• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: Pertanian

Perbaikan Produktivitas Ternak Ruminansia Pada Peternakan Rakyat Melalui Pemberian Growth Promoting Feed Supplement.

Kata kunci: Produktivitas, ternak ruminansia, nutrisi.

Widyawati, Susi Dwi; S.S., Wara Pratitis; Utomo, Ristianto; Budhi, Subur Priyono Sasmito*)
Fakultas Pertanian UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti, 2006.

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui efek rasio urea dan molasses dalam mengoptimalkan sintesis protein mikroba, 2) mengetahui efek penggunaan daun ketepeng sebagai sumber kuinon dan minyak ikan lemuru sebagai sumber asam lemak tak jenuh (Poly Unsaturated Fatty Acid =  PUFA) dalam upaya menekan produksi gas metan dalam rumen, 3) mengetahui efek sumber protein bypass untuk meningkatkan ketersediaan protein bagi induk semang.
Percobaan 1 dirancang mengikuti Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3×2x2 dilakukan untuk mengevaluasi nilai nutrisi pakan suplemen yang ditambahkan dalam pakan basal rumput lapang melalui teknik gas tes. Perlakuan sebanyak 12 macam yang merupakan kombinasi faktor A, 2 taraf yaitu rasio urea : molasses = 1:5; 1:6 dan 1:7, faktor B ada 2 macam yaitu bungkil kedelai dan daun lamtoro sebagai pakan sumber protein bypass dan faktor C ada 2 macam yaitu daun ketepeng dan minyak ikan lemuru sebagai agensia penghambat produksi metan. Derajat keasaman (pH) dari 12 ransum yang diuji menunjukkan optimal untuk aktivitas mikrobia dalam rumen khususnya selulolitik yaitu antara 6.78 - 6.87. Kondisi ini akan memicu mikrobia untuk melaksanankan perannya dalam memfermentasi pakan serat, seperti rumput lapang. Konsentrasi NH  sebagai hasil akhir fermentasi protein pakan dipengaruhi oleh rasio urea: molasses, sumber protein bypass dan interaksi antara urea : molasses dan agensia penghambat produksi metan. Produksi VFA berkisar antara 82.74 - 110.22 mM, nilai ini cukup baik untuk pertumbuhan dan aktivitas mikrobia dalam rumen. Produksi C2 dipengaruhi oleh taraf urea: molasses, produksi C3 dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor yng diterapkan dan C4 lebih dipengaruhi oleh faktor taraf urea : molasses dan pakan sumber protein bypass. Nisbah C2/C3 memberikan angka hasil interaksi ketiga faktor. Protein mikrobia tertinggi (P < 0.05) pada perlakuan rasio U:M 1:6, bungkil kedelai dan daun ketepeng (5.137 mg/100 ml), hasil yang tidak berbeda pada rasio U:M 1:7, daun lamtoro dan minyak ikan lemuru. Protein mikrobia terendah (1.808 mg/100 ml) dihasilkan oleh rasio U:M 1:5, daun lamtoro dan daun ketepeng. Keadaan ini menunjukkan optimalisasinya kondisi lingkungan rumen bagi mikrobia. Laju produksi gas total pada perlakuan U:M 1:7, bungkil kedelai dan minyak ikan lemuru 1.7%/jam sedangkan tertinggi 2.7%/jam pada perlakuan U:M 1:5, bungkil kedelai, minyak ikan lemuru. Kedua fakta ini menunjukkan rasio U:M 1:5 dan 1:7 menyebabkan perbedaan laju produksi gas, semakin tinggi rasio U:M akan semakin lambat lajunya. Penggunaan sumber protein bypass dan rasio U:M nyata (P < 0.05) mempengaruhi produksi gas metan (CH ). Dengan kondisi lingkungan yang optimal, maka mikrobia dapat tumbuh dan beraktivitas secara baik, pada akhirnya kecernaan dari ransum yang diuji mempunyai nilai yang cukup baik yaitu antara 62.10%-70.41%.
Percobaan 2 dilakukan untuk mengetahui degradasi ransum dalam rumen melalui teknik in sacco. Persamaan Orskov dan McDonald (1979) P= a + b (1-ect) digunakan untuk mengetahui fraksi yang mudah larut (a). fraksi yang sulit larut tetapi potensial terdegradasi (b) dan laju penyusutan fraksi b (c). Degradasi BK, BO dalam rumen selama 72 jam tidak dipengaruhi oleh perlakuan yang diterapkan, namun degradasi serat kasar (SK) dipengaruhi oleh rasio urea dan malases. Keadaan memberikan indikasi bahwa urea dan molasses mampu menyediakan energi tersedia dan sumber Nitrogen untuk aktivitas dan pertumbuhan mikrobia dalam rumen khususnya bakteri golongan selulolitik dan hemiselulolitik tercermin dari degradasi SK nya.

Kajian Iradiasi Pada Buah Pisang Untuk Memperpanjang Umur Kesegaran Dengan Memanfaatkan Sinar Gamma Dari Pasca Shut-Down Reaktor Nuklir Kartini Batan.

Kata kunci: pisang, sinar Gamma.

Riyatun; Handayani, Sri; Sarjono, Yohannes*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian , Dikti, Hibah Bersaing, 2006.
Radiasi-y yang berasal dari reaktor nuklir Kartini BATAN diaplikasikan pada buah pisang untuk memperpanjang umur kesegarannya. Pemilihan sumber radiasi dari reaktor pasca shutdown didasarkan pada pemikiran bahwa reaktor nuklir setiap saat memancarkan radiasi-y baik dalam kondisi beroperasi maupun shutdown. Apabila proses iradiasi-y dilakukan ketika reaktor sedang beroperasi maka kebolehjadian seluruh partikel hasil reaksi fisi inti akan rnengenai pisang. Hal itu tidak dikehendaki karena partikel radioaktif terutama netron memiliki kebolehjadian besar melakukan reaksi inti pada bahan sehingga mengakibatkan bahan pangan bersifat radiaktif. Oleh karena itu proses iradiasi-y dilakukan pada waktu reaktor shut-down. Konsekuensinya dosis radiasi-y yang dipancarkan adalah sangat kecil, yakni berorde Gy.
Pisang dipilih menjadi obyek penelitian karena beberapa hal. Ketersediaan pisang setiap saat akan memudahkan penelitian, sifat buah pisang adalah masak klimakterik sehingga mudah diamati efek penundaan terhadap pemasakan buah dan buah pisang segar memiliki peluang dijadikan komoditi agrobisnis. Pisang dipilih dari 2 sisir terbaik, dipotong per jari dan dibersihkan kemudian dimasukkan dalam kantong plastik tertutup tanpa divakum. Buah dikelompokkan dalam 4 kelompok dan diperlakukan dengan dosis iradiasi-y sebesar 0 ; 8,04 ; 9,36 ; 17,00 dan 19,72 Gy.
Efek radiasi-y terhadap kualitas buah pisang diamati dengan uji fisik meliputi tekstur dan warna buah, uji kandungan gizi meliputi kadar air, kadar gula dan kadar vitamin C, uji organoleptik meliputi rasa dan aroma.
Meskipun oerde dosis radiasi-y rendah, efek radiasi-y terhadap pisang telah dapat diamati. Dari pengamatan warna kulit buah, tidak dapat dibedakan awal terjadinya pematangan klimakterik pada berbagai kelompok perlakuan, semuanya mulai berwarna kuning sempurna pada hari ke-7. Pada dosis yang lebih tinggi (P  dan P ) pertambahan munculnya bercak coklat lebih lambat daripada dosis sebelumnya. Dan visual warna ini dosis terbesar memberikan penundaan awal pembusukan selama 2 hari.
Analisa statistik dan hasil uji kekerasan/kuat tekan/tekstur menunjukkan bahwa buah pisang yang diiradiasi berbeda dibandingkan kontrolnya. Jadi perlakuan dosis berpengaruh terhadap kekerasan buah. Uji selanjutnya memperoleh hasil bahwa hubungan tersebut tidak signifikan, artinya penelitian ini belum dapat menyimpulkan bahwa semakin besar dosis menjadikan kekerasan buah turun.
Analisa statistik pada hari yang sama terhadap setiap kelompok menunjukkan bahwa kandungan air tiap kelompok tidak berbeda, artinya dosis radiasi tidak mengakibatkan perubahan-perubahan terhadap kandungan air. Hal ini disebabkan proses iradiasi-y tidak meningkatkan suhu buah.
Selama pematangan terjadi peningkatan kadar gula. Hal ini karena adanya proses hidrolisa terhadap polisakarida yang akan menghasilkan monosakarida seperti fruktosa dan glukosa, kemudian akan menurun seiring dengan terjadinya pembusukan. Analisis statistik pada hari yang sama terhadap kelompok sampel mendapatkan bahwa kadar gula tiap kelompok reratanya berbeda secara signifikan. Jadi ada pengaruh dosis radiasi-y yang diberikan pada pisang
Secara statistik, kadar vit-C antara buah kelompok P , P , P2, P  dan P4 pada hari peninjauan yang sama menunjukkan bahwa rata-rata keempatnya adalah berbeda. Dengan analisa regresi hubungan antara kadar vit-C terhadap dosis iradiasi- y adalah tidak signifikan, artinya hubungan antara variabel tersebut tidak berpengaruh nyata. Hal ini menunjukkan bahwa iradiasi-y yang diberikan tidak mengakibatkan kerusakan vit-C terlalu besar. Hal ini mungkin disebabkan karena dosis radiasi-y yang diberikan masih sangat rendah nilainya.
Gambaran di atas memberikan pemikiran untuk mengoptimalkan radiasi-y untuk iradiasi pisang, yaitu diperlukan metode lain penanganan pasca panen pisang dan peningkatan teknik radiasi di reaktor.

Model Pengembangan Arboretum Sebagai Alternatif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Perdesaan Melalui Lingkungan yang Berkelanjutan.

Kata kunci: Arboretum, DAS.

Handayani, Sri*)
Fakultas Pertanian UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.
Penelitian ini dilakukan karena keprihatinan peneliti melihat semakin meningkatnya kerusakan lingkungan yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan yang berpengaruh terhadap kelestarian alam (tanah, air dan tumbuhan), khususnya pada DAS. Kerusakan lingkungan yang semakin parah perlu segera mendapatkan penanganan yang intensif dari berbagai pihak secara terpadu, namun hal tersebut belum dilakukan secara optimal.
Dengan demikian perlu segera dilakukan pengelolaan DAS yang tepat dan efektif yaitu dengan pengembangan arboretum yang dikembangkan sebagai fasilitas pendidikan dan penelitian botani (plant sciences) sekaligus rekreasi alam (Botanical Gardens & Natural Habitat), sehingga pengembangan arboretum tersebut memiliki nilai tambah disamping fungsi utamanya adalah pelestarian lingkungan termasuk tanah, air dan vegetasi aneka tanaman untuk mencegah terjadinya pengikisan erosi.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode, diantaranya pengamatan lapangan, wawancara mendalam, focus group discussion serta metode simak. Analisa data menggunakan interaktif. Lokasi penelitian yang menunjang adalah kawasan Kahyangan, Dukuh Dlepih, Desa Banyakprodo, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Karakter kawasan berkontur dengan panorama alam berupa pegunungan Trebis yang dibelah oleh Sungai Kayangan yang merupakan anak Sungai Tirtomoyo dan bermuara di Waduk Gajahmungkur Wonogiri.
Tujuan utama penelitian adalah merumuskan model pengembangan arboretum sebagai alternatif pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan. Hal ini dicapai melalui 3 tahap, tahap awal (tahun 1) mengkaji karakter fisik kawasan dengan mengutamakan karakteristik lokal, serta kajian sosial mapping masyarakat sekitar. Tahun ke 2 ekplorasi masyarakat perdesaan dengan peluang dan kendalanya yang dikaitkan dengan hasil tahun pertama untuk dirumuskan ke dalam draft model pengembangan arboretum. Tahun III, melaksanakan sosialisasi dan kordinasi rumusan model pengembangan arboretum secara terpadu kepada kepada instansi terkait.
Dari hasil kajian lapangan dapat disimpulkan bahwa sebetulnya kawasan Kahyangan sudah berkarakter sebagai kawasan arboretum. Dalam pengembangan arboretum, secara spasial makro, lokasi settingnya sesuai dengan karakter potensi kawasan lokal, berada di dataran tinggi berhawa sejuk berdampingan dengan DAS, memiliki koleksi tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim dan topografi wilayahnya, serta terdapat beberapa jenis tanaman, khususnya tanaman keras. Sedangkan secara spasial mikro peruangan, masing-masing fasilitas yang tersedia harus disesuaikan dengan karakter kegiatan yang diwadahi di dalamnya Secara umum pembagian zona dalam kawasan berdasarkan fungsi dan fasilitas yang disediakan. Kawasan ini merupakan kesatuan yang selaras antara kegiatan pelestarian lingkungan melalui sistem pendidikan dan rekreasi. Hal ini diwujudkan dalam bentuk draft model pengembangan arboretum yang berkelanjutan.

Identifikasi Morfologi, Kultur Jaringan Dan Analisis Awal Isozim Bibit Jarak Pagar Di Provinsi Jawa Tengah

Kata kunci: tanaman jarak pagar, morfologi, isozim, kultur jaringan.

Yunus, Ahmad; Suntoro; Yuni, Endang; Triharyanto, Eddy; Sutrisno, Joko; Sugiyono*)
LPPM UNS, Penelitian, Balitbang Jateng, RUD, 2006.

Tanaman jarak pagar merupakan salah satu tanaman penghasil bahan bakar alternatif. Permasalahan yang dijumpai selama ini antara lain sedikitnya informasi tentang sumber genetik, keragaman genetik dan hubungan kekerabatan antar spesies tanaman jarak pagar di Jawa Tengah dan bahkan di Indonesia. Selain itu metode perbanyakan tanaman jarak pagar melalui kultur jaringan juga belum berjalan secara efektif. Keragaman antar spesies-spesies tanaman jarak pagar dapat diketahui melalui penanda morfologi dan isozim, kedua penanda ini menghasilkan pengelompokan spesies-spesies tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanaman jarak pagar berdasarkan penanda morfologi dan penanda isozim serta menentukan metode kultur jaringan yang efisien.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Desember 2006. Penelitian morfologi tanaman jarak pagar dilakukan di beberapa Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian analisis isozim dan kultur jaringan dilaksanakan di Laboratorium Sentral Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pada studi morfologi yang diamati adalah bagian-bagian vegetatif dan generatif. Analisis isozim dilakukan dengan menggunakan 12 sistem enzim. Eksplan pada kultur jaringan berasal dari daun muda dan hipokotil, kemudian diinduksi untuk membentuk tunas adventif dengan perlakuan pemberian konsentrasi auksin (IBA) : 0,5 ppm; 1 ppm; 2 ppm; 4 ppm dan pemberian konsentrasi sitokinin (BAP) : 0,5 ppm; 1 ppm; 2 ppm; 4 ppm, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan 3 ulangan. Analisis data pada studi morfologi menggunakan analisis Cluster metode Average Linkage dengan Square Euclidean, pada analisis isozim menggunakan metode pengelompokan Cluster metode Average Linkage dengan koefisien DICE.
Hasil penelitian berdasarkan karakter morfologi terdapat 6 kelompok spesies yang mempunyai kedekatan kekerabatan yaitu : Banjarnegara (spesies 1) dan Kudus (spesies 2); Purbalingga (spesies 2) dan Cilacap (spesies 1); Purbalingga (spesies 1), Purbalingga (spesies 3) dan Banyumas (spesies 2); Grobogan dan Boyolali; Pemalang, Sragen, Kendal dan Batang; Purworejo (spesies 2) dan Kebumen (spesies 2). Berdasarkan analisis enzim 6-Phosphogluconate dehydrogenase (6PG), Sorbitol dehydrogenase (SOD) dan Schimimate dehydrogenase (SHD) menunjukkan bahwa spesies dari Kudus I (PT. Pura Kudus) berbeda dengan spesies yang lain sedangkan berdasarkan analisis enzim Alcohol dehydrogenase (ADH), Aconitase (AGO), Diaphorase (DIA) dan Isocitrate dehydrogenase (IDH) menunjukkan bahwa spesies dan Grobogan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Kudus I (PT. Pura Kudus). Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan bisa dilaksanakan tetapi masih memerlukan pengujian lebih lanjut.

Peningkatan Kualitas Dan Kuantitas Produksi Buah Stroberi Di Daerah Tawangmangu Melalui Penerapan Pola Tanam Secara Organik Pada Bangunan Greenhouse.

Kata kunci: kuantitas produksi, kualitas produksi, stroberi, pola tanam secara organik, greenhouse.

Ariani, Sri Retno Dwi*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Lipi, 2006.

Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah terletak di sebelah barat lereng Gunung Lawu dengan ketinggian antara 100 meter - lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Salah satu Kecamatan di Kabupaten Karanganyar adalah Kecamatan Tawangmangu. Keadaan pertanian di Kecamatan Tawangmangu sangat baik, terutama untuk produksi tanaman pangan dan hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan). Tidak stabilnya harga komoditas sayur mayur dewasa ini mendorong sejumlah petani di sentra pertanian Tawangmangu beralih mengembangkan budidaya stroberi. Alasannya, harga jual buah stroberi lebih stabil dan nilai jualnya lebih tinggi. Stroberi yang paling cocok ditanam di daerah Tawangmangu adalah varietas Tristar, Bali Keriting, Holand, Selva dan Anastasia.
Saat ini di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar telah tercatat sebuah kelompok tani yang bergerak di bidang agribisnis stroberi, yaitu Kelompok Tani Sekar Jingga. Kelompok Tani stroberi ini dirintis sejak tahun 1997, dengan ketua Bapak Warsito, membawahi 22 pengusaha tani. Sampai saat ini kebun stroberi yang dikelola seluas 2,63 hektar. Usaha di bidang agribisnis stroberi, secara total telah menyerap 64 tenaga kerja yang merupakan penduduk asli desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Keberadaan usaha tersebut telah mengukuhkan keberadaan Tawangmangu sebagai sentra baru penghasil stroberi.
Permasalahan utama yang dihadapi pada produksi buah stroberi oleh Kelompok Tani Sekar Jingga di daerah Tawangmangu adalah : (1). Stroberi yang ditanam di lahan terbuka di daerah Tawangmangu tidak dapat berbuah secara kontinu sepanjang tahun. Produksi buah stroberi tergantung pada musim. Pada saat musim hujan, tanaman stroberi tidak dapat berbuah. Pada sekitar tahun 1997-2004 rata-rata dalam setahun tanaman stroberi bisa berbuah selama 7 bulan, dengan jumlah yang fluktuatif tergantung cuaca. Sedangkan pada saat musim penghujan, tanaman stroberi tidak dapat berbuah sama sekali. Hal ini tentu saja ditinjau secara ekonomis kurang menguntungkan, karena selama 5 bulan, praktis para petani tidak dapat menghasilkan buah stroberi, (2). Pada analisis situasi diatas dijelaskan pula, pada saat cuaca cerah rata-rata dapat dipanen stroberi sebesar kurang lebih 30 % (Kelas A), 50 % (Kelas B) dan 20 % (Kelas C). Sedangkan pada saat musim penghujan, tanaman stroberi tidak dapat berbuah sama sekali. Guna meningkatkan efisiensi produksi diharapkan ada suatu teknologi budidaya stroberi yang dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas buah stroberi.
Tujuan umum dari kegiatan ini adalah menghasilkan suatu teknologi budidaya stroberi yang  menyebabkan strobefi dapat berbuah sepanjang tahun sehingga pasokan ke supermarket/swalayan, pasar tradisional dan tempat wisata dapat berlangsung kontinyu tidak tergantung iklim serta untuk  meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi buah stroberi.
Peiaksanaan teknis yang telah dilakukan adalah : (1). Penyampaian informasi program Iptekda tentang “Peningkatan Kualitas Dan Kuantitas Produksi Buah Stroberi Di Daerah Tawangmangu Melalui Penerapan Pola Tanam Secara Organik Pada Bangunan Greenhouse” kepada Kelompok Tani Sekar Jingga, (2). Perguliran bantuan Tahap I kepada Kelompok Tani Sekar Jingga (Rp 10 juta rupiah), (3). Membuat rancang bangun greenhouse dengan sistem rak bertingkat (verticulture), (4). Pendampingan pembangunan greenhouse dengan sistem rak bertingkat (verticulture) untuk budidaya stroberi organik pada lahan seluas 200 m2. Greenhouse ini milik bersama Koperasi Sekar Jingga yang nantinya akan dijadikan sebagai percontohan, (5). Perguliran bantuan kredit Tahap II kepada Kelompok Tani Sekar Jingga (Rp 13 juta