang melatarbelakangi kedua bahasa tersebut. Sebagai akibatnya, dalam setiap praktik penerjemahan, penerjemah dihadapkan pada masalah ketidaksepadanan, yang lazim dikenal sebagai ketakterjemahan linguistik dan ketakterjemahan budaya.
Kedua, konsep penerjemahan sebagai proses pengambilan keputusan mengisyaratkan perlunya proses pemecahan masalah (decision-making process) dalam penerjemahan, yang direalisasikan melalui penerapan strategi-strategi penerjemahan. Disatu sisi proses tersebut merupakan proses yang kasat mata karena terjadi dalam otak atau kotak hitam (black box) penerjemah. Di sisi lain, proses kognitif tersebut sangat menentukan keberhasilan suatu terjemahan dalam menjalan misinya sebagai alat komunikasi antar dua belah pihak yang tidak sebahasa.
Ketiga, suatu produk atau karya terjemahan dihasilkan melalui tahapan-tahapan yang dicakup dalam proses penerjemahan. Proses penerjemahan itu tidak akan mungkin terwujud jika tidak ada orang yang melakukannya, yaitu penerjemah dan keberhasilan penerjemah dalam menjalankan tugasnya akan sangat tergantung pada latar belakang dan kompetensinya.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan berbasis kompetensi sebagai salah satu upaya untuk meningkat kualitas penerjemah di Surakarta dan Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap atau tiga tahun. Tahun pertama adalah tahap pengembangan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan berbasis kompetensi yang diawali dengan penyusunan prototip model yang dikembangkan melalui studi pustaka, observasi, penugasan, dan Focus Group Discussion (FGD). Pada akhir tahun pertama akan dihasilkan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan. Pada tahun kedua model pelatihan itu dikembangkan melalui uji coba di lapangan dalam bentuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) untuk menyempurnakan model tersebut dan kemudian diwujudkan dalam bentuk buku panduan pelatihan dan buku materi pelatihan penerjemahan. Pada tahun ketiga diadakan uji coba dengan eksperimen untuk menguji efektifitas model pelatihan dan materi pelatihan tersebut melalui penelitian kualitatif.
Pengembangan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan ini dilaksanakan melalui metode penelitian tindakan kelas (classroom action research) di pusat pelatihan penerjemahan di Surakarta (Program Pascasarjana UNS) dan di Yogjakarta (Quality Translation Center – QTC. Pemilihan kedua pusat pelatihan sebagai tempat uji coba adalah dengan cara purposive sampling. Sebelum pelaksanaan tindakan kelas, diadakan lokakarya dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dengan para pelatih uji coba dan tim peneliti. Kemudian diadakan pelatihan bagi para pelatih dan para penerjemah. Setelah itu dikembangkan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan melalui uji coba selama tiga siklus.
Di samping itu, setiap awal tahun dan akhir tahun penelitian diadakan lokakarya yang melibatkan tim peneliti, pelatih, peserta pelatihan dan stakeholders. Lokakarya ini bertujuan untuk (1) merumuskan prototip model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan berbasis kompetensi, (2) merumuskan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan berbasis kompetensi dalam bentuk buku panduan pelatihan dan buku materi pelatihan yang akan diterbitkan, (3) menentukan keunggulan model pelatihan dan materi pelatihan penerjemahan tersebut dibandingkan dengan model pelatihan penerjemahan konvensional. Pada akhir tahun kedua, buku panduan pelatihan dan buku materi pelatihan penerjemahan tersebut sudah bisa diterbitkan dan dilampirkan dalam laporan penelitian. Pada akhir tahun ketiga kedua buku tersebut sudah dapat disebarluaskan bila telah dinyatakan unggul
Penelitian pada tahun pertama ini bertujuan (1) untuk mengetahui latar belakang penerjemah di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, dalam hal tingkat pendidikan formal, bidang keahlian akademis, pengalaman praktis di bidang penerjemahan, keterampilan berbahasa Inggris, partisipasi dalam pelatihan penerjemahan akademik atau vokasional, dan keikutsertaan dalam pengembangan profesi, (2) untuk mengetahui kompetensi penerjemah tentang proses dan strategi penerjemahan, (3) untuk mengetahui kualitas terjemahan yang dihasilkan oleh penerjemah di wilayah Surakarta dan Yogyakarta, dan (4) untuk mengetahui keterkaitan antara latar belakang penerjemah dengan proses penerjemahan, strategi penerjemahan dan kualitas terjemahan yang mereka hasilkan.
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif. Sumber datanya berupa dokumen (teks bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia), informan (yang terdiri atas penilai ahli dan pembaca teks bahasa sasaran), dan penerjemah yang bekerja di biro-biro penerjemahan di Surakarta dan Yogjakarta Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner, wawancara mendalam, dan analisis isi (content analysis). Informan penelitian dicuplik dengan menerapkan criterion-based sampling technique.
Berdasarkan hasil analisis terhadap latar belakang penerjemah, kompetensi penerjemah dan kualitas terjemahan mereka dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, para penerjemah yang dilibatkan sebagai subjek penelitian dalam penelitian mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup memadai untuk menjadi penerjemah. Namun, kemampuan mereka dalam memahami teks bahasa Inggris yang dibangun dari kalimat-kalimat yang kompleks masih kurang. Keterlibatan mereka dalam pengembangan profesi sangat minim. Kedua, pengetahuan mereka tentang konsep dan proses penerjemahan sangat memadai meskipun pengetahuan tersebut tidak selalu mereka terapkan pada saat menerjemahkan. Dengan kata lain, terjadi kesenjangan antara pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Ketiga terjadi kecenderungan dikalangan penerjemah untuk menerapkan pendekatan bottom-up, yang berakibat pemahaman mereka terhadap teks bahasa sumber kurang baik Sebagai akibatnya,  acapkali timbul kesalahan dalam menafsirkan teks bahasa sumber yang pada gilirannya menimbulkan kesalahan dalam memilih kata, istilah, dan konstruksi kalimat dalam terjemahan mereka. Keempat, para penerjemah belum memahami sepenuhnya konsep keberterimaan (acceptability) dan keterbacaan (readability). Padahal, kedua aspek tersebut merupakan bagian atau sifat penting dari terjemahan yang berkualitas. Kelima strategi penerjemahan yang mereka miliki masih sangat terbatas dalam memecahkan ketidaksepadanan baik pada tataran kata, di atas tataran kata, padanan gramatikal, padanan tekstual maupun pada tataran pragmatik.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para penerjemah sudah memiliki pengetahuan deklaratif yang sangat memadai. Pengetahuan deklaratif yang seperti itu akan sangat berpengaruh pada praktik penerjemahan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar pengetahuan deklaratif yang mereka miliki dapat digunakan secara konsisten. Oleh sebab itu. para penerjemah perlu menyadari bahwa kedua macam pengetahuan itu harus disinergikan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dalam kegiatan penerjemahan.
Perlu disadari bahwa teori penerjemahan hanya menyediakan pedoman umum. Sementara itu setiap penerjemahan merupakan kasus, yang memerlukan cara khusus dalam memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam praktik penerjemahan yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, penerjemah perlu meningkatkan kemampuan mereka dalam menerapkan strategi-strategi khusus penerjemahan.