TiO2 dan Fe2O3-Montmorillonit Sebagai Bahan Antibakteri Escherichia Coli.

Kata kunci: TiO, FeO– montmorillonit, Escherichia Coli

Heraldy, Edy*)

Fakultas MIPA UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Pekerti Lanjutan, 2006.

Beberapa penyakit secara tidak langsung berhubungan dengan air dan air limbah yang kotor. Salah satu indikator kebersihan air umumnya digunakan bakteri dari group coliform. Bakteri Escherichia coll adalah anggota coliform yang paling dominan dijumpai di dalam air kotor, khususnya air yang tercemar feces manusia.

Bakteri E. coli, seperti juga bakteri-bakteri lainnya merupakan mahluk bersel tunggal yang menggunakan enzim atau paru-paru kimiawi untuk metabolisme oksigen. Eksistensi bahan antibakteri, seperti koloid perak dapat menghambat kerja enzim dan menyebabkan suffokasi (suffocation). Bakteri akan terbunuh dalam beberapa menit, tanpa menyebabkan kerusakan pada sel tisu disekitarnya.

Untuk membasmi mikroorganisme patogenik seperti bakteri di dalam air dan air limbah, bahan-bahan kimia dan fisika seperti klorin dan turunannya, AgNO, sinar ultraviolet dan radiasi sering kali digunakan, namun metode ini tidak selalu berhasil dengan memuaskan. Bakteri E. coli dapat pula dibasmi dengan menggunakan bahan semikonduktor seperti titan dioksida dan sinar ultraviolet. Sifat semikonduktivitas bahan menyebabkan senyawa-senyawa penyusun kulit bakteri terdegradasi sehingga bakteri terbunuh. Dewasa ini penggunaan bahan seperti zeolit A, X, Y dan clinoptilolit untuk mendukung ion-ion logam yang berpotensi sebagai antibakteri seperti Ag, Cu, Zn, Hg, Sn, Pb, Cd dan Cr serta oksida-oksida semikonduktor telah dikembangkan, akan tetapi sejauh ini penggunaan montmorillonit sebagai bahan pendukung belum pernah dilakukan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tanah lempung digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata, tembikar dan genteng. Selain itu dalam dunia industri, tanah lempung dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam industri kertas, cat dan karet, sebagai bahan penukar ion, katalis dan adsorben. Secara kenampakan luar, tanah lempung yang mengandung montmorillonit umumnya berwarna agak kecoklat-coklatan dan mudah dibentuk dalam keadaan basah serta mengeras dengan warna kemerah-merahan jika dibakar karet, sebagai bahan penukar ion, katalis dan adsorben. Secara Kenampakan luar, tanah lempung yang mengandung mont morillonit umumnya berwarna agak kecoklat-coklatan dan mudah dibentuk dalam keadaan basah serta mengeras dengan warna kemerah-merahan jika dibakar.

Oleh karena unjuk kerja lempung tak termodifikasi umumnya rendah, maka untuk meningkatkan unjuk kerjanya, lempung harus diaktivasi atau dipilarkan terlebih dahulu dengan berbagai senyawa organik, senyawa komplek dan oksida-oksida logam. Tujuan aktivasi atau pemilaran antara lain adalah untuk memperluas luas permukaan lempung, meningkatkan keasaman, memperbaiki porositas lempung dan meningkatkan volume total pori dan terutama dalam konteksnya dengan penelitian ini adalah untuk menonaktifkan bakteri E. coll.

Pembuatan TiO– montmorillonit dikerjakan dengan cara interkalasi kation titanium polihidroksi ke dalam antarlapis silikat, sedangkan pembuatan -montmorillonit dilakukan dengan interkalasi kation besi polihidroksi ke dalam antarlapis silikat. Aplikasi sebagai antibakteri dilakukan di bawah sinar UV dengan variasi waktu 20, 30, 40, dan 50 menit.

Pembuatan TiO-montmorillonit maupun – montmorillonit dikaji dari basal spacing (jarak antar bidang) atau data tinggi pilar TiO maupun yang ditentukan dengan metode difraksi sinar-X , luas permukaan spesifik ditentukan dengan alat Surface Area Analyzer (SAA), sedangkan keasaman permukaan ditentukan dengan metode gravimetri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel lempung asal Pacitan mengandung mineral montmorillonit 78,69% (sebelum dicuci): 83,78% (setelah dicuci); 86,82% (setelah diaktivasi). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembuatan TiO-montmorillonit maupun – montmorillonit berhasil terbukti dari adanya peningkatan jarak antar bidang dan adanya pilar TiO maupun montmorillonit. Identifikasi montmorillonit aktif TiO dan menunjukkan adanya pergeseran nilai 2θ atau jarak antar bidang (d) karena terbentuknya pilar TiO maupun . Hasil difraktogram menunjukkan adanya pergeseran 2θ kenilai yang lebih kecil (montmorillonit awal 2θ = 5,478° dan montmorillonit setelah dicuci 2θ = 5,449°) dengan tetap menunjukkan adanya puncak difraksi penciri montmorillonit sedangkan untuk montmorillonit terpilar TiOmaupun nilai 2θ tidak terdeteksi (2θ kurang dari 4°) akibat terbentuknya pilar TiOmaupun . Pilar TiO terbentuk pada nilai 2θ sebesar 25,3°, sedangkan pilar terbentuk pada nilai 2θ sebesar 36,2°.

Aplikasi TiO dan -montmorillonit sebagai bahan antibakteri E. coli telah membuktikan bahwa TiO-montmorillonit dan -montmorillonit dapat berfungsi sebagai bahan antibakteri E. coli yang dibuktikan dapat mematikan sejumlah koloni E. coli. Rasio berat bahan TiO2-montmorillonit per konsentrasi larutan bakteri 1/59 mg.mL.cfu mematikan koloni bakteri Escherichia coli paling banyak yaitu sebanyak 29,92 %, sedangkan -montmorillonit perkonsentrasi larutan bakteri 1/25 mg.mL.cfu mematikan koloni bakteri Escherichia coli paling banyak sebesar 31,49 % selama penyinaran 69 menit dengan sinar UV yang memiliki daya 6 W dengan panjang gelombang 365 nm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.