• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: hortikultural

Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi

Kata kunci : budaya kewirausahaan, hortikultural, agribisnis.

Yuniastuti, Endang; Dewi, Widyatmani Sih*)
Fakultas Pertanian UNS, Pengabdian, Dikti, Magang Kewirausahaan, 2007.

Manusia memerlukan konsumsi zat-zat gizi untuk menciptakan tubuh yang sehat. Zat-zat gizi tersebut antara lain kalori, karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral yang berfungsi untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Zat-zat gizi tersebut tidak diperoleh dari satu macam bahan makanan saja melainkan dari beberapa bahan makanan yang berupa makanan pokok, lauk pauk, buah, susu maupun sayuran.
Sayuran merupakan makanan pendamping makanan pokok yang kaya gizi. Di dalam sayuran terkandung protein, vitamin dan mineral. Sayuran dalam bidang hortikultura dapat diartikan bagian dari tunas, daun, buah dan akar tanaman yang lunak dan dapat dimakan secara utuh atau sebagian dalam keadaan segar atau mentah atau dimasak, sebagai pelengkap pada makanan berpati dan daging.
Usaha tani hortikultura masih mengalami banyak kendala yang mengakibatkan perkembangannya yang kurang pesat. Selain karena ciri produksinya yang mudah rusak, juga menuntut keterpaduan aspek bisnis dan ilmu pertanian dalam pengembangan usaha tani sayuran. Produksi sayuran di Indonesia banyak dihasilkan oleh petani-petani kecil. Pada sayuran dataran rendah pengusahaannya hanya sebagai sampingan atau tumpang sari pada tanaman pokok. Penyebaran tanaman sayuran di Indonesia sangat dibatasi agroklimat yang sesuai dengan tanamannnya. Disamping itu pola produksi sebagian besar bersifat musiman. Pada musim panen yang didukung oleh iklim baik, akan terjadi produksi yang melimpah sedangkan keadaaan yang sebaliknya akan dijumpai di luar musim panen (off season). Pola produksi yang demikian dan suplai pasar yang tidak merata keseluruh daerah menyebabkan fluktuasi harga yang cukup tajam dan perbedaan harga antar daerah cukup besar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mahasiswa sebagai generasi penerus harus dibekali dengan pengetahuan mengenai pola budidaya dan analisa usaha tani yang dapat memberi keuntungan yang maksimal. Kegiatan magang ini akan memberikan modal kepada mahasiswa untuk merencanakan usaha dibidang budidaya tanaman sayuran mulai dari perencanaan proposal usaha, budidaya tanaman sampai perhitungan laba/rugi sehingga dapat mengusahakan lahan pertanian secara mandiri.