• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: sastra

Peningkatan Mutu Produk Kain Batik Melalui Pengembangan Desain, Rekayasa Alat dan Manajemen

Kata kunci : kain batik, motif dan desain batik, UKM.
Handayani, Sarah Rum; Wardani, Dewi Kusuma; Sujono, Agus; Ariani, Sri Retno Dwi *)
LPPM UNS, Pengabdian  Kepada Masyarakat, Dikti, Vucer Multi Tahun  (VMT), 2007.

Permasalahan yang dipilih dalam pengabdian kepada masyarakat adalah “usaha produk kain batik”. Dasar pertimbangan antara lain (1) Indonesia merupakan salah satu Negara eksportir produk batik, dan salah satu wilayah  potensial memproduksi kain batik adalah Sragen yang salah satu sentranya di Kecamatan Masaran Desa Pilang. (2) Sentra industri batik ini berjarak dekat (25 km) dengan kampus UNS. (3) Produk kain batik tulis khususnya dengan pewarna alam atau tumbuh-tumbuhan saat ini mulai digemari oleh pasar luar negeri, namun demikian tidak begitu banyak pengrajin yang menggeluti bidang usaha batik alam ini. Hal ini disebabkan karena proses produksi yang rumit, pengrajin harus memiliki keterampilan kreatif, melalui inovasi desain. Usaha batik tulis alam semacam ini yang tergolong langka, sangat perlu memperoleh pendampingan.
Menurut survei lapang kami lakukan pada bulan Januari-Maret  2004, di Desa Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, terdapat 35 unit usaha batik. Usaha batik yang tergolong besar (jumlah tenaga kerja > 100 orang) ada dua yaitu “Brotoseno” dan “Dewi Brotojoyo”, usaha batik yang tergolong menengah (jumlah tenaga kerja 20-100 orang) ada tiga yaitu milik Hadi Marjuki, Sartono, dan Harjono. Sedangkan usaha batik yang tergolong kecil berjumlah 9, tenaga kerja 2-20 orang) lebih kurang sebanyak 30 unit, yang telah kami ketahui antara lain milik Sudarsono, Ngadiyono, Sugiono, Muslih, Slamet Warisno, Al Mubasir, Alwi Prapto Suwito, Hadisaji, Muhamad Ali , Sumardi, Slamet Riyadi, Kamah, Sadino, Sukino, Munawar, Ramin, Sugiono, Siman. Dari beberapa UKM yang ada, kami pilih UKM: Ngadiyono dan M Sahid.
Pada uraian diatas, terdapat perbedaan data yang mencolok mengenai jumlah unit batik di Desa Pilang antara data dari Deperindagkop Sragen dengan data dari survei kami. Data dari Deperindagkop menyatakan bahwa di  Desa Pilang ada 900 unit batik, namun menurut survei kami terdapat 35 unit. Perbedaan ini semata-mata disebabkan oleh perbedaan pengertian mengenai usaha. Menurut hitungan kami, usaha adalah pengrajin yang memproduksi dan memiliki tenaga kerja lebih dari 2 orang. Sedangkan menurut Diperindagkop mungkin berdasarkan pengertian bahwa usaha adalah orang yang melakukan usaha batik meskipun online casino dilakukan sendiri atau cukup home industry. Namun demikian, data jumlah tenaga kerja batik di Pilang memang sebanyak 1500-an orang.
Usaha mitra kami sebanyak 2- UKM, yaitu UKM-1 milik Ngadiono, UKM-2 milik M. Sahid. UKM-1 berlokasi di Desa Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, sedangkan  UKM-2 berlokasi di Kabupaten Karanganyar. Jarak antara UKM-4 dan UKM lainnya lebih kurang 25 km. Dua UKM memiliki persamaan yaitu memproduksi kain batik, namun mereka memiliki perbedaan yaitu pada jenis produknya. UKM-1 memproduksi kain batik dengan teknik cetak saja dengan menggunakan bahan warna kimia, UKM-2 kain batik eksklusif dengan teknik tulis saja dan  menggunakan bahan warna alam (akar, kulit kayu, buah, biji-bijian, dedaunan, dan sebagainya).