rupiah), (6). Penyuluhan dan pelatihan tentang Stroberi, (7). Penyuluhan dan pelatihan tentang Panen dan Pasca Panen Buah Stroberi, (8). Penyuluhan dan pelatihan tentang Budidaya Stroberi Pada Bangunan Greenhouse , (9). Penyuluhan dan pelatihan tentang Pembibitan Tanaman Stroberi dengan Metode Sulur kepada Kelompok Tani Sekar Jingga, (10). Perguliran bantuan kredit Tahap III kepada Kelompok Tani Sekar Jingga (Rp 15 juta rupiah), (11). Pendampingan pembangunan greenhouse dengan sistem rak bertingkat (verticulture) untuk budidaya stroberi organik pada lahan seluas 900 m2. Greenhouse ini milik Bapak Warsito (400 m2,), Bapak Sukiman 100 m2, Bapak Kamidin 200 m2, Bapak Warsono (100 m2 1), Bapak Mijan (100 m2) dan Bapak Panut (papan nama, label dan kemasan), (12). Pendampingan pengadaan merek dagang dan paban nama untuk produk stroberi organik yang dipasarkan oleh salah satu anggota Kelompok Tani Sekar Jingga yaitu Bapak Panut, (13). Perguliran bantuan kredit tahap IV kepada Kelompok Tani Sekar Jingga (Rp 34 juta rupiah), (14). Pendampingan pengadaan label dan kemasan untuk produk stroberi organik yang dipasarkan oleh salah satu anggota Kelompok Tani Sekar Jingga yaitu Bapak Panut, (15). Penyuluhan dan pelatihan tentang Pemanfaatan Pupuk Organik Pada Budidaya Stroberi, (16). Penyuluhan dan pelatihan tentang Pemanfaatan Pestisida Organik Pada Budidaya Stroberi, (17). Perguliran bantuan kredit tahap V kepada Kelompok Tani Sekar Jingga (Rp 8 juta rupiah), (18). Pendampingan pembangunan greenhouse milik anggota sampai 100 % bisa dioperasionalkan untuk budidaya stroberi organik, (19). Penyuluhan dan pelatihan tentang kelanjutan pasca kegiatan Iptekda, perguliran dana Iptekda dan bagaimana tata cara pengangsuran yang benar
Adapun dampak yang telah dicapai dalam rangka kegiatan IPTEKDA LIPI IX ini adalah sebagai berikut : (1). Telah didirikan bangunan greenhouse untuk budidaya stroberi organik oleh Kelompok Tani Stroberi Sekar Jingga seluas 1.100 m  di daerah Kalisoro Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah, (2). Telah dihasilkan merek dagang stroberi organik (Saji Mulyo), papan nama Saji Mulyo di ujung gang dan di depan rumah, kemasan plastik stroberi organik (100 gram) dan (50 gram) serta label (Saji Mulyo), (3). Produk stroberi organik yang dihasilkan merupakan produk lebih unggul dari stroberi non organik (kelebihannya antara lain : mengurangi asupan bahan kimia beracun ke dalam tubuh, memberhentikan kemungkinan masuknya sel-sel produk pertanian hasil rekayasa genetika yang sampai kini belum diketahui bahaya dan akibatnya terhadap kesehatan, meningkatkan asupan nutrisi bermanfaat, seperti vitamin, mineral, asam lemak esensial , dan antioksidan, menurunkan resiko kanker, penyakit jantung koroner, alergi, dan hiperaktifitas pada anak-anak, rasanya lebih manis dan lebih segar, teksturnya lebih padat dan lebih tahan lama), (4). Dapat dihasilkan tanaman stroberi yang sanggup berbuah sepanjang tahun, tidak tergantung cuaca. Stroberi yang dihasilkan memiliki kualitas maupun kuantitas yang lebih baik dibandingkan produksi stroberi sebelum kegiatan, (5). Dari segi kualitas, kelebihan stroberi organik yang dibudidayakan pada bangunan greenhouse adalah rasanya lebih manis, lebih segar, teksturnya lebih padat dan lebih tahan lama (1 ming;gu tidak dipetik dari tanaman, buah belum rusak sedangkan tanaman stroberi di lahan terbuka harus sudah dipetik sebelum 2 hari) dan (6). Dari segi kuantitas, kelebihan stroberi organik yang dibudidayakan pada bangunan greenhouse adalah : pada saat musim penghujan, tanaman stroberi di lahan terbuka tidak dapat berbuah sama sekali, sedangkan pada bangunan greenhouse buah stroberi dapat dipanen rata-rata 5-7 Kg buah stroberi/100 m  tiap 2 hari sekali.