Rabu, 4 Agustus 2010 bertempat di gedung LPPM UNS, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (LPPM UNS) menggelar surveillance audit periode ke 2 tahun 2010. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mempertahankan raihan ISO 9001:2008 pada tahun 2008.

Menurut Prof. Dr. Sunardi, MSc, Ketua LPPM UNS yang juga penanggungjawab ISO 9001:2008 di LPPM UNS “Surveillance audit kali ini lebih menekankan pada pemeriksaan dokumentasi P2M yang dilakukan pusat studi di LPPM UNS yakni Pusat Penelitian Kependudukan (PPK), Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata (Puspari), Pusat Studi kesehatan Seksual (PSKS) serta Pusat penelitian dan Pengembangan Gender (P3G)”.

“Harapannya pada tahun 2010 ini predikat ISO 9001:2008 masih bisa melekat pada kita (LPPM UNS)”, tambah Prof. Sunardi di sela-sela opening meeting surveillance audit.

Sedangkan menurut Basuki Widodo, Lead Auditor ISO 9001:2008 dari Global Solution “pada survaillance audit periode 2 ini hal-hal yang akan ditekankan sering saya singkat 4 C antara lain : (1) Care; (2) Consistency; (3) Continue improvement; (4) Complete to regulation“.

4C tersebut menggambarkan kepedulian dan konsistensi pelaksana standar operational ISO 9001:2008 terhadap aktivitas ataupun kinerjanya, dampak ataupun pengaruh pelaksanaan ISO 9001:2008 bagi pelaksana maupun pengguna jasa pada tahun ke 2 serta kesesuaian dokumen-dokumen dalam ISO 9001:2008 dengan anturan-aturan dari pemerintah pusat yakni Kementerian Pendidikan Nasional yang menaungi LPPM UNS.

“untuk metode audit yang akan saya gunakan adalah 3 D yakni Diskusi, Demonstrasi, dan Dokumentasi”, terang Basuki Widodo saat opening meeting.

Ke 4 kepala pusat studi yang diaudit pada hari ini berdiskusi terlebih dahulu dengan lead auditor yang kemudian mereka dipersilakan mendemonstrasikan atau mempresentasikan hal-hal yang menjadi tinjauan auditor. Dilanjutkan dengan cek dan ricek dokumentasi yang telah disusun pusat studi.

“Seperti yang kita harapkan bersama semoga tidak ada temuan yang signifikan yang menandakan ketidaksesuaian aktivitas di lapangan dengan dokumentasi yang ada. Sehingga predikat ISO 9001:2008 tetap melekat pada Lembaga Bapak dan Ibu ini”, harap Basuki Widodo.