Tujuan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah: secara umum untuk meningkatkan mutu produk kain batik dan efisiensi proses produksinya, melalui pengembangan desain, perbaikan mesin, dan pembenahan manajemennya. Sedangkan tujuan khususnya antara lain : (1) mengembangkan desain produk meliputi pengembangan desain untuk batik proses cetak sebanyak 5 motif dan pengembangan desain untuk proses tulis dengan pewarna alam, juga pengembangan pewarnaan. Selain warna-warna tradisi yaitu warna “sogan” dan “wedelan” dibuat warna-warna yang lebih cerah. (2) Merekayasa peralatan proses produksi meliputi alat cetak (screen) batik, mesin feeder (mesin pewarna kain) sebanyak satu model, dan bak mordanting stainless steel. (3) Membenahi lay out pabrik, dan (4) Membenahi manajemen keuangan dan pemasaran.
Metode pengabdian kepada Masyarakat yang digunakan dalam implementasi kegiatan ini adalah : metode observasi, diskusi, kerja bengkel, operasional pabrik, dan pendampingan secara individual.
Hasil pengabdian kepada masyarakat secara umum menunjukkan bahwa : melalui penerapan Ipteks  pada pengembangan desain- desain motif batik cetak yang dilakukan oleh UKM-1, dalam pengerjaan penggambaran desain secara manual diatas kertas  kalkir yang kemudian diproduk pada plangkan  cetakan (screen) sebanyak lima motif dapat divisualisasikan dengan baik, meski harus ada penyempurnaan.  Demikian juga desain motif batik tulis, master desain dibuat dibuat sebanyak 10 desain merupakan modifikasi desain menunjukkan adanya karya motif batik yang inovatif.
Rekayasa mesin feeder yang telah dibuat mampu mengurangi gesekan antara mesin dan kain yang akan diwarna. Mesin ini mampu menghemat bahan pewarna, artinya meskipun UKM hanya memiliki bahan pewarna sedikit atau sisa bahan pewarna masih ada dalam mesin, zat pewarna masih tetap dapat digunakan. Mesin dapat dioperasikan dengan motor dan dibutuhkan  satu orang karyawan, sehingga dapat  mengurangi biaya produksi. Mesin dapat menghasilkan pewarnaan lebih rata, pewarnaan cepat kering, dan hasil tampilan warna pada produk lebih berkualitas.
Rekayasa bak mordan dari stainless steel memberi dampak sisa warna tidak mudah menempel.
Lay out pabrik / alur proses produksi nampak lebih tertata. Pembenahan pembukuan dan manajemen pemasaran secara dasar mulai diterapkan, mengumpulkan nota pembelian  dan melakukan pembukuan pengeluaran.
Dari hasil uji coba pemasaran kain batik dengan motif baru hasil dari pengembangan desain, kain batik dapat diterima dan laku di pasaran. Pemasaran jenis produk yang berupa kain panjang, kain hem, dan selendang dapat berjalan lancar. Wilayah pemasaran UKM-1: Solo, Yogya, Semarang, dan mulai merambah ke Jakarta serta Bali. Sedangkan untuk batik eksklusif masih tetap memenuhi pemasaran pada agen-agen dan konsumen manca negara khususnya Jepang, juga merambah pesat ke negara-negara lain seperti: Polandia, Belanda, Eropa, Jakarta dan Bali.

