Industri Asuransi Indonesia dalam Era Globalisasi: Asuransi Gempa Tektonik di Jawa-Bali Menggunakan Pendekatan Point Poisson Process

Kata kunci: asuransi gempa tektonik, point poisson process.

Pratiwi,Hasih; Slamet, Isnandar; Susanto, Irwan*)
Fakultas MIPA UNS, penelitian, Dikti, Hibah Pekerti Lanjutan, 2006.

Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Di sekitar pertemuan lempeng-lempeng tersebut terjadi akumulasi energi sehingga lapisan bumi tidak sanggup lagi menahannya dan akhirnya lepas dalam bentuk gempa bumi atau gempa tektonik. Kerugian fisik yang ditimbulkan oleh gempa adalah kematian dan korban manusia serta kerusakan bangunan dan lingkungan. Dari segi sosial ekonomi, terjadinya gempa menyebabkan trauma, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal, kerusakan material, terhambatnya industri, yang akhirnya mempengaruhi perekonomian secara makro. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji risiko yang ditimbulkan oleh gempa tektonik di wilayah Jawa-Bali dengan menggunakan pendekatan point Poisson  process.
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data gempa tektonik tahun 1966 sampai dengan tahun 2000 yang diperoleh melalui lab seismik di istitut Teknologi Bandung, meliputi lokasi, waktu, magnitude, dan kedalaman gempa. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan software Ms-Excel, SPSS, dan  Mathematica.
Berdasarkan pembagian grid menurut waktu dan magnitude dapat diperoleh estimasi rata-rata banyaknya gempa pada setiap grid. Setelah memperoleh fungsi likelihood untuk data truncated dapat ditentukan estimasi likelihood maksimumnya sehingga diperoleh suatu model pola gempa. Untuk menentukan apakah model sesuai dengan data digunakan uji chi-kuadrat, sedangkan untuk menguji asumsi distribusi magnitude digunakan analisis regresi. Selanjutnya, pendekatan compound Poisson process digunakan untuk memprediksi total kerugian yang diakibatkan gempa dan premi yang harus dibayarkan oleh pemegang asuransi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pola gempa dapat dinyatakan sebagai fungsi eksponensial magnitudenya. Rata-rata banyaknya gempa selama lima tahun adalah 17 kejadian dan rata-rata magnitudenya adalah 5,272 skala Richter. Untuk magnitude gempa yang cukup besar, model sesuai dengan data. Dengan asumsi bahwa total kerugian merupakan fungsi linear magnitude maka diperoleh prediksi total kerugian kumularif dan prediksi premi murni yang harus dibayarkan oleh pemegang asuransi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.