JAKARTA — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (LPPM UNS) menampilkan sejumlah inovasi unggulan dalam ajang internasional Indonesia Technology and Innovation (INTI) 2026 yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 di Hall A1–A3 dan D1 JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat.
Pameran teknologi dan inovasi Internasional tersebut mempertemukan berbagai pelaku inovasi dari dalam dan luar negeri. Selama tiga hari penyelenggaraan, INTI 2026 diikuti oleh 952 peserta expo dan menarik sekitar 30.000 pengunjung profesional.
Dalam ajang tersebut, LPPM UNS menghadirkan beragam produk dan hasil riset unggulan dari sejumlah fakultas antara lain, Water Contact Angle Meter (riset inovasi instrumen laboratorium dan pengembangan modul praktikum) dan printer huruf braille dari Prodi Pendidikan Fisika FKIP UNS, produk farmasi dari Prodi Farmasi dan Prodi Kimia Fakultas MIPA UNS. Kehadiran UNS menjadi bagian dari upaya memperkenalkan hasil penelitian dan inovasi perguruan tinggi kepada masyarakat, industri, serta calon mitra kolaborasi.


Selain diatas, unit yang turut menampilkan inovasi adalah Sekolah Vokasi UNS, khususnya tim dari D3 Teknik Informatika (D3TI) dan Sarjana Terapan Teknologi Informasi dan Kecerdasan Artificial (STARTIKA). Anggota tim D3TI dan STARTIKA UNS, Yudho Yudhanto, S.Kom., M.Kom., mengatakan pada INTI 2026 pihaknya membawa tiga inovasi yang merepresentasikan tiga bidang teknologi, yakni Internet of Things (IoT), immersive technology, dan artificial intelligence (AI).
“Pada kesempatan kali ini kami menghadirkan tiga inovasi dari tiga bidang. Bidang IoT kami fokuskan pada teknologi pertanian, bidang immersive melalui Virtual Reality (VR), serta bidang AI yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara, khususnya batik,” ujar Yudho.
Pada bidang IoT, inovasi yang ditampilkan berupa perangkat dan aplikasi pengusir hama untuk mendukung sektor pertanian. Inovasi tersebut diketuai oleh Fendi Aji Purnomo, S.Si., M.Eng. Teknologi ini dikembangkan sebagai salah satu alternatif pemanfaatan teknologi digital untuk membantu menghadapi persoalan hama dalam aktivitas pertanian. Sementara itu, bidang immersive technology diwakili teknologi Virtual Reality (VR) berupa perangkat dan aplikasi Pancingan Ikan yang dikembangkan oleh peneliti Taufiqurrakhman Nur Hidayat, S.Kom., M.Cs. Teknologi tersebut menawarkan pengalaman interaktif berbasis VR dengan memanfaatkan lingkungan virtual memancing ikan sebagai media simulasi dan pengalaman digital. Adapun inovasi pada bidang Artificial Intelligence (AI) menghadirkan Trisara Batik, sebuah aplikasi berbasis AI yang dikembangkan untuk mengenali keindahan serta memberikan rekomendasi batik Nusantara. Inovasi ini diketuai oleh Nurul Firdaus, S.Kom., M.Info.Tech. Kehadiran Trisara Batik menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan industri dan layanan digital, tetapi juga untuk mendukung pengenalan, apresiasi, dan pemanfaatan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan teknologi.


Selaras dengan Sustainable Development Goals
Ketiga inovasi yang ditampilkan Sekolah Vokasi UNS juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi untuk mendukung sektor pertanian, pengembangan inovasi digital, serta pelestarian dan penguatan nilai budaya menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Inovasi perangkat dan aplikasi pengusir hama memiliki relevansi dengan SDG 2: Zero Hunger, terutama dalam konteks mendukung produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian. Pemanfaatan teknologi IoT diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi pertanian yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Pengembangan teknologi Virtual Reality melalui aplikasi Pancingan Ikan turut mencerminkan semangat SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, khususnya dalam mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi baru. Sementara itu, Trisara Batik memiliki keterkaitan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth dan SDG 11: Sustainable Cities and Communities, melalui pemanfaatan AI untuk memperkenalkan, mengapresiasi, dan mendukung keberlanjutan warisan budaya Nusantara.
Secara lebih luas, ketiga inovasi tersebut juga mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals, karena pameran teknologi seperti INTI menjadi ruang untuk mempertemukan perguruan tinggi, peneliti, industri, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun kolaborasi serta mempercepat pemanfaatan hasil riset.
Menurut Yudho, keikutsertaan dalam INTI 2026 memberikan kesempatan bagi hasil riset perguruan tinggi untuk tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diperkenalkan secara lebih luas kepada calon pengguna, industri, pemerintah, maupun mitra pengembangan teknologi.
“Pameran seperti INTI menjadi ruang penting untuk mempertemukan inovasi dengan masyarakat dan industri. Kami berharap inovasi yang dibawa UNS dapat membuka peluang kolaborasi, pengembangan lebih lanjut, dan pemanfaatan teknologi secara nyata,” katanya.
Melalui pameran INTI 2026, LPPM UNS diharapkan dapat memainkan peran penting dalam memperkuat ekosistem inovasi, mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, serta memperluas hilirisasi hasil penelitian.
Keikutsertaan tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi UNS dalam mendukung ambisi Indonesia untuk menjadi salah satu negara dengan ekonomi digital terkemuka di kawasan, melalui pengembangan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan digital, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat, industri, pertanian, dan pelestarian budaya Nusantara. Pada saat yang sama, langkah tersebut memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs melalui inovasi yang berdampak, kolaboratif, dan berkelanjutan.

