Kata kunci : beton ringan metakaolin berserat aluminium, pembakaran

Antonius Mediyanto, Endah Safitri, Sapto Purnomo
LPPM UNS, Penelitian, DP2M, Hibah Bersaing, 2009

Panas/suhu sebagai beban (load) pada struktur perlu dikaji mengingat daya rusaknya terhadap regangan, modulus elastisitas, dan tegangan pada bahan struktur yang bersangkutan. Kinerja baja tulangan dan beton ringan sebagai elemen struktur harus diuji secara menyeluruh termasuk aspek kinerjanya pasca kebakaran, mengingat kebakaran merupakan kejadian yang setiap saat dapat terjadi. Adapun aspek yang ditinjau adalah kuat tekan, kuat tarik, modulus elastisitas, dan MOR.
Penelitian ini dilakukan dengan benda uji standar Silinder diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, dan balok 100 mm x 100 mm x 400 mmm. Suhu pembakara adalah 300˚ C, 400˚ C, 500˚ C, dan 500˚ C dengan perawatan 28 hari.
Peningkatan kuat tekan pada umur 28 hari adalah 12,33 %, dan 23,54 % pada beton ringan beserat aluminimum dan beton ringan metakaolin berserat aluminium. Peningkatan kuat tekan pada pembakaran 300˚ C, 400˚ C, dan 500˚ C tidak signifikan.
Peningkatan kuat belah pada umur 28 hari adalah 10,61 %, dan 16,20 % pada beton ringan beserat aluminimum dan beton ringan metakaolin berserat aluminium. Peningkatan MOR pada umur 28 hari adalah 24,92 %, dan 30,28 % pada beton ringan beserat aluminimum dan beton ringan metakaolin berserat aluminium. Peningkatan MOR pada pembakaran 300˚ C, 400˚ C, dan 500˚ C tidak signifikan. Peningkatan kuat belah pada pembakaran 500˚ C dan setelah mendapat perawatan adalah 8,24 %, dan 16,47 % pada beton ringan beserat aluminimum dan beton ringan metakaolin berserat aluminium. Peningkatan MOR pada pembakaran 500˚ C dan setelah mendapat perawatan adalah 32,64 %, dan 37,50 % pada beton ringan beserat aluminimum dan beton ringan metakaolin berserat aluminium.