Kata kunci : wereng coklat, hama tanaman, biotipe.

Wijayanti, Retno; Supriyadi*)
Fakultas Pertanian UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2007.

Wereng coklat, Nilaparvata lugens merupakan salah satu hama penting tanaman padi.  Pengendalian yang dilakukan dengan menggunakan varietas unggul tahan wereng (VUTW)  belum berhasil memuaskan, populasi wereng  membentuk biotipe baru yang mampu  mematahkan ketahanan varietas tersebut dalam 3-4 musim tanam.  Kajian fenomena pembentukan biotipe N. lugens belum  banyak dilakukan. Hal tersebut  menyebabkan strategi penanganan yang diambil sering kurang berhasil memuaskan.  Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian tahun pertama difokuskan pada upaya untuk: (i) mengidentifikasi status biotipe beberapa koloni  N. lugens; (ii) mengidentifikasi  sifat morfologi dan biologi biotipe-biotipe N. lugens; (iii) Mengidentifkasi karakter molekular biotipe N. lugens berdasar penanda protein total.
Identifikasi biotipe dilakukan dengan uji kemampuan makan   pada varietas kelompok bph 2 (IR 42), bph-3 (IR 64), dan kelompok bph 4 (IR 74).  N virscens yang diuji dikoleksi dari wilayah serangan  wereng coklat, yakni diamati ukuran morfologi luar, yakni panjang tubuh, panjang sayap depan, panjang kepala, panjang tungkai belakang, panjang stilet, panjang ovipositor, dan lebar kepala. Sifat biologi diukur  mortalitas nimfa, lama umur nimfa dan imago yang diujikan pada tingkat  ketahanan kultivar padi berbeda.  Profil pita esterase protein total dikerjakan dengan teknik elektroforesis pada SDS-PAGE.  Konsentrasi SDS untuk stacking gel 3 %, sedangkan running gel 10%.
Hasil penelitian ini yang telah dicapai pada kegiatan tahun pertama menunjukkan bahwa status biotipe wereng N. lugens asal Pacitan  dan Blora  (non endemi) menunjukkan kesamaan yakni termasuk biotipe 3 dan menunjukkan reakti tahan terhadap kultivar tahan IR 74.  Sementara itu, koloni asal Sumatera Utara dan Klaten meskipun juga termasuk biotipe 3, namun menunjukkan reaksi moderat tahan terhadap kultivar IR 74.  Artinya, koloni asal Sumatera Utara dan Klaten cenderung berkembang menjadi biotipe baru.  Kemampuan bertahan hidup pada kultivar tahan (IR 74) wereng N. lugens asal koloni Blora menunjukkan reaksi kematian paling tinggi dibanding dengan asal koloni lainnya.  Koloni wereng asal Blora juga menunjukkan karakter protein yang berbeda dengan asal koloni lain, yakni protein dengan berat molekul 31,9-33,9 kDa hanya muncul pada koloni Blora dan tidak dijumpai pada koloni lain.  Hal ini menunjukkan adanya perbedaan sifat genetik mengingat semua koloni wereng telah dibiakkan secara massal pada kondisi lingkungan sama.