Kata kunci: pengaruh, ekowisata, sosial budaya.

Ernawati,Diyah Bekti; Agus, Sri; Sugiarti, Rara; Setyaningsih, Wiwik*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.

Taman Nasional Gunung Halimun merupakan kawasan yang luas dan memiliki potensi sumber daya alam dan budaya yang sebagian telah dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata minat khusus, yakni ekowisata. Daya tarik wisata alam yang utama adalah berupa keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna yang dapat dinikmati dalam suasana alam pegunungan yang sejuk, tenang dan segar.
Beberapa permasalahan dalam pengelolaan dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun antara lain adalah 1) pengelolaan belum dilaksanakan secara optimal, 2) terdapat friksi pengelolaan kawasan antara pihak pemerintah serta penguasa adat dalam hal ini Abah Anom, 3) adanya perubahan menuju pola hidup konsumtif yang dapat mengancam kelestarian sumber daya alam, 4) belum ada pembagian zonasi yang jelas di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, 5) perawatan dan pengelolaan sarana belum optimal karena keterbatasan dana, 6) belum ada kerja sama untuk menyusun tapak kawasan (site plan) TNGH, 8) belum terwujudnya nota Memorandum of Understanding/MoU antara pemerintah dengan masyarakat setempat, 9) pengelolaan sarana akomodasi yang belum memihak masyarakat setempat, serta 10) kurangnya upaya promosi produk yang dimiliki oleh masyarakat di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
Semenjak kawasan Gunung Halimun ditetapkan menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun terdapat beberapa perubahan sosial ekonomi dan budaya yang menyangkut kehidupan masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan tersebut, baik perubahan yang bersifat positif (menguntungkan masyarakat) maupun negatif (merugikan masyarakat). Beberapa perubahan antara lain terjadi pada kesempatan atau peluang kerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan (additonal income) seperti menjadi pemandu atau pramuwisata serta menjadi penyedia jasa akomodasi maupun online casino menyediakan layanan boga (makan minum) kepada wisatawan yang datang ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Perubahan lainnya juga terjadi pada penggarapan lahan yang semula merupakan lahan Perum Perhutani dan sekarang sebagian masyarakat berasumsi adanya keterbatasan akses kepada sumber daya yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Masyarakat tidak diperbolehkan lagi untuk merambah kawasan hutan. Lahan hutan yang telah dibuka oleh masyarakat setempat untuk kegiatan pertanian tidak boleh diperluas.
Balai Taman Nasional Gunung Halimun membangun pusat penelitian (research station) Cikaniki dilengkapi dengan sarana dan prasarananya untuk penelitian dan sekaligus dijadikan salah satu tempat penginapan di tengah hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, menerbitkan dan menyebarkan luaskan informasi penting tersebut pada masyarakat luas, menjadikan Pusat penelitian Cikaniki Taman Nasional Gunung Halimun sebagai pusat kegiatan mahasiswa baik menyangkut pengamatan aneka ragam satwa dan hayatinya serta adat istiadat masyarakatnya, membangun “looptrail” untuk memudahkan memandu para peneliti/wisatawan minat khusus untuk memasuki hutan, membangun “jembatan tajuk” untuk mengadakan penelitian dan pengamatan aneka ragam burung, dan melihat pemandangan hutan, membangun tempat penginapan (guest-house) bagi para wisatawan dan sekarang ini pengelolaannya dan pemeliharaannya diserahkan kembali pada warga masyarakat.