• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: MIPA

Studi Peningkatan Efisiensi Melalui Pengendalian Exciton Blocking Layer Pada Sel Surya Organik Berbasis Phthalocyanine Sebagai Sumber Energi Alternatif Terbarukan Yang Ramah Lingkungan

Kata kunci: sel surya organik, excition blocking layer, sumber energi alternatif.

Nurosyid, Fahru; Supryanto, Agus; Masykur, Abu*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti Lanjutan, 2007.

Telah dilakukan Studi Peningkatan Efisiensi Melalui Pengendalian  Exciton Blocking Layer  Pada Sel Surya Organik Berbasis Phthalocyanine Sebagai Sumber Energi Alternatif Terbarukan Yang Ramah Lingkungan.  Pada tahun pertama dalam penelitian ini dititik beratkan untuk mendapat suatu disain (prototip) baru sel surya organik yang murah dan berefisiensi tinggi dengan struktur ITO/CuPc/Ag dan memperoleh informasi mengenai parameter-parameter yang bertanggung jawab terhadap peningkatkan efisiensi sel surya ITO/CuPc/Ag. Dan pada tahun kedua dilakukan penambahan lapisan, sehingga diperoleh sel surya dengan struktur ITO/CuPc/PTCDI/Ag. Diharapkan dengan struktur tersebut diperoleh sel surya yang mempunyai serapan yang lebih lebar dan akahirnya diperoleh sel surya dengan efisiensi yang lebih baik.
Sel surya dengan struktur ITO/CuPc/PTCDI/Ag dikarakterisasi meliputi  sifat optik dan sifat listrik  Karakterisasi sifat optik untuk mengetahui serapannya digunakan UV-Vis Spectrometer sedang karakterisasi I-V dilakukan dalam variasi intensitas cahaya.
Serapan untuk lapisan CuPc/PTCDI terjadi pada 400 -  750 yang ini merupakan gabungan serapan dua lapisan. Nilai absorbansi lapisan CuPc berada pada rentang cahaya tampak (visibel light). Serapan terjadi pada range panjang gelombang antara 550 -750 nm. Serapan  PTCDI  terjadi pada panjang gelombang 400 – 650 nm. Dilihat dari sifat absorbansi lapisan CuPc/PTCDI ini sangat mendukung sebagai bahan sel surya, karena lapisan ini menyerap sinar dengan panjang gelombang lebih 60% panjang cahaya tampak yang merupakan cahaya matahari. Namun apakah penyerapan ini menghasilkan listrik yang baik masih perlu adanya pengujian lebih lanjut .
Hasil karakterisasi I-V  dengan variasi intensitas cahaya dari 5 mW/cm2 sampai 100 mW/cm2 Dengan menggunakan lampu xenon. Untuk intensitas rendah (5 mwatt) kurang mampu membangkitkan photocurrent sehingga Jsc maupun Voc mendekati 0.
Dengan kenaikan intensitas cahaya datang Jsc juga naik secara linier  kecuali untuk intensitas rendah, ini sesuai dengan hukum daya (power law)    Ini dapat dijelaskan bahwa cahaya pembangkit arus (photogenerated current) sebanding dengan rapat pembawa muatan dan rapat pembawa muatan sebanding dengan rapat arus. Photogenerated  current berkaitan dengan intensitas cahaya datang, sehingga jika intensitas cahaya tinggi dimungkinkan photogenerated current juga tinggi dan rapat pembawa muatan juga tinggi. Akhirnya rapat arus yang terbentuk tinggi. Intensitas  cahaya semakin tinggi Voc terukur  juga semakin tinggi. Kenaikan Voc terhadap intensitas tidak bersifat linier tapi bersifat logaritma. Fill Factor fungsi intensitas cahaya dan besarnya Fill Factor cenderung fluktuasi dengan naiknya intensitas cahaya dengan nilai disekitar 0,4. Fluktuasi ini cenderung berkaitan dengan set up saat eksperimen. Dengan naiknya intensitas cahaya dapat diamati efisiensi naik kecuali  pada intensitas 40 mW, ini berakaitan juga adanya penurunan pada Fill Factor pada intensitas 40 mW. IPCE tertinggi 12 (%) pada panjang gelombang 520 nm ini berarti lapisan ITO/CuPc/PTCDI/Ag mempunyai serapan dan menghasilkan energi tertinggi pada panjang gelombang tersebut. Hal ini nampak bahwa serapan PTCDI lebih dominan. Karena absorbansi PTCDI dalam rentang panjang gelombang 400 nm sampai 600 nm dan serapan tertinggi pada panjang gelombang 500, sedang serapan  tertinggi CuPc  pada 650.  Tampak untuk IPCE 6 % terjadi pada panjang gelombang 450 nm sampai 675 nm. Ini dapat dijelaskan bahwa adanya dua bahan yang digunakan dapat memperlebar serapan.

Elektropolimerisasi Pirol Pada Permukaan Elektroda Pasta Karbon Dengan Modifier 8-Hidroksikuinolin Dan Sistein Untuk Analisa Logam Logam Berat

Kata kunci: Elektroda pasta karbon, polipirol, oksin, sistein, Timbal (II)

Masykur, Abu; Martini, Tri; Handayani, Desi Suci; Noviandri, Indra; Buchari*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti, 2007.

Telah dilakukan elektropolimerisasi pirol dengan modifier oksin dan sistein pada permukaan elektroda pasta karbon. Elektropolimerisasi dilakukan dengan voltametri siklis dengan larutan pirol 0,1 M, sistein (atau oksin) 10-3 M, dan KCl 0,05 M. Range potensial yang  diberikan antara 0,0 sampai 1200 mV, laju selusur 150 mV/s dan jumlah siklis 10 kali. Elektroda yang didapatkan digunakan untuk analisa ion Pb2+ dalam larutan.
Hasil dari voltamogram, spektra IR dan foto SEM menunjukkan bahwa modifikasi polipirol dengan oksin maupun sistein berhasil dilakukan. Kondisi optimum analisis ion Pb2+ menggunakan elektroda yang dibuat adalah pada pH 2, potensial deposisi – 800 mV, lama deposisi 60 s, dan laju selusur 150 mV/s. Analisis memberikan keterulangan yang baik, daerah konsentrasi linier antara 0,08 ppm sampai 5 ppm dengan persamaan regresi untuk modifier oksim adalah  y = 0,8565x + 5,5031 dengan R2 = 0,9978, sedang untuk modifikasi sistein diperoleh persamaan  y = 0,4585x + 2,472 dengan R2 = 0,9937. Adanya ion Cu2+ dan Cd2+ akan mengganggu pengukuran, sedang ion Zn2+ sampai konsentrasi 100 kali belum memberikan gangguan yang berarti.

Minimalisasi Asam Lemak Bebas dalam Minyak Jelantah dengan Katalis TiO2 dan Fe2O3-H/Montmorillonit pada Pembuatan Biodiesel

Kata kunci : TiO2/H-montmorillonite and Fe2O3/H-montmorillonite, katalis, keasaman

Nurcahyo, I.F; Wartono, Muhammad Widyo; Wijaya, Karna; Trisunaryanti, Wega*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti, 2007.

Telah dilakukan pilarisasi montmorillonit menjadi TiO2/H-montmorillonit dan Fe2O3/H-montmorillonit. Katalis ini kemudian diberi perlakuan dengan ammonium dengan variasi konsentrasi. Modifikasi dilakukan dengan untuk memperoleh katalis yang mempunyai keasaman dan mempunyai luas perumukaan yang tinggi. Harapannya katalis dapat digunakan menjadi katalis untuk reaksi esterifikasi asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak jelantah. Asam lemak bebas dalam minyak jelantah minim maka reaksi pembentukan biodiesel tidak tergangu. Harapannya minyak jelantah dapat sempurna diubah menjadi biodiesel. Katalis yang disintesis dikarakterisasi menggunakan penentuan angka KTK, XRD, uji keasaman total, spektroskopi inframerah IR, DTA, Surface Area Analyser dan SEM.
Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa KTK montmorillonit berkisar 84-87 meq/g. Dari data XRD, lempung yang digunakan mengadung 73 % montmorillonit dan 27 % kaolinit. Pilarisasi montmorillonit dapat dilihat berdasarkan bergesernya basal spasingnya. Terjadinya pilarisasi juga diperkuat dengan data karakter pori. Karakter tersebut yaitu Luas permukaan, rerata jejari pori dan volume pori katalis TiO2/H-montmorillonit > Fe2O3/H-montmorillonit > montmorillonit. Keasaman total TiO2/H-montmorillonit > Fe2O3/H-montmorillonit > montmorillonit. Interaksi antara situs asam Bronstead dengan amoniak terlihat dengan adanya vibrasi 1400 cm-1. Perlakuan dengan ammonium justru menghilangkan situs asam kuat pada katalis. Semakin tinggi konsetrasi ammonium menyebabkan turunnya keasaman total dari katalis TiO2/H-montmorillonit dan Fe2O3/H-montmorillonit.

Sintesis Katalis Ni-Mo/zeolit Alam Untuk Reaksi Konversi Ban Bekas Menjadi Hidro Karbon Ringan.

Kata kunci : bimetal; katalis;  koimpregnasi;  zeolit alam aktif

Nugrahaningtyas, Khoirina Dwi; Widjonarko, Dian Maruto*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti, 2007.

Telah dilakukan pengembanan logam bimetal (NiMo) berbasis zeolit alam aktif (ZAA).  Preparasi katalis dimulai dengan aktivasi zeolit alam diikuti pengembanan logam Ni dan Mo secara koimpregnasi mengkuti metode dari Li(2000). Identifikasi dan karakterisasi katalis yang diperoleh meliputi kristalinitas, keasaman dan kandungan logam dengan metode difraksi bubuk sinar-x menggunakan alat XRD, metode adsopsi amonia dengan alat neraca analitis dan serapan atom dengan alat AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preparasi katalis pada berbagai konsetrasi prekusor tidak berpengaruh secara signifikan terhadap karakter kristalinitas, keasaman maupun kandungan logam. Keasaman katalis mengalami penurunan dibandingkan ZAA(1,716 mmol/g) menjadi berkisar antara 1,300-1,669 mmol/g. Kandungan logam Ni dan Mo berkisar antara 1,39-5,14 % (b/b) dan 5,78-7,65 % (b/b).

Sintesis Resin Kopolimer Turunan Eugenol Divinil Bensena (DVB) Terimpleknasi Sebagai Penukar Kation Selektif Untuk Pemisahan Logam.

Kata kunci : sintesis resin, pertukaran kation, pemisahan logam.

Handayani, Desi Suci; Martini, Tri; Bakar, Abu*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Semua resin mempunyai gugusan aktif –OH, -COOH, -HSO3- sebagai pusat pertukaran. Polimer eugenol dapat dimanfaatkan sebagai resin penukar kation, karena mempunyai gugus –OH sebagai pusat pertukaran. Selain itu eugenol dapat diubah menjadi turunanya yaitu asam eugenil oksiasetat dimana mempunyai gugus –COOH yang merupakan pusat pertukaran.
Pada tahun I telah disintesis dua bahan resin baru yaitu Kopoli(Eugenol DVB) dan Kopoli(asam eugenil asetat-DVB) yang terimpreknasi 5’kloro-2,4,2’-trihidroksiazobensena.
Pada tahun II dilakukan uji selektivitas dan efektivitas terhadap kedua kopolimer sebagai resin penukar kation. Kopoli(Eugenol DVB) dan Kopoli(asam eugenil oksiasetat-DVB) yang terimpreknasi 5’kloro-2,4,2’-trihidroksiazobensena dapat digunakan sebagai bahan resin penukar kation. Hasil pertukaran kation menunjukkan bahwa Kopoli(Eugenol-DVB) terimpreknasi terjadi pertukaran optimum pada pH 7 dan waktu kontak 10 menit terhadap logam Cu. Sedangkan untuk Kopoli(Asam Eugenil Oksiasetat-DVB) terimpreknasi terjadi pertukaran optimum pada pH 8 dan waktu kontak 20 jam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kopoli(Eugenol-DVB) terimpreknasi lebih efektif sebagai bahan penukar kation dibandingkan Kopoli(Asam Eugenil Oksiasetat-DVB) terimpreknasi. Pada system tunggal terjadi pertukaran yang paling besar terhadap ion logam Cu untuk Kopoli(Eugenol-DVB) terimpreknasi dan Kopoli(Asam Eugenil Oksiasetat-DVB) terimpreknasi. Sedangkan untuk logam bersaingan Kopoli(Eugenol-DVB) terimpreknasi terjadi pertukaran kation terbesar dengan ion logam Cr dan untuk Kopoli(Asam Eugenil Oksiasetat-DVB) terimpreknasi dengan ion logam Cu.
Resin Kopoli(Eugenol-DVB) terimpreknasi selektif terhadap Cr dan urutan selektivitas terhadap logam pengganggu dalam pertukaran kation bersaingan adalah Ni>Cu>Co>Cd>Pb>Zn.  Sedangkan resin Kopoli(Asam Eugenil Oksiasetat-DVB) terimpreknasi selektif terhadap Cu, urutan selektivitas terhadap logam pengganggu dalam pertukaran kation bersaingan adalah Cd>Zn.