• Cougar

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Lions

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Snowalker

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Howling

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

  • Sunbathing

    LPPM UNS

    Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Posts tagged: Pendidikan

Pengembangan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Peningkatan Kualitas Pembelajaran Statistika Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Pendidikan Tinggi.

Kata kunci: transferable skills, statistik, competitive advantage.

Siswandari; Susilaningsih*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan sumber daya utama dari competitive advantage baik pada bidang pendidikan maupun bisnis, merupakan aset terpenting bagi keberhasilan organisasi dan merupakan faktor kunci dalam reformasi ekonomi. Untuk menghadapi era globalisasi, SDM yang mampu bersaing mutlak diperlukan. Hampir setiap pihak yang berkepentingan membicarakan tentang harapan agar perguruan tinggi mampu menghasilkan SDM unggul yang memiliki competitive advantage dan mampu memainkan perannya baik sebagai strategic partner, administrative expert, employee champion maupun change agent. Namun, yang menjadi salah satu permasalahan pelik di Indonesia adalah bagaimana pendidikan tinggi mempersiapkan lulusannya supaya memiliki competitive advantage sehingga dapat memasuki pasar kerja era globalisasi dengan relatif mudah.
Hal mencolok yang terjadi dalam kaitannya dengan pendidikan tinggi adalah tingkat pengangguran yang relative tinggi dari tahun ke tahun, sekitar 20% untuk tingkat sarjana dan 10,81% untuk Diploma, angka pengangguran hingga tahun 2000 sudah mencapai 59,84% dari 95,7 juta angkatan kerja dimana hanya 2,9% yang berpendidikan Diploma dan 2,4% berpendidikan Sarjana S1. Meskipun tingkat pengangguran yang relatif tinggi tersebut bukan hanya merupakan tanggung jawab lembaga pendidikan tinggi, namun tidaklah dapat disangkal bahwa proporsi tanggung jawab pendidikan tinggi sebagai produsen tenaga kerja atau sumber daya manusia cukup besar. Disamping itu adanya in-efisiensi dengan indikator masa studi yang relatif lama (5,5 - 5,8 tahun untuk basic sciences , teknik dan pