Kata kunci : konservasi air, pencegahan banjir, biopori

Sumani; Sulastoro; Rosariastuti, MMA.Retno*)
LPPM UNS, Pengabdian, DP2M, Penerapan Ipteks, 2009

Langkah pencegahan banjir yang sudah biasa dilakukan di banyak tempat antara lain pembersihan dan pengerukan saluran drainase serta pelurusan sungai untuk memperlancar aliran. Prinsip konsep drainase tersebut adalah membuang air secepatnya melalui saluran drainase menuju ke sungai dan akhirnya ke laut, tanpa memperhatikan pentingnya resapan air ke dalam tanah. Penerapan prinsip yang demikian memang cukup efektif mengatasi masalah banjir pada musim hujan, namun akan membawa masalah lain pada musim kemarau, yaitu kekurangan air (kekeringan). Hal itu terjadi karena air hujan yang jatuh di permukaan bumi kurang mendapat kesempatan untuk meresap masuk ke dalam tanah sehingga pengisian kembali air tanah (ground water) sangat kurang. Padahal sepanjang tahun (musim hujan maupun kemarau) manusia terus mengambil dan memanfaatkan air tanah. Jika tidak ditangani serius, ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan air akan berakibat pada tercetusnya kondisi krisis air. Konsep drainase yang lebih tepat saat ini adalah konsep ekodrainase (drainase ramah lingkungan). Prinsipnya bahwa air hujan yang jatuh di permukaan bumi harus diresapkan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah, untuk pengisian kembali (recharge) air tanah, yang akan menambahkan cadangan air tanah. Lubang Resapan Biopori dapat membantu meningkatkan resapan air ke dalam tanah, merupakan salah satu bentuk ekodrainase yang mudah, murah dan bisa diterapkan dimanapun. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode FGD dan pembuatan percontohan lubang resapan biopori . Hasil yang dicapai yaitu meningkatnya kesadaran warga masyarakat akan pentingnya resapan biopori dan terwujudnya percontohan lubang resapan biopori, yang dibuat untuk memotivasi warga menerapkan teknologi ini di lingkungannnya.