• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: teknologi

Pengaruh Manajemen Termal Terhadap Distorsi Bowing Sambungan Las Logam Tak Sejenis Antara Baja Karbon dan Baja Tahan Karat

Kata kunci: distorsi, las logam tak sejenis, transient thermal tensioning.

Triyono; Arifin, Zainal; Ilman, M. Noer; Soekrisno, R.*)
Fakultas Teknik UNS, Penelitian, Dikti, Hibah bersaing, 2007.

Permasalahan yang sering muncul dalam sambungan las adalah timbulnya distorsi sehingga setelah selesai pengelasan diperlukan pekerjaan tambahan yaitu proses flame heating dan dipukul-pukul untuk meluruskan distorsi tersebut. Pelurusan distorsi dengan cara flame heating ini ternyata sangat merugikan terhadap ketahanan korosi baja tahan karat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk memecahkan permasalahan distorsi sekaligus mempertahan ketahanan korosi sambungan las logam tak sejenis antara baja tahan karat dengan baja karbon, dengan metode Transient Thermal Tensioning. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah plat dengan ketebalan 1,5 mm yang terdiri dari baja karbon SS400 disambung dengan baja tahan karat AISI 304 dengan filler ER 308. Proses las yang digunakan adalah las GMAW dengan sistem otomatis. Metode manajemen termal yang digunakan adalah Transient Thermal Tensioning dimana pada saat pengelasan pada kedua sisi garis las diberi pita/kotak pemanas yang bersuhu T (variasi 200oC dan 300oC) dengan lebar d1 (variasi 2 cm dan 6 cm), panjang d2 (varaisi 6 cm dan 12 cm), jarak ujung pita pemanas dengan gun las GMAW d3 (variasi 2 cm dan 6 cm) dan jarak terhadap garis las d4 (variasi 1 cm dan 3 cm) yang bergerak mengikuti pergerakan gun las. Sedangkan pada sisi baja tahan karat diberi tambahan berupa pendinginan air yang berjarak d5 (variasi 2 cm dan 6 cm)  di belakang pita pemanas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Distorsi distorsi bowing baja tahan karat lebih besar dibandingkan dengan distorsi bowing baja karbon, baik dengan perlakuan manajemen termal maupun tanpa perlakuan. Distorsi bowing pada baja karbon dapat diperkecil dengan manajemen termal yang mengatur pemanasan setelah pengelasan berlangsung cukup lama dan pemanasan mula sebelum pengelasan sebentar. Dengan d1=6cm, d2=12 cm, d3=2 cm, dan d4 =1 cm didapatkan penurunan distorsi bowing baja karbon sebesar 33%. Pemanasan pada jarak yang lebar dari garis las dapat menyebabkan meningkatnya distorsi bowing baik pada baja karbon maupun baja tahan karat.

Rekayasa dan Manufaktur Bahan Komposit Sandwich Berpenguat Serat Kenaf Dengan Care Limbah Kayu Sengon Laut Untuk Komponen Gerbong Kereta Api.

Kata kunci : komposit sandwich, limbah kayu sengon, serat kenaf.
Diharjo, Kuncoro; Masykuri, M.; Legowo, Budi; Abdullah Gunadi*)
Fakultas Teknik UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Penelitian ini merupakan salah satu tahapan alih teknologi dengan memberdayakan penggunaan bahan lokal serat kenaf dan kayu sengon laut, untuk meningkatkan kemandirian bangsa guna mengurangi ketergantungan serat dan core sintetis impor. Prospek penggunaan serat kenaf dan kayu sengon laut sebagai bahan komposit dipandang sangat menguntungkan. Besarnya produksi beberapa serat kenaf di dunia mencapai 970.000 ton/tahun (Eichhorn, 2001). Salah satu faktor pendukung tingginya produksi serat kenaf (hibiscus cannabinus) adalah masa tanam pendek (4 bulan) dan tahan di lahan yang sering banjir. Tujuan utama penelitian ini adalah merekayasa komposit sandwich berpenguat serat kenaf dengan menggunakan core kayu sengon laut (albizzia) untuk panel car body kereta api. Tujuan spesifik penelitian ini adalah menyelidiki (1) sifat fisis-mekanis komposit serat kenaf-polyester, (2) sifat fisis-mekanis komposit sandwich, (3) serapan bising sel akustik dan panel akustik kayu sengon laut, dan (4) mendisain prototipe produk komposit skin dan sandwich.
Bahan penelitian adalah serat kenaf (acak, anyam, kontinyu), polyester, hardener MEKPO, kayu sengon laut (albizzia), NaOH teknis, aquadest dan bahan pendukung penelitian lainnya. Serat kenaf dicuci dengan air bersih dan dilakukan perlakuan alkali (5% NaOH) selama 0, 2, 4, 6 dan 8 jam. Serat yang sudah direndam dalam larutan alkali dilakukan penetralan dengan air bersih dan dilanjutkan pengeringan alami. Tahap awal penelitian adalah optimasi sifat fisis-mekanis komposit skin serat kenaf polyester. Proses pembuatan komposit dilakukan dengan metode cetak tekan secara manual dan hidrolis. Komposit tersebut dilakukan pengujian mekanis tarik (ASTM D-638), bending (ASTM D-790), dan impak (ASTM D-5941), sedangkan pengujian fisisnya meliputi uji redaman getaran dan hambatan panas. Variabel dalam penelitian ini meliputi kadar hardener, fraksi volume serat (Vf), perlakuan alkali, dan variasi density serat kenaf acak, dan tebal core kayu sengon laut. Penampang patahan spesimen uji dilakukan foto makro dan SEM. Tahapan optimasi penelitian selanjutnya adalah optimasi sifat fisis-mekanis komposit sandwich berpenguat serat kenaf dengan core kayu sengon laut. Pada tahapan ini, serat kenaf yang digunakan adalah serat tanpa perlakuan dan serat dengan perlakuan alkali selama 2 jam. Core kayu albizzia dibuat dengan memotong pada arah melintang. Variabel utama dalam penelitian ini adalah tebal komposit skin (1, 2, 3, 4 dan 5 mm) dan tebal core (5, 10, 15 dan 20 mm). Komposit sandwich tersebut juga dibuat dengan metode cetak tekan. Pengujian yang dilakukan pada komposit sandwich meliputi pengujian bending (ASTM C-393), pengujian impak (ASTM D-5942), pengujian redaman getaran, dan pengujian hambatan panas. Penampang patahan sampel uji komposit sandwich dilakukan foto makro untuk mengidentifikasi karakteristik penampang patahannya.
Pemanfaatan kayu sengon laut juga digunakan untuk merekayasa panel akustik peredam bising. Teknik pemotongan kayu juga dilakukan dengan pola pemotongna melintang. Kayu yang digunakan dilakukan pengawetan borac 5%. Tahapan penelitian dilakukan dengan melakukan pengujian sel akustik dengan menggunakan tabung impedansi satu mikrofon. Variabel penelitiannya meliputi dimensi stud, cavity depth, lubang resonator, dan penambahan acoustic fill. Dimensi sel akustik yang memiliki nilai koefisien serapan bising yang paling efektif dikembangkan untuk mendisain panel akustik. Panel akustik kayu sengon laut didisain memiliki dimansi 50 cm x 50 cm. Variabel penelitian meliputi variasi diameter lubang leher resonator (6, 8, 10 mm), cavity depth (15, 20, 25 mm) dan penambahan acoustic fill. Pengujian dilakukan dengan menggunakan anechoic room dan set unit peralatan uji serapan bising.
Hasil pengamatan SEM serat kenaf menunjukkan bahwa serat yang dikenai perlakuan alkali mengalami peningkatan kristanilitas, yang disebabkan oleh hilangnya lignin, lapisan lilin, dan kotoran lainnya pada permukaan serat. Jika serat dianggap berbentuk silindris, maka perhitungan luas penampang serat dapat dilakukan dengan memberikan faktor koreksi C = 0,74. Kekuatan dan modulus tarik serat kenaf adalah sekitar 200 - 300 MPa dan 20 - 30 GPa, sedangkan hasil uji tarik matrik poliester memiliki kekuatan tarik 50,70 Mpa dan modulus tarik 4,23 Gpa. Kekuatan serat kenaf menurun seiring dengan peningkatan waktu perendaman serat di dalam larutan alkali. Hal ini disebabkan oleh sifat larutan alkali yang mengikis lignin dan permukaan selulosa serat
Komposit kenaf acak-UPRs pada Vf = 23% memiliki kekuatan tarik tertinggi pada kandungan hardener 1% (v/v), yaitu 40.14 Mpa. Peningkatan kekuatan tarik yang sangat besar terjadi pada komposit yang diperkuat serat kenaf kontinyu dengan hardener 1%. Pada Vf = 54,63%, kekuatan dan modulus tarik bahan komposit ini adalah 216,8 Mpa dan 26,79 Gpa. Harga ini meningkat 123% dan 163,7% dibanding komposit pada Vf = 20.13%. Penampang patahan komposit menunjukkan patahan sobekan pada area yang luas dan disertai adanya fiber pull out. Studi perlakuan alkali (5% NaOH) komposit kenaf acak-UPRs menunjukkan bahwa pada perlakuan alkali selama 2 jam menghasilkan kekuatan tarik dan modulus teringgi untuk sembarang Vf, dan selanjutnya diikuti oleh komposit yang diperkuat serat tanpa perlakuan. Pada Vf = 40 %, kekuatan komposit tertinggi tersebut adalah sekitar 80 MPa dan modulus tariknya 10 GPa. Penampang komposit yang diperkuat dengan serat perlakuan NaOH tidak menunjukkan adanya fiber pull out. Hal ini mengindikasikan bahwa ikatan interface serat-matrik kuat. Komposit berpenguat serat kenaf tanpa perlakuan mengalami penurunan kekuatan bending setelah 50 kali pemanasan, sedangkan komposit berpenguat serat perlakuan alkali 2 jam mengalami penurunan kekuatan seiring dengan peningkatan jumlah siklis termal. Komposit berpenguat serat tanpa perlakuan memiliki kekuatan bending yang lebih tinggi dibandingkan dengan komposit berpenguat serat dengan perlakuan alkali selama 2 jam. Hingga suhu siklis thermal 100 0C, komposit yang diperkuat dengan serat tanpa perlakuan memiliki modulus bending yang lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang diperkuat serat dengan perlakuan alkali, dan sebaliknya. Komposit yang diperkuat serat tanpa perlakuan memiliki prosesntase perpanjangan yang lebih besar dibandingkan dengan komposit yang diperkuat serat tanpa perlakuan. Dengan demikian, komposit yang diperkuat serat dengan perlakuan alkali memiliki kestabilan dimensi yang lebih baik. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa komposit dengan kandungan serat 40% (v/v) memiliki kestabilan dimensi yang terbaik. Peningkatan kandungan serat pada panel komposit 3 dan 5 layer menyebabkan peningkatan frekuensi alami panel. Pada komposit yang lebih tipis, semakin besar Vf  semakin tinggi pula peningkatan frekuensi alaminya. Hasil analisis ini mengindikasikan bahwa semakin tebal panel semakin rendah frekuensi alaminya dan sebaliknya. Semakin besar Vf semakin besar pula modulus elastisitasnya, sehingga frekuensi alami panelnya pun semakin tinggi. Perilaku peningkatan hambatan panas ini mengindikasikan bahwa serat kenaf berfungsi sebagai komponen yang berpengaruh terhadap hambatan panas. Hasil analisis komparasi hambatan panas mengindikasikan bahwa komposit skin yang lebih tebal memiliki nilai hambatan panas yang lebih tinggi. Penambahan kandungan serat (Vf) akan menyebabkan peningkatan laju perpindahan panas kedua panel komposit. Semakin besar kandungan serat semakin baik kinerja hambatan panas panel komposit.
Kekuatan bending dan impak komposit sandwich serat kenaf-poliester-core kayu sengon laut meningkat seiring dengan peningkatan ketebalan skin dan ketebalan core. Komposit sandwich dengan tebal core 10 mm memiliki kekuatan bending yang paling optimum pada ketebalan skin 4 mm. Perlakuan alkali (5% NaOH) serat menurunkan kekuatan bending dan impak komposit sandwich. Redaman getaran komposit skin dan sandwich masing-masing meningkat seiring dengan peningkatan kandungan serat, dan ketebalan core. Hal yang sama, kemampuan menghambat panas panel komposit sandwich juga meningkat seiring dengan peningkatan kandungan serat, ketebalan komposit skin, dan ketebalan core. Panel komposit sandwich dengan tebal core 15 mm mampu meredam frekuensi getaran tertinggi dibandingkan dengan panel komposit sandwich yang lain. Frekuensi alami getaran panel komposit sandwich meningkat seiring dengan peningkatan ketebalan core. Laju perpindahan panas panel komposit sandwich juga meningkat secara linier seiring dengan peningkatan ketebalan skin komposit. Komposit sandwich dengan tebal skin yang lebih besar memiliki hambatan panas yang lebih tinggi. Hambatan panas panel komposit sandwich juga meningkat seiring dengan peningkatan ketebalan core.
Sel akustik yang dibuat dari bahan kayu sengon laut memiliki serapan bising paling optimum pada ukuran stud 30×30 mm atau 40×40 mm. Peningkatan kedalaman rongga resonator menggeser efektifitas NAC pada rentang frekuensi yang lebih rendah dan meningkatkan NAC. Pada penelitian ini, NAC tertinggi diperoleh dengan kedalaman rongga resonator 25 mm. Semakin lebar lubang leher resonator, semakin tinggi pula nilai NAC-nya. Diameter lubang leher resonator yang paling potensial untuk dikembangkan adalah diameter lubang leher resonator 6, 8 dan 10 mm. Penambahan acoustic fill serat kenaf acak mampu memperlebar rentang frekuensi bising yang terserap. Acoustic fill 9% -10% dipandang lebih menguntungkan. Produk panel akustik sudah dianggap mampu dalam meredam suara karena nilai NAC yang dihasilkan sudah mencapai lebih dari 0,8. Pengaruh kenaikan kedalalaman rongga resonator pada berbagai variasi diameter mampu menggeser nilai NAC ke frekuensi rendah. Penambahan volume rongga resonator akibat kedalalaman rongga resonator berpengaruh dengan meningkatnya nilai serapan (NAC) pada frekuensi rendah (63 Hz-1000Hz). Pada variasi kedalaman rongga (cavity depth) 25 dengan acoustic fill dengan diameter 10 mm didapat kenaikan NAC pada frekuensi rendah yang relatif tinggi dengan nilai NAC 0,88. Penambahan acoustic fill dari bahan serat kenaf pada rongga resonator mampu memperlebar jangkauan frekuensi dan meningkatkan nilai NAC (Noise Absorption Coeficient) pada frekuensi rendah (dibawah 1000 Hz).
Analisis biaya produksi prototype produk meja kereta K-1 dengan komposit kenaf-UPRs menurun hingga 42.48% dibandingkan dengan komposit GFRP. Penggunaan serat kenaf dan core kayu sengon laut mampu menurunkan biaya produksi panel meja K-3 kerat api menjadi sebesar 47.44 %. Produk core kayu sengon laut dapat dikatakan sangat berpeluang untuk dikomersialisasikan dan mampu menggantikan bahan-bahan core sintetis import yang lebih mahal.

Model Prediksi Kapasitas Balok Beton Ringan Bertulang Pasca Bakar.

Kata kunci : beton ringan, fullscale, pra dan pasca bakar.

Sambowo, Kusno Adi; Mediyanto, Antonius*)
Fakultas Teknik UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Banyak studi telah dilakukan untuk mengatasi kelemahan sifat beton ringan, antara lain dengan menambahkan campuran serat-serat pada campuran beton yang bermaksud agar serat-serat tersebut dapat berfungsi sebagai tulangan mikro yang tersebar secara acak dalam beton. Selain itu, teknologi bahan tambah (seperti pozzoland) berkembang cukup pesat dan telah terbukti meningkatkan kuat tekan dan durabilitas beton. Dalam penelitian ini dipilih serat aluminium dan metakaolin untuk mengetahui kontribusinya terhadap beton pasca bakar.  Pada tahun pertama studi literatur dan penelitian yang terkait dengan sifat-sifat mekanik dari material pembentuk beton ringan bertulang dan beton ringan itu sendiri baik pra dan pasca bakar telah dilakukan. Sifat-sifat ini telah dianalisis dan menghasilkan model penurunan kapasitas balok beton ringan bertulang pasca bakar. Pada tahun kedua ini telah diuji sifat-sifat elemen struktur yang berupa balok untuk uji lentur (pra dan pasca bakar), uji tarik komposit dan uji geser balok beton. Analisis telah dilakukan dan untuk selanjutnya akan dilakukan validasi model dengan fullscale pada tahun ketiga. Penelitian mengenai sifat-sifat mekanik dari beton ringan sangat penting dilakukan guna untuk mendapatkan data-data untuk digunakan dalam memprediksi kapasitas balok beton ringan bertulang yang telah mengalami kebakaran pada berbagai temperatur suhu. Dengan demikian kita dapat mengetahui kapasitas sisa dari struktur secara keseluruhan pasca kebakaran. Adapun perilaku struktur dari balok beton ringan yang telah mengalami kebakaran juga sangat penting untuk diketahui.
Dari penelitian tahun pertama, dapat disimpulkan bahwa pengaruh penambahan  Metakaolin dan serat Alumunium pada beton ringan  memberikan kontribusi yang cukup baik pada kekuatan beton. Hal ini terlihat pada hasil pengujian meliputi pengujian kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Secara keseluruhan pada tiap variasi suhu beton dengan penambahan 0,75% serat alumunium dan 10% Metakaolin menunjukkan hasil yang optimum pada setiap pengujian.
Dari hasil penelitian tahun kedua ini diketahui bahwa secara umum kapasitas casino balok beton ringan dengan tambahan serat alumunium dan metakaolin lebih tinggi dari beton ringan normal baik sebelum maupun setelah kebakaran.
Mencampurkan serat-serat kedalam campuran material pembuat beton untuk memberikan kontribusi peningkatan kekuatan tarik dan daktilitasnya. Penelitian eksperimental ini dilakukan; pertama, untuk mengkaji sifat mekanik material campuran beton ringan dengan serat alumunium. Sedangkan yang kedua, mengkaji kapasitas atau kemampuan elemen struktural balok beton ringan bertulang berserat alumunium.
Untuk Rencana penelitian tahun ketiga ini adalah yang pertama menganalisa lebih lanjut hasil-hasil yang didapat dari tahun ke-1 dan ke-2 sehingga akhirnya diketemukan sebuah model prediksi kapasitas lentur balok yang didasarkan pada sisa tegangan pada tiap zona penampng akibat temperatur yang dikenakan padanya. Adapun yang kedua adalah menguji validitas model yang ditemukan dengan melakukan fullscale test di laboratorium untuk menguji validitasnya.
Untuk merumuskan gagasan di atas data-data berikut ini secara rinci diperlukan, antara lain:
1.    Harus ada evaluasi sisa tegangan tekan beton akibat suhu pada sisi tekan terluar balok.
2.    Harus ada evaluasi sisa tegangan tekan beton akibat suhu pada tiap zona sampai pada garis netral.
3.    Harus ada evaluasi sisa tegangan tekan baja akibat suhu pada baja tulangan tekan.
4.    Harus ada evaluasi sisa tegangan tarik beton akibat suhu pada sisi tarik terluar balok.
5.    Harus ada evaluasi sisa tegangan tarik beton akibat suhu pada tiap zona sampai pada garis netral.
6.    Harus ada evaluasi sisa tegangan tarik baja akibat suhu pada baja tulangan tarik.
Pokok pikiran penelitian ini berorientasi secara khusus pada kemungkinan peningkatan kualitas material beton ringan dengan mempelajari fenomena isolasi suhu, penjebatanan serat, dan aksi pasak seratnya karena penambahan serat, terutama pada kondisi pra dan paska bakar.

Kajian Iradiasi Buah Untuk Memperpanjang Umur Kesegaran Dengan Memanfaatkan Sinar Gamma dari Pasca Shut-Down Reaktor Nuklir Kartini Batan.

Kata Kunci : iradiasi-, buah, kadar air, kadar vitamin C dan mikroba.

Riyatun*)
Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Telah dilakukan aplikasi radiasi- yang berasal dari reactor Kartini BATAN Yogyakarta terhadap buah kelengkeng, stroberi dan anggur. Pengukuran terhadap dosis yang diradiasikan dilakukan dengan teliti menggunakan dosimeter selulosa triasetat (CTA) dan CTA reader. Dosis yang diterapkan adalah 0,34 kGy ; 0,55 kGy, 0,77 kGy dan 1,05 kGy. Iradiasi dilakukan di fasilitas iradiasi Lazy Susan dalam waktu iradiasi selama 15 menit, 30 menit, 45 menit dan 1 jam. Meskipun dosis yang dihasilkan reaktor rendah akan tetapi telah dapat diamati bahwa radiasi- dapat menurunkan jumlah mikroba yang tumbuh pada buah. Radiasi- tidak menurunkan kadar air dan kadar vitamin C secara signifikan. Dengan demikian iradiasi- dapat dikembangkan menjadi salah satu alternatif pengelolaan pasca panen buah untuk mempertahankan umur kesegaran buah.

Sintesis Perak Nanopartikel dari Limbah Fotografi Dengan Metode Flame Spray Pyrolysis.

Kata kunci : limbah cair fotografi, nanopartikel, flame spray pyrolysis.

Jumari, Arief; Distantina, Sperisa; Purwanto, Agus*)
Fakultas Teknik UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing Lanjutan, 2007.

Limbah cair fotografi mengandung logam berat perak (Ag) yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Selama ini pengolahan limbah fotografi  dilakukan dengan metode konvensional (elektrolisa dan  reduksi). Tetapi metode tersebut membutuhkan biaya pengolahan yang besar dan perak yang bisa dipungut sangat kecil dengan nilai jual yang rendah. Kandungan perak yang terdapat dalam limbah fotografi  berpotensi sebagai precursor  pada sintesa perak nano partikel. Teknologi nanopartikel saat ini sedang dikembangkan pada bidang  industri. Tetapi teknologi ini belum dimulai sama sekali di Indonesia, baik untuk pengembangan proses sinthesis maupun pemanfaatannya. Penelitian ini merupakan tahap awal pengembangan dan pemanfaatan teknologi nanopartikel dan diharapkan menjadi solusi pengolahan limbah fotografi dengan biaya yang murah dan hasil perak yang diperoleh bernilai ekonomi lebih tinggi.
Penelitian bertujuan memperoleh perak nanopartikel dari pengolahan limbah fotografi dengan metode flame spray pyrolysys, meneliti pengaruh variabel proses terhadap karakteristik produk perak dan menentukan kondisi optimum proses.  Pada tahun pertama penelitian difokuskan pada perancangan  peralatan sintesis perak nanopartikel, meneliti pengaruh laju alir gas pembawa dan laju alis gas pembakar pada karakteristik produk .
Limbah fotografi sebagai larutan precursor dinebulasikan pada ultrasonic nebulizer dibantu oleh udara pembawa. Kabut yang terbentuk dialirkan nyala burner melalui tube terdalam dari burner. Gas LPG dialirkan melalui anulus dalam dan udara pembakar dialirkan melalui anulus luar. Gas LPG terbakar di ujung burner dan panas hasil pembakaran berfungsi menguapkan pelarut larutan dan mereaksikan precursor. Campuran padatan yang terbentuk dan gas hasil pembakaran disedot dengan exhaust fan dan dilewatkan pada particle filter untuk memisahkan padatannya. Particle filter adalah kertas saring tipe khusus (Whatman type Glass Fiber). Padatan yang diperoleh dianalisis dengan X-ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM) .
Dari pengujian XRD diperoleh kristalinitas produk perak berkurang dengan bertambahnya laju alir gas pembawa, tetapi produk perak yang dihasilkan sedikit lebih banyak. Kristalinitas produk perak turun dengan bertambahnya laju alir gas pembakar. Hal ini karena temperatur flame menjadi lebih rendah  Dari pengujian SEM diperoleh bahwa laju alir gas pembawa tidak berpengaruh pada ukuran partikel produk perak, tetapi berpengaruh pada dispersi  partikel perak. Semakin besar gas pembawa semakin terdispersi partikel perak. Laju alir gas pembakar berpengaruh pada ukuran partikel perak. Semakin besar laju alir gas pembakar semakin kecil ukuran partikel.