• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: Ekonomi

Relokasi Peralatan dan Ruang Rumah Potong Ayam (RPA) dalam Rangka Penyediaan Daging Ayam Broiler yang Berkualitas dan Menyehatkan bagi Konsumen.

Kata kunci : rumah potong ayam (RPA), daging ayam broiler, relokasi.

Rahayu, Endang Tri; Intansari, Ayu; Riyanto, Joko*)
Fakultas Pertanian UNS, Pengabdian Dikti, Vucer, 2007.

Pengabdian dilakukan pada usaha RPA milik bapak Yuniarso di Jl. Untung Suropati no 119 Surakarta. Pada awal survey, kondisi RPA terlihat kurang sehat,  lay-out tata ruang RPA terkesan seadanya tanpa memperhatikan aspek higinitas, sanitasi dan kesehatan karkas.  Tidak dipisahkan antara area/ruang (compartement) sangat kotor (superdirty area), kotor (dirty area) dan bersih (clean area) demikian pula antara ruang basah dan ruang kering sehingga menyebabkan karkas yang diperoleh tidak aman, sehat dan utuh dikonsumsi. Pemisahan non karkas dan perecahan karkas menggunakan meja, namun tidak layak karena menggunakan bahan papan, tidak tersedia tempat penanganan limbah bulu dan isi jerohan, satu bak digunakan sekaligus untuk mencuci jerohan.  Kondisi tersebut sangat tidak menjamin ketersediaan daging ayam broiler yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal).
Tujuan dari kegiatan ini adalah relokasi peralatan dan renovasi ruang RPA, yaitu tersedianya area yang terpisah antara area kotor, agak kotor, bersih, dan kering. Dengan kondisi RPA yang sehat maka diharapkan akan dapat menyediakan daging ayam yang ASUH sehingga aman untuk dikonsumsi oleh konsumen.
Adanya kegiatan relokasi peralatan dan renovasi ruang RPA sangat dirasakan manfaatnya oleh mitra kerja karena lokasi RPA menjadi bersih dan RPA dapat menyediakan daging ayam yang aman untuk dikonsumsi.

Model Pemberdayaan dan Diversifikasi Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Sumberdaya Pertanian : Studi di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah.

Kata kunci : diversifikasi ekonomi, agrowisata, Stakeholder Collaboration Empowerment Model (SCEM)

