MODEL PERENCANAAN SISTEM PERTANIAN KONSERVASI (Conservation Farming System) PADA SUB-DAS KEDUANG DAERAH TANGAPAN WADUK GAJAH MUNGKUR

Kata Kunci: degradasi lahan, Sub-DAS Keduang, sistem pertanian konservasi, simulasi model AGNPS.

Jaka Suyana, Joko Sutrisno
LPPM UNS, Penelitian, DP2M, Hibah Bersaing, 2009

Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan dan mulai dirasakan saat ini berkaitan sumberdaya alam lingkungan adalah degradasi lahan dan keterbatasan sumberdaya air. Degradasi lahan yang diakibatkan erosi di Sub-DAS Keduang berpengaruh buruk pada wilayah on-site (penurunan produktivitas lahan dan pendapatan petani, serta terjadinya lahan kritis) maupun wilayah out-site (sedimentasi waduk, banjir, dan kekeringan).
Penelitian model perencanaan Sistem Pertanian Konservasi (SPK) merupakan salah satu dasar bagi perencanaan sistem pertanian yang mengintegrasikan tindakan/teknik konservasi tanah dan air ke dalam sistem pertanian yang telah ada dengan tujuan untuk menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani. Penelitian pada tahun pertama ini telah dilakukan kegiatan pengumpulan data biofisik lahan, yang meliputi: kajian tingkat degradasi lahan, kajian kelas kemampuan lahan, dan kajian agroteknologi (prediksi erosi dan nilai ETol). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa : (1) tingkat degradasi lahan di Sub-DAS Keduang (42.260,66 ha) yaitu meliputi : tingkat degradasi ringan seluas 15.343,08 ha (49,54%), tingkat degradasi sedang seluas 12.866,15 ha (41,54 %), dan tingkat degradasi berat seluas 2.763,68 ha (8,92 %); (2) kondisi eksisting kelas kemampuan lahan didominasi oleh kelas kemampuan lahan III seluas 10.827,97 ha (34,96%), diikuti kelas kemampuan lahan II seluas 7.893,91 ha (25,42%), kelas kemampuan lahan VI seluas 5.312,85 ha (17,15%), kelas kemampuan lahan VII seluas 5.169,66 ha (16,69%), dan kelas kemampuan lahan IV seluas 1.788,53 ha (5,77%); (3) hasil prediksi erosi terendah terjadi pada jenis penggunaan lahan hutan (1,21-21,68 ton/ha/tahun), diikuti sawah irigasi (1,58-18,26 ton/ha/tahun), sawah tadah hujan (2,93-23,49 ton/ha/tahun), tegalan (20,76-202,07 ton/ha/tahun), dan kebun campuran (75,98-439,80 ton/ha/tahun); dan (4) nilai ETol untuk semua satuan lahan berkisar 5,20-79,45 ton/ha/tahun, dengan nilai rata-rata 41,40 ton/ha/tahun.
Hasil yang diharapkan dari akhir seluruh kegiatan penelitian (tahun ke-1 dan ke-2) adalah paket teknologi pengelolaan DAS berupa model perencanaan SPK untuk mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan di wilayah Sub-DAS Keduang Daerah Tangkapan Waduk Gajah Mungkur yang dapat mencegah degradasi lahan, serta mengurangi laju sedimentasi Waduk Gajah Mungkur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.