Wayang beber merupakan produk kearifan lokal Kabupaten Pacitan yang dalam perkembangannya mulai menjadi barang langka dan terancam punah.

Menurut Peneliti sekaligus pengabdi LPPM UNS yang concern merevitalisasi wayang beber Dr. Warto, M.Hum, di sela-sela acara road show LPPM UNS, 22 September 2011 mengungkapkan bahwa wayang beber adalah aset yang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam memperkuat identitas nasional. Meskipun semakin ditinggalkan penonton karena berbagai alasan, oleh sebagaian masyarakat Pacitan terutama warga desa Karang Talun, desa Gedompol masih dipelihara dan dilestarikan sebagai sarana upacara adat yang berkaitan dengan siklus hidup.

“Selain semakin ditinggalkan penonton, wayang beber juga semakin terjepit oleh budaya modern yang lebih menonjolkan hal-hal yag rasional, pragmatis dan materialistis yang cenderung kurang peduli terhadap seni tradisi yang bermuatan spiritualis”, ungkap Dr. Warto.

“Bahkan kesadaran bahwa wayang beber adalah asset daerah atau nasional yang tinggi nilainya yang sewaktu-waktu dapat diklaim oleh pihak lain ternayata belum cukup mendorong para pihak yang berkepentingan dengan kesenian ini untuk melangkah lebih jauh menemukan cara-cara yang efektif dalam melestarikan wayang beber”, jelasnya lagi.

Dengan melihat beberapa persoalan tersebut Dr. Warto dan tim peneliti LPPM UNS menawarkan beberapa solusi untuk menjaga wayang beber dari kepunahan, antara lain meliputi usaha memperkenalkan wayang beber kepada masyarakat luas dan menumbuhkan kebanggaan terhadap wayang beber.

Kongritnya, dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas melalui berbagai media, misalnya pemasangan gambar-gambar wayang beber secara luas di ruang publik; meningkatkan pengetahuan dan pemahaman generasi muda terhadap wayang beber meliputi sejarah asal-usul, bentuk seni lukis, nilai-nilai filosofis wayang, dan sebagainya melalui kegiatan pembelajaran di sekolah; membuat publikasi tentang pakem wayang beber Pacitan berdasarkan pengetahuan keluarga asli dari Desa Gedompol; serta mengintegrasi seni lukis wayang beber ke dalam seni kerajinan batik yang terdapat di sentra-sentra pembuatan batik, seperti di Kecamatan Ngadirojo dan Kecamatan Pacitan.

“Sangat perlu sinergi antara pemerintah, swasta dan masyarakat luas untuk merealisasikan beberapa langkah di atas agar usaha yang diupayakan tidak sekedar letupan-letupan sesaat yang akhirnya menghilang”, harap Dr. Warto