• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: Pertanian

CALL FOR PROPOSAL: KKP3T TA. 2011

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengundang Perguruan Tinggi Indonesia yang berkompeten di bidang pertanian untuk melakukan kerja sama penelitian melalui program Kerja Sama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) TA. 2011.

Pada pelaksanaan KKP3T nbso online casino reviews TA 2011 diberlakukan sistem pendaftaran usulan proposal secara on-line yang merupakan keharusan dalam proses pendaftaran proposal. Usulan proposal KKP3T harus dilaksanakan secara on-line melalui alamat http://kkp3t.litbang.deptan.go.id mulai tanggal 12 Oktober s.d. 12 Nopember 2010

Berikut ini kami sampaikan Panduan penyusunan Proposal KKP3T 201, silahkan di-download: panduan_kkp3t_2011

Studi Pendahuluan: Efek Ekstrak Ceremai (Phyllanthus acidus [L.] Skeels) Terhadap Sistem Imun Alergi Inflamasi pada Mencit Balb/C Model Inflamasi Kronik.

Kata Kunci: ekstrak ceremai, Alergi inflamasi, mencit Balb/C.

Pesik, Riza Novierta*)
LPPM UNS, Penelitian, Ristek, Insentif Riset Dasar, 2007

Ekstrak Daun Ceremai mengandung sejumlah bahan-bahan kimiawi yang mempunyai aktivitas sebagai antiinflamasi, antilipoksigenase, antialergi, dan anti-siklooksigenase. Sehingga dapat digunakan sebagai obat untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit alergi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengamh Ekstrak Daun Ceremai terhadap sistem imun alergi inflamasi dengan mengukur kadar IL-5, Ig E dan Histamin serum serta menghitung jumlah limfosit CD4 dan eosinofil bronkhus pada mencit model inflamasi kronik.
Mencit Balb/C disensitisasi i.p pada hari ke-4 dengan 0,15 cc OVA dalam Al(OH)3/mencit dari 2,5 mg OVA yang dilarutkan pada 7,75 ml Alumumum hidroksida. Pada hari ke-20 dipapar lagi dengan 0,15 cc OVA dalam PBS/mencit secara i.p dari 2,5 mg yang dilarutkan pada 10 ml PBS. Pemaparan OVA aerosol (50 mg OVA dalam 50 ml PBS) diberikan pada hari ke-26, 30, 33, 39 and 46. Mencit dikorbankan 24 jam setelah akhir pemaparan OVA, kemudian serum dikoleksi untuk pengukuran kadar IL-5, Ig E dan Histamin. Bronkhus dibuat slide dengan pewarnaan imunohistokimia untuk menghitung jumlah limfosit CD4+ dan pengecatan HE untuk eosinofil. Analisis data dengan one way Anova dilanjutkan post Hoc analysis untuk menentukan perbedaan secara signifikan dengan p < 0.05.
Ekstrak daun ceremai mampu menurunkan kadar IL-5, Ig E dan Histamin serum (p< 0.05), Disamping itu juga mampu menurunkan jumlah sel limfosit CD4 dan eosinofil (p< 0.05). Kemampuannya dalam menurunkan kadar IL-5, Ig E dan Histamin, serta jumlah sel eosinofil tidak berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positip (p> 0,05). Namun, kemampuannya dalam menurunkan jumlah sel limfosit CD4 berbeda secara bermakna dibanding kelompok kontrol positip (p< 0,05).
Ekstrak daun ceremai mampu meningkatkan sistem imun alergi inflamasi pada mencit model inflamasi kronik.

Introduksi Perontok dan Pengupas Kedelai di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri.

Kata kunci : Kedelai, sistem TOT, alat perontok dan pengupas kedelai.

Parnanto, Nur Her Riyadi; Anam, Choirul; Kawiji; Ariviani, Setyaningrum *)
LPPM UNS, Pengabdian, Dikti, Vucer Luaran Sibermas, 2007.

Desa Pagutan Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri merupakan daerah yang sebagian besar wilayahnya kering dan sawah yang ada merupakan sawah tadah hujan, sehingga setelah musim tanam padi diteruskan dengan penanaman tanaman semusim lainnya seperti kedelai dan jagung. Penanaman kedelai biasanya dilakukan dengan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah).
Selama ini hasil panen kedelai setelah dijemur dengan sinar matahari, kemudian dilakukan perontokan. Proses perontokan kedelai  dikerjakan secara manual, yaitu dengan memukul-mukulkan ikatan atau menumbuk kedelai yang masih menempel pada pohonnya. Jika musim raya panen kedelai tiba akan menimbulkan kelelahan pada petani. Dampak kelelahan mengakibatkan hasil berupa kualitas maupun kuantitas tidak stabil serta banyak biji yang cacat.
Salah satu alternatif mengurangi kerugian petani yang diakibatkan karena penanganan yang kurang baik sehingga banyak biji yang hilang atau cacat maka pada program sibermas ini dikenalkan pada patani alat perontok dan penampi biji kedelai, dengan harapan kualitas dan kuantitas kedelai yang dihasilkan dapat meningkat sehingga berbagai bahan pangan dengan bahan baku kedelai dapat tercukupi. Keuntungan dari alat perontok dan penampi kedelai ini antara lain 1. Tenaga manusia menjadi lebih ringan, 2 waktu proses perontokan dan penampi lebih cepat, 3. mengurangi biji pecah dan cacat, 4. keuntungan ekonomis meningkat. Dengan perancangan secara sederhana dan  bahan/ komponen alat yang terjangkau, masyarakat setempat  dapat menggandakan sendiri sehingga proses alih teknologi dapat tercapai.

Rancang Bangun Alat Masak Model Presto Untuk Meningkatkan Pangsa Pasar Produk Olahan Jagung Melalui Diversifikasi Produk.

Kata kunci : diversifikasi produk, produk olahan jagung, alat masak model presto.

Kawiji; Amanto, Bambang S.; Jati M., Godras*)
Fakultas Pertanian UNS, Pengabdian, Dikti, Vucer, 2007.

Usaha kecil HANI telah melakukan produksi sejak tahun 1995 sampai sekarang.  Produk yang diunggulkan adalah emping jagung dan criping ketela.  Hal ini sesuai dengan kondisi daerah tempat produksi dilakukan.  Kecamatan disekitar wilayah Karangpandan, seperti Jumantono, Jumapol, Jatoyoso, dan Jatipuro Kabupaten Karanganyar adalah merupakan sentra produksi jagung, sedangkan ketela rambat banyak diproduksi di Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Ngargoyoso, dan Karangpandan.
Pada saat panen raya, harga kedua komoditi tersebut sangat murah. Berdasarkan kondisi lokal daerah dan semakin meningkatnya permintaan konsumen akan produk emping jagung dan criping ketela rambat, maka kami, pihak UNS dan UKM HANI sepakat untuk mengembangkan produk olahan jagung berupa mameng jagung.  Kendala yang dihadapi untuk memproduksi mameng jagung adalah keberadaan alat memasak model presto. Tujuan dalam kegiatan ini adalah membuat alat memasak jagung model presto, menambah diversifikasi produk olahan jagung menjadi mameng jagung, dan produksi kacang oven.
Untuk meningkatkan pasar produk jagung olahan dikenalkan alat pengolah jagung model presto.  Kegiatan yang dilakukan meliputi beberapa tahap. Pertama, pembuatan alat pengolah jagung presto. Kedua, pemasangan alat pengolah jagung dengan melibatkan karyawan UKM HANI. Ketiga, pelatihan penggunaan dan pemeliharaan alat pengolah jagung presto dengan melibatkan karyawan UKM HANI. Keempat, evaluasi kerja alat yang meliputi kapasitas produksi.
Pembuatan alat pengering telah dilakukan di bengkel Teknologi Pertanian UNS. Alat presto yang siap digunakan memiliki spesifikasi alat sebagai berikut: kapasitas alat 17 kg jagung/jam, tekanan maksimal 2,8 bar, tekanan untuk mameng 1,8 bar, tebal dinding dalam 3 mm, dan bahan bakar 2,5 liter minyak tanah/jam.
Pemasangan alat dilakukan setelah alat dioperasikan terlebih dahulu di lokasi pembuatan.  Pengoperasian dilakukan guna mengetahui kekurangan yang terjadi setelah pembuatan.  Pelatihan pengoperasian alat ditujukan untuk melatih mitra mengoperasikan alat presto dan merawatnya. Peserta pelatihan dari UKM mitra.
Tahap pengolahan mameng jagung ini berturut-turut adalah sortasi bahan, perlakuan pendahuluan, pengukusan, pengeringan, penggorengan, serta  pengemasan. Sortasi bahan dilakukan agar diperoleh mutu bahan baku yang baik serta bersih dari kotoran, sedangkan perlakuan pendahuluan dilakukan dengan tujuan untuk meberikan cita rasa yang khas dan tepat bagi produk akhir. Harga bahan baku (jagung) di pasaran adalah Rp. 2000,-/ kg.
Harga mameng jagung yang siap dipasarkan dan dikonsumsi tersebut adalah Rp.8.000,-/ kg. Dengan adanya pengembangan produk berupa mameng jagung  yang diolah dengan presto tersebut dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan nilai ekonomi jagung.

Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi

Kata kunci : budaya kewirausahaan, hortikultural, agribisnis.

Yuniastuti, Endang; Dewi, Widyatmani Sih*)
Fakultas Pertanian UNS, Pengabdian, Dikti, Magang Kewirausahaan, 2007.

Manusia memerlukan konsumsi zat-zat gizi untuk menciptakan tubuh yang sehat. Zat-zat gizi tersebut antara lain kalori, karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral yang berfungsi untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Zat-zat gizi tersebut tidak diperoleh dari satu macam bahan makanan saja melainkan dari beberapa bahan makanan yang berupa makanan pokok, lauk pauk, buah, susu maupun sayuran.
Sayuran merupakan makanan pendamping makanan pokok yang kaya gizi. Di dalam sayuran terkandung protein, vitamin dan mineral. Sayuran dalam bidang hortikultura dapat diartikan bagian dari tunas, daun, buah dan akar tanaman yang lunak dan dapat dimakan secara utuh atau sebagian dalam keadaan segar atau mentah atau dimasak, sebagai pelengkap pada makanan berpati dan daging.
Usaha tani hortikultura masih mengalami banyak kendala yang mengakibatkan perkembangannya yang kurang pesat. Selain karena ciri produksinya yang mudah rusak, juga menuntut keterpaduan aspek bisnis dan ilmu pertanian dalam pengembangan usaha tani sayuran. Produksi sayuran di Indonesia banyak dihasilkan oleh petani-petani kecil. Pada sayuran dataran rendah pengusahaannya hanya sebagai sampingan atau tumpang sari pada tanaman pokok. Penyebaran tanaman sayuran di Indonesia sangat dibatasi agroklimat yang sesuai dengan tanamannnya. Disamping itu pola produksi sebagian besar bersifat musiman. Pada musim panen yang didukung oleh iklim baik, akan terjadi produksi yang melimpah sedangkan keadaaan yang sebaliknya akan dijumpai di luar musim panen (off season). Pola produksi yang demikian dan suplai pasar yang tidak merata keseluruh daerah menyebabkan fluktuasi harga yang cukup tajam dan perbedaan harga antar daerah cukup besar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mahasiswa sebagai generasi penerus harus dibekali dengan pengetahuan mengenai pola budidaya dan analisa usaha tani yang dapat memberi keuntungan yang maksimal. Kegiatan magang ini akan memberikan modal kepada mahasiswa untuk merencanakan usaha dibidang budidaya tanaman sayuran mulai dari perencanaan proposal usaha, budidaya tanaman sampai perhitungan laba/rugi sehingga dapat mengusahakan lahan pertanian secara mandiri.