Irawan, Bambang; Supriyadi; Sugiarti, Rara; Warto*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk merumuskan model pemberdayaan dan diversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menemukenali potensi pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, mengeksplorasi berbagai sumber daya (alam, sosial, budaya) dan daya dukung lainnya yang dapat menunjang pembangunan pariwisata untuk memberdayakan dan mendiversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan, mengidentifikasi SDM pedesaan dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian (agrowisata), merumuskan model pemberdayaan dan diversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian di Kabupaten Boyolali, mengujicobakan, menyempurnakan dan merekomendasikan model pemberdayaan dan diversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian kepada elemen pemangku kepentingan terkait untuk diimplementasikan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan dan peningkatan pengalaman wisatawan.
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Boyolali dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut memiliki sumber daya pertanian yang beraneka ragam. Populasi penelitian adalah semua elemen pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata di Kabupaten Boyolali termasuk pemerintah, swasta (pengusaha bisnis pariwisata), serta asosiasi terkait dan masyarakat setempat. Teknik cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball. Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer berupa informant yang terdiri atas perwakilan dari berbagai unsur stakeholders pariwisata. Data sekunder berupa berbagai dokumen yang relevan. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan beberapa teknik termasuk wawancara mendalam (in-depth interview) dan metode simak (document study).
Data dianalisis dengan teknik analisis model interaktif (Miles and Hubermann, 2003) yang meliputi komponen pengumpulan data, reduksi data,  sajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Dalam teknik analisis ini analisis dilakukan secara terus menerus dari awal pengumpulan data hingga proses verifikasi yang berlangsung mulai dari awal penelitian sampai dengan penelitian selesai. Dengan demikian proses analisis terjadi secara interaktif dan menguji antar komponen secara siklus yang berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama. Dengan menggunakan teknik analisis tersebut hasil kesimpulan telah teruji secara selektif dan akurat.
Hasil penelitian multi-year tentang Model Pemberdayaan dan Diversifikasi Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Pengembangan Pariwisata Berbasis Sumber Daya Pertanian menunjukkan bahwa Kabupaten Boyolali memiliki sumber daya pertanian yang beragam yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata minat khusus, utamanya wisata berbasis sumber daya pertanian (agritourism). Dari berbagai atraksi yang tersebar di wilayah Kabupaten Boyolali tersebut dapat disimpulkan bahwa kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata berbasis sumber daya pertanian karena potensi yang dimiliki serta fasilitas atau sarana dan prasarana yang tersedia serta kebijakan pemerintah maupun upaya-upaya, pengamatan dan kajian yang telah dilakukan oleh pihak swasta seperti biro perjalanan wisata, adalah Kecamatan Selo (Kawasan Selo), Desa Kuwiran di Kecamatan Banyudono dan Desa Tegalrejo di Kecamatan Sawit.
Model pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian di Kabupaten Boyolali disusun melalui beberapa dan berdasarkan beberapa komponen, yakni potensi dan permasalahan, elemen pemangku kepentingan (stakeholder) yang meliputi komponen pemerintah, swasta dan masyarakat, promosi dan pemasaran, serta kewirausahaan masyarakat. Penyusunan model utamanya didasarkan pada permasalahan utama hasil identifikasi yang sudah dilakukan, yakni terbatasnya kerja sama, koordinasi, dan kolaborasi yang dilakukan oleh elemen-elemen pemangku kepentingan terkait di dalam mempromosikan/memasarkan produk, mempersiapkan masyarakat pemilik produk, serta mengelola dan mengembangkan produk yang sudah layak dijual. Oleh karena itu model yang dihasilkan diberi nama Stakeholder Collaboration Empowerment Model (SCEM) atau Model Penguatan Kolaborasi Stakeholder yang menggarisbawahi penguatan kolaborasi antar elemen pemangku kepentingan (stakeholder) sebagai ujung tombak pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian untuk memberdayakan ekonomi masyarakat pedesaan di Kabupaten Boyolali. Model tersebut mengutamakan peran aktif dan kerja sama dari seluruh elemen pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi pertanian yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Boyolali sebagai daya tarik wisata yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam berbagai bidang termasuk ekonomi, sosial dan budaya. Oleh karena itu yang menjadi landasan utama di dalam model tersebut adalah penguatan atau pemberdayaaan kolaborasi (collaboration empowerment) yang dilakukan secara intensif oleh elemen-elemen pemangku kepentingan terkait. Kolaborasi antar elemen pemangku kepentingan tersebut diawali dari kolaborasi di bidang promosi dan pemasaran mengingat salah satu permasalahan utama untuk mengembangkan sumber daya pertanian sebagai daya tarik wisata minat khusus di Kabupaten Boyolali adalah terbatasnya promosi dan pemasaran produk wisata tersebut.

Model Pengembangan Arboretum Sebagai Alternatif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Pelestarian Lingkungan yang Berkelanjutan.

Kata kunci : DAS, pengembangan arboretum, pelestarian lingkungan.

Setyaningsih, Wiwik; Budinetro, Hermono S*)
Fakultas Teknik UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007

Penelitian ini dilakukan karena keprihatinan peneliti melihat semakin meningkatnya kerusakan lingkungan yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh  kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan yang berpengaruh terhadap kelestarian alam (tanah, air dan tumbuhan), khususnya pada DAS. Kerusakan lingkungan yang semakin parah perlu segera mendapatkan penanganan yang intensif dari berbagai pihak secara terpadu, namun  hal tersebut belum dilakukan secara optimal.
Dengan demikian perlu segera dilakukan pengelolaan DAS yang tepat dan efektif yaitu dengan pengembangan arboretum yang  dikembangkan sebagai fasilitas  pendidikan dan penelitian botani (plant sciences)  sekaligus rekreasi alam (Botanical Gardens & Natural Habitat), sehingga pengembangan arboretum tersebut memiliki nilai tambah disamping fungsi utamanya adalah pelestarian lingkungan termasuk tanah, air dan vegetasi aneka tanaman untuk mencegah terjadinya pengikisan erosi.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode, diantaranya pengamatan lapangan, wawancara mendalam, focus group discussion serta metode simak. Analisa data menggunakan  interactive. Lokasi penelitian yang menunjang adalah kawasan Kahyangan, Desa Dlepih, Kabupaten Wonogiri.
Tujuan utama  penelitian tahun ke 2 adalah merumuskan model pengembangan arboretum melalui pemberdayaan masyarakat perdesaan. Hal ini dicapai setelah   ditemukan draft model pengembangan arboretum melalui mapping fisik dan sosekbud masyarakat.Sedangkan tahun 3, melaksanakan sosialisasi dan kordinasi rumusan model pengembangan arboretum secara terpadu kepada instansi terkait.
Dari hasil penelitian tahun ke 2 yaitu rumusan pengembangan arboretum melalui pemberdayaan masyarakat perdesaan dengan menggunakan metode  FGD dan PRA, maka dapat disimpulkan bahwa sebetulnya masyarakat kawasan Kahyangan sangat setuju dan mendukug adanya kegiatan pengembangan kawasan arboretum Kahyangan. Dari hasil kajian menunjukan sebagian besar dari masyarakat lebih memilih kegiatan berdagang dalam kondisi pengembangan arboretum yang sudah mapan dengan tingkat kunjungan  yang tinggi. Padahal keinginan usaha dalam bidang perdagangan/jasa ini belum memungkinkan pada fase awal.  Pilihan usaha lainnya juga termasuk keinginan masyarakat untuk menjadi pekerja di dalam kegiatan pengembangan arboretum.
Dalam pengembangan arboretum di kawasan Kahyangan sebaiknya dengan mempertimbangkan tahapan yang kongkrit dan fleksibel. Diawali dengan mempersiapkan masyarakat dengan program sosialisasi yang tepat  sehingga bisa diterima khususnya oleh masyarakat setempat.

Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat (SIBERMAS) Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri Dalam Upaya Meningkatkan Perekonomian Masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kata kunci : Sibermas, pendapatan masyarakat, kemandirian, kemasyarakatan.

Anantanyu, Suminah*)
LPPM UNS, Pengabdian, Dikti, Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat, 2007.

Program Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat (SIBERMAS) Tahun III, yang melibatkan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Muhamadi-yah Surakarta (UMS) dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri, merupakan upaya nyata Perguruan Tinggi dalam meningkatkan relevansi dan kualitas pelayanan kepada ma-syarakat dengan menyebarkan hasil penelitian0 terapan, kaji tindak maupun paket teknologi tepat guna untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produktif dan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat. Selain itu, SIBERMAS sebagai wahana meluaskan wawasan dan pengalaman perguruan tinggi mengenai keperluan dan masalah nyata yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan SIBERMAS di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri se-cara spesifik bertujuan: (1) Meningkatkan pendapatan masyarakat; (2) Meningkat-kan PAD Kabupaten Wonogiri melalui pemberdayaan potensi masyarakat di bidang pertanian, peternakan, koperasi dan usaha/home industri; (3) Meningkatkan pengetahuan, kemam-puan dan ketrampilan masyarakat; (4) Meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat dan mengembangkan  jiwa kewirausahaan; (5) Meningkat-kan dan merubah sikap dan perilaku positif dari masyarakat dalam upaya menunjang terwujudnya masyarakat mandiri.
Pelaksanaan Program SIBERMAS tahun ke-3 merupakan tindak lanjut dari Program tahun pertama dan tahun kedua yang  dilakukan di tiga desa, yaitu: Desa Ke-puhsari, Desa Pijiharjo dan Kelurahan Pagutan Kecamatan Manyaran Kabupaten Wono-giri Propinsi Jawa Tengah. Pada tahun ke-3 ini, kegiatan melibatkan staf pengajar lintas disiplin ilmu sesuai keahlian yang dimiliki dengan mendasarkan pada  base data yang diperoleh pada tahun pertama. Base data yang merupakan profil wilayah dan masyarakat sasaran diperoleh melalui kegiatan KKPM (Kuliah Kerja Pemberdayaan Masyarakat) mahasiswa, baik dari UNS maupun UMS Surakarta. Dalam pelaksanaan KKPM, mahasiswa dan fasilitator lokal menggunakan metode-metode PRA (Partici-patory Rural Appraisal) dan RRA (Rapid Rural Appraisal) dalam menggali fakta dan potensi masyarakat.
Kegiatan Sibermas Tahun III ini diarahkan pada penanganan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat sasaran.  Berdasarkan fakta yang terkumpul (data base) dan hasil-hasil lokakarya stakeholder dirumuskan permasalahan melalui berbagai perspektif disiplin keilmuan yang berbeda. Berbagai alternatif pemecah-an permasalahan yang dihadapi masyarakat sasaran dikemas dalam berbagai usulan (proposal) pengabdian best online casino kepada masyarakat oleh Perguruan Tinggi. Kegiatan-kegiatan yang diusulkan mencakup aspek-aspek: Fasilitasi, memberikan bantuan teknis dan peralatan dalam rangka mem-perlancar kegiatan pemberdayaan ekonomi produktif keluarga, dan Edukasi, pendam-pingan dan penyuluhan dalam upaya memberdayakan potensi kegiatan ekonomi produktif keluarga.
Melalui dua sumber pembiayaan, Pemerintah Kabupaten Wonogiri dan Di-rektorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun ke-3 Program Sibermas melaksanakan 21 kegiatan, yaitu: (1) Pelatihan pengolahan aneka produk pangan berbahan baku Kacang Hijau, (2) Pengembangan Pemasaran Kacang Oven Melalui  Penerapan Penjaminan Mutu Serta Pendampingan Pemasaran, (3) Upaya Mengurangi Gagal Panen Produksi Kedelai Dengan Tanpa Olah Tanah Pada Sawah Tadah Hujan,  (4) Pemanfaatan Limbah Jambu Mete dan Urine Sapi Menjadi Bio Starter Dalam Pembuatan Pupuk Organik, , (5) Introduksi Perontok dan Pengupas Kedelai di Kec. Manyaran,  (6) Penerapan Pupuk Organik Hasil Demplot Pembuatan Pupuk Organik Untuk peningkatan Harkat Kesuburan Tanah dan Hasil Tanaman Sayuran,  (7) Rancangan Alat Sortasi Biji Mete Sistem Fibrasi Semi Otomatis Untuk meningkatkan Produktivitas Pengolahan Biji Mete di Desa Pijiharjo Kec. Manyaran, (8) Penerapan Tehnologi Budidaya Ayam Kampung Secara Semi Intensif Sebagai Upaya Unuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Desa Kepuhsari,  (9) Diversivikasi Olahan Jambu Mete Menjadi aneka Produk Makanan dan Minuman Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Pendapatan, (10) Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Desa Pijiharjo Melalui Budidaya Itik Tanpa Air, (11) Demplot Aplikasi Teknologi Biogas Dengan Pemanfaatan Kotoran sapi Dalam Upaya Meningkatkan Pengelolaan Pertanian Terpadu  di Kec.Manyaran, (12) Perancangan Website dan Media Promosi Untuk Meningkatkan Produksi Kerajian dan Makanan Kecil Melalui Media Komunikasi Visual, (13) Pemanfaatan Aneka Koro Lokal Menjadi Produk ”Mixed Nuts” sebagai Alternatif Wira Usaha di Kec. Manyaran, (14) Penggunaan Pupuk Dolomit sebagai Sumber Hara Ca dan Mg Meningkatkan Hasil dan Kualitas Kacang Tanah di Kec. Manyaran, (15) Pemanfaatan Limbah Ampas Tahu Menjadi Kerupuk Untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Desa Kepuhsari, (16)  Peningkatan Kualitas Produk dan Kemasan Kripik Tempe Melalui Introduksi Alat Tepat Guna, (17) Pemanfaatan Potensi Ketela Pohon Menjadi Pangan Bernilai Ekonomi Tinggi, (18) Pengembangan Produk Karak Gaplek dari Aspek Proses Produksi, Pengemasan dan Pemasaran, (19) Pemanfaatan dan Pengembangan Desain Limbah Kayu Jati Menjadi Kerajianan Handicraf Dalam Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat, (20) Pemanfaatan Koro Benguk Menjadi Produk Fermentasi (Kecap), dan (21) Regulasi Bantuan Modal Usaha Sebagai Tindak Lanjut Hasil Pelatihan Tahun II Bagi UKM yang Berjalan Lancar.

Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat (SIBERMAS) Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri Dalam Upaya Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kerjasama Antara UNS-UMS-Pemkab. Wonogiri.

Kata Kunci: pemberdayaan, perekonomian, PAD.

Anantanyu, Suminah; dkk*)
LPPM UNS, Pengabdian, Dikti, Sibermas, 2006.

Program Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat (SIBERMAS) Tahun II, yang melibatkan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri, merupakan upaya nyata Perguruan Tinggi dalam meningkatkan relevansi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan menyebarkan hasil penelitian terapan, kaji tindak maupun paket teknologi tepat guna untuk dimanfaatkan dalam kegiatan produktif dan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat. Selain itu, SIBERMAS sebagai wahana meluaskan wawasan dan pengalaman perguruan tinggi mengenai keperluan dan masalah nyata yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan SIBERMAS di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri secara spesifik bertujuan: (1) Meningkatkan pendapatan masyarakat; (2) Meningkat¬kan PAD Kabupaten Wonogiri melalui pemberdayaan potensi masyarakat di bidang pertanian, peternakan, koperasi dan usaha/home industri; (3) Meningkat¬kan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan masyarakat; (4) Meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat dan mengembangkan jiwa kewirausahaan; (5) Meningkatkan dan merubah sikap dan perilaku positif dari masyarakat dalam upaya menunjang terwujudnya masyarakat mandiri.
Pelaksanaan Program SIBERMAS tahun ke-2 merupakan tindak lanjut dari Program tahun pertama, dilakukan di tiga desa, yaitu: Desa Kepuhsari, Desa Pijiharjo dan Kelurahan Pagutan Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah. Pada tahun ke-2 ini, kegiatan melibatkan staf pengajar lintas disiplin ilmu sesuai keahlian yang dimiliki dengan mendasarkan pada base data yang diperoleh pada tahun pertama. Base data yang merupakan profil wilayah dan masyarakat sasaran diperoleh melalui kegiatan KKPM (Kuliah Kerja Pemberdayaan Masyarakat) mahasiswa, baik dari UNS maupun UMS Surakarta. Dalam pelaksanaan KKPM, mahasiswa dan fasilitator lokal menggunakan metode-metode PRA (Participatory Rural Appraisal) dan RRA (Rapid Rural Appraisal) dalam menggali fakta dan potensi masyarakat.
Kegiatan Sibermas Tahun II ini diarahkan pada penanganan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat sasaran. Berdasarkan fakta yang terkumpul (data base) dan hasil-hasil lokakarya stakeholder dirumuskan permasalahan melalui berbagai perspektif disiplin no deposit bonus keilmuan yang berbeda. Berbagai alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi masyarakat sasaran dikemas dalam berbagai usulan (proposal) pengabdian kepada masyarakat oleh Perguruan Tinggi. Kegiatan-kegiatan yang diusulkan mencakup aspek-aspek: Fasilitasi, memberikan bantuan teknis dan peralatan dalam rangka memperlancar kegiatan pemberdayaan ekonomi produktif keluarga, dan Edukasi, pendampingan dan penyuluhan dalam upaya memberdayakan potensi kegiatan ekonomi produktif keluarga.
Melalui dua sumber pembiayaan, Pemerintah Kabupaten Wonogiri dan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun ke-2 Program Sibermas melaksanakan 21 kegiatan, yaitu: (1) Demplot Beternak Puyuh, (2) Pembuatan Pupuk Organik, (3) Teknologi Pengolahan Jagung, (4) Pelatihan Pengembangan Kewirausahaan Pengrajin Bambu, (5) Pelatihan Wayang Tembaga, (6) Pelatihan Finishing Kerajinan Bambu, (7) Pelatihan Elektronik, (8) Pelatihan Potong Rambut, (9) Pemberian Modal Sebagai Tindak Lanjut Pelatihan Pembukuan Koperasi RT, (10) Pemberian Bantuan dan Alat Penunjang Belajar Siswa TK, (11) Model Alat Pengering Kacang Mete, (12) Pembuatan Telur Asin Berbagai Rasa, (13) Aplikasi Teknologi Fermentasi Jerami untuk Pakan Ternak, (14) Pengembangan Tanaman Empon-empon, (15) Pembuatan Bumbu Instan, (16) Penerapan Teknologi Tepat Guna Kacang Oven, (17) Penggunaan Pupuk Sulfur pada Tanaman Kacang Tanah, (18) Budidaya Kacang Hijau pada Musim Kemarau untuk Mengatasi Bero, (19) Rancang Bangun Teknologi Penggiling Tepung Gaplek, (20) Pelatihan Pembukuan Kelompok Bambu, dan (21) Pelatihan Desain Produk Kelompok Bambu.