Model Pelestarian dan Pengembangan Kemampuan Berbahasa Jawa Krama di Kalangan Generasi Muda Wilayah Surakarta dan Sekitarnya

Kata kunci : bahasa Jawa, konteks sosio-kultural, kompetensi berbahasa Jawa.

Subroto, Edi; Dwiraharjo, Maryono; Setiawan, Budhi*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pasca, 2007

Temuan Penelitian Tahun I (2006-2007) ini, berdasarkan jawaban responden terhadap instrumen penelitian yang diteskan, dan wawancara mendalam dengan informan, yaitu para pengamat budaya dan Bahasa Jawa (BJ), para guru Bahasa Jawa, serta para Generasi Muda Jawa (GMJ), dapat dinyatakan sebagai berikut:
1.    Pemahaman dan penguasaan GMJ akan pasangan kosa kata Ngoko (Ng), Krama (Kr), dan Krama Inggil (Kr I) seperti kosa kata mangan (Ng), nedha (Kr), dhahar  (Kr I) ‘makan’ sebagian terbesar adalah sangat kurang (hal ini tercermin melalui skor rerata responden atas instrumen (tes) tersebut ≤ 40).
2.    Demikian pula kemampuan GMJ dalam hal berbahasa Jawa Kr dan Kr I tergolong sangat kurang. Dinyatakan dalam instrumen bahwa kemampuan ber-BJ Kr dan Kr I itu atau unggah-ungguhing basa diterapkan secara konteks sosio-kultural (dengan siapa seseorang berbahasa, bagaimana status sosialnya, siapa yang dibicarakan, di mana pembicaraan terjadi, bagaimana situasinya).

3.    Temuan di atas diperkuat oleh semua informan (para pemerhati budaya dan BJ, para guru BJ). Mereka menyatakan bahwa para GMJ sekarang sudah tidak dapat ber-BJ Kr dan Kr I secara benar dan tepat. Bahkan mereka menyatakan banyak orang Jawa dewasa yang tidak mampu ber-BJ Kr dan Kr I secara benar dan tepat. Bahkan ada guru BJ yang berkata “Nalika semanten kula nembe gerah” ‘Waktu itu saya baru sakit’. Faktor penyebab yang mereka kemukakan adalah: a) di lingkungan rumah tangga orang tua tidak memperhatikan dan membinanya; b) kelompok masyarakat (Dharma Wanita, PKK, RT dan RW) tidak pernah punya perhatian; c) pengajaran BJ di sekolah juga tidak berhasil karena kebanyakan guru BJ tidak memiliki kompetensi sebagai pengajar BJ (kebanyakan guru asal mau).
4.    GMJ waktu diwawancarai dengan menggunakan bahasa Kr dan Kr I, dia menolak karena tidak dapat berbicara bahasa Kr dan Kr I dengan benar atau takut salah dan meminta wawancara dilaksanakan dengan Bahasa Indonesia (BI). Faktor penyebab yang mendasarinya adalah karena dalam kehidupan sehari-hari tidak terbiasa menggunakan BJ Kr dan Kr I dengan baik dan benar. Jadi mereka hanya mengenal kosa kata BJ Kr dan Kr I beberapa saja.
5.    Faktor penyebab mengapa GMJ tidak bisa ber-BJ dengan tepat, karena a) kebanyakan GMJ memang tidak mengenal dan menguasai secara baik dan benar pasangan kosa kata Ng, Kr, dan Kr I; b) mereka juga rata-rata menyatakan tidak tahu bagaimana menerapkan kosa kata Kr dan Kr I dalam berbahasa Ng, Kr, dan Kr I (tidak tahu unggah-ungguhing basa); c) mereka tidak terbiasakan menggunakan ragam Ng, Kr, dan Kr I dalam kehidupan sehari-hari di ranah keluarga dan juga masyarakat; d) para orang tua membiarkan anaknya ber-BI dalam kehidupan sehari-hari karena hal itu dapat menunjang kegiatan belajarnya di sekolah; e) bahkan GMJ di beberapa daerah tertentu mengatakan bahwa BJ dan budaya Jawa mendapat serangan hebat dari budaya asing; dan f) guru BJ di sekolah-sekolah rata-rata tidak memiliki kompetensi di bidangnya.

Pengembangan Batik di Lasem Sebagai Upaya Revitalisasi Seni Rupa Tradisional dan Peningkatan Ketahanan Budaya Berbasis Pariwisata.

Kata kunci : batik Lasem, revitalisasi seni rupa tradisional, pariwisata.

Prabowo, Tjahjo; Witurahmi, Sri; Ismaryati*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah bersaing Lanjutan, 2007.

Tujuan umum penelitian adalah untuk menghidupkan kembali industri batik di Lasem yang produknya mampu mengambil peran aktif dalam Sapta Pesona Pariwisata. Sedangkan tujuan khusus pada tahap kedua ini adalah  membuat model pengembangan batik Lasem ditinjau dari  motif, fungsi dan alat produksi sera menejemen keuangannya.
Metode penelitian multi years yang digunakan pada tahap pertama bersifat eksplorasi Etnografis.sedang untuk tahap dua ini adalah lebih banyak bersifat aplikatif.  Data digali dari sumber primer dan sumber sekunder dengan teknik observasi, wawancara dan analisis dokumen diolah melalui FGD (focus group discussion) untuk mendapatkan satu model yang cocok bagi pelaku batik dan steakhokdernya. Sumber primer terdiri dari para informan yang berprofesi sebagai pengusaha batik, buruh batik, unsur pemerintah dan pedagang batik.
Untuk mengembangkan usaha batik lasem yang masih cukup profitable ini model yang paling tepat adalah  bukan dengan mekanisasi murni alat produksi dengan padat modal akan tetapi harus memperhatikan latar belakang kultural, potensi masyarakat serta sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya yang kemudian di emplementasikan dalam disain motif dan fungsi produk yang dihasilkan. Alat batik yang berifat mekanis sifatnya hanya sebagai alat bantu produksi bukan alat utama yang menghasilkan batik. Untuk itu model yang tepat adalah mengkombinasikan antara mesin dan hand made.
Perkembangangan Pariwisata Kabupaten Rembang merupakan pasar potensial bagi usaha revitalisasi batik Lasem asal didukung dengan model menejemen yang baik yang dilakukan oleh pengusaha batik.

Pengaruh Sosial Budaya Ekowisata Berbasis Masyarakat Terhadap Masyarakat Lokal di Taman Nasional Gunung Halimun.

Kata kunci: pariwisata, ekowisata berbasis masyarakat, konsep pembangunan berkelanjutan.

Ernawati, Dyah Bekti; Agus, Sri; Sugiarti, Rara; Setyaningsih, Wiwik*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007

Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun memiliki kekurangan dan kelebihan serta kendala-kendala untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat lokal. Untuk itu disusun model pengembangan ekowisata berbasis masyarakat melalui wawancara dan diskusi kelompok yang melibatkan para ahli dan perwakilan atau representatives yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Model pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun yaitu model pengembangan yang menggarisbawahi pentingnya pengembangan yang mengacu kepada konsep pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang berwawasan pembangunan berkelanjutan, pengembangan ekowisata berskala kecil, pengembangan ekowisata berbasis keunikan potensi lokal, pengembangan ekowisata berbasis kemitraan, serta pengembangan ekowisata berbasis penguatan kelembagaan masyarakat.
Dalam upaya mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat, pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun perlu diarahkan untuk menciptakan keseimbangan dalam memenuhi kepentingan generasi sekarang dan generasi yang akan datang tanpa mengurangi nilainya. Konsep ini dikenal dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pengembangan ekowisata di Taman Nasional Gunung Halimun sebagai kawasan ekowisata yang saling mendukung secara timbal balik (win-win relationship) dengan sektor-sektor terkait lainnya seperti pertanian, lingkungan dan sosial budaya, harus didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan pada dasarnya mengutamakan pelestarian fungsi lingkungan alam dan budaya secara berkesinambungan untuk dapat dinikmati lintas generasi. Pariwisata merupakan sektor yang dipengaruhi oleh dan mempengaruhi seluruh aktivitas sosial-ekonomi sehingga diperlukan adanya komitmen dan tanggung-jawab terhadap pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor pariwisata dan seluruh sektor lainnya yang saling berhubungan. Dalam mengiplementasikan konsep pembangunan berkelanjutan khususnya di bidang penataan ruang diperlukan penyadaran dan pemahaman bahwa pembangunan pariwisata harus didukung oleh semua elemen pemangku kepentingan atau stakeholder dan masyarakat secara luas.
Adapun strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan objek dan daya tarik ekowisata, melakukan diversifikasi produk ekowisata (pendekatan 4-A), menguatkan kelembagaan yang sudah dibangun oleh masyarakat dalam upaya mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat, menjalin kemitraan dengan sektor atau unsur terkait, serta melakukan pemasaran dan promosi produk ekowisata secara bertanggung jawab (responsible marketing).

Model Revitalisasi Seni Batik Klasik Sebagai Upaya Untuk Melestarikan Warisan Budaya dan Mendukung Pengembangan Pariwisata di Surakarta

Kata kunci: revitalisasi batik, warisan budaya, motif batik

Sariyatun; Sugiarti, Rara; Subiyantoro, Slamet*)
LPPM UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan model revitalisasi seni Batik Klasik melalui Interpretasi sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya dan mendukung pengembangan pariwisata di Surakarta. Sasaran jangka pendek yang hendak dicapai adalah memberikan pendampingan yang bersifat motivatif-alternatif dengan upaya menginterpretasi nilai-nilai filosofis batik sebagai upaya melestarikan batik sebagai warisan budaya dan memberdayakan batik sebagai pendukung pariwisata budaya.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka penelitian ini direncanakan dalam tahapan-tahapan selama tiga tahun. Tahap pertama (th 2006) di lakukan eksplorasi motif dan makna filosofis batik klasik serta pemahaman masyarakat terhadap motif dan makna filosofos batik klasik sebagai acuan untuk memilih sarana interpretasi.Tahap kedua (tahun 2007) merumuskan model revitalisasi seni batik klasik berbasis interpretasi. Tahap ketiga (tahun 2008) adalah mengimplementasikan dan menyempurnakan model revitalisasi seni batik klasik berbasis interpretasi sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya dan mendukung pengembangan pariwisata di Surakarta.
Metode penelitian yang diterapkan pada tahun ke-2 menitikberatkan pada penemuan model serta pemantapan model  revitalisasi seni batik klasik berbasis interpretasi. Perumusan model pada tahun ke-2 didasarkan pada pendekatan partisipatif di mana seluruh elemen pemangku kepentingan partiwisata (stakeholder) di Surakarta turut  berperan serta dalam proses penyusunan model. Metode yang digunakan dalam proses perumusan model adalah: 1) Pemaparan (Explanatory), 2) Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion). 3) Lokakarya dilaksanakan guna memperoleh masukan dan informasi dari berbagai pelaku (stakeholder) pariwisata dalam rangka membuat rancangan model   revitalisasi seni batik klasik. 4) Wawancara mendalam (in-depth interview).
Hasil penelitian tahun ke 2 adalah  Model revitalisasi seni batik klasik melalui interpretasi atau   interpretasi batik berbasis pemandu wisata ( Batik Interpretation based on the empowerment of guides.). Model ini menggaris bawahi pentingnya pemberdayaan  pemandu wisata dalam memberikan penjelasan mengenai motif dan makna filosofis  batik klasik kepada wisatawan agar wisatawan dapat memahami, menghargai dan kemudian ikut berpartisipasi dalam melestarikan serta memberikan apreasi  terhadap batik klasik. Oleh karena itu model ini  harus didukung oleh SDM (pemandu wisata) yang berkualitas yang memiliki pengetahuan budaya, khususnya mengenai batik, serta memiliki kemampuan berbahasa yang baik sehingga dapat menciptakan komunikasi yang harmonis dengan wisatawan.
Revitalisasi seni batik klasik melalui interpretasi akan bermanfaat antara lain: 1) menciptakan kesan tempat (sense of place); 2) menjadi ujung tombak promosi obyek dan daya tarik wisata sehingga mendukung pengembangan pariwisata daerah, khususnya pariwisata Kota Surakarta; 3) membuka lapangan pekerjaan di bidang pariwisata bagi penduduk setempat; 4) menciptakan multiplier effect sehingga dapat mengembangkan perekonomian wilayah; dan 5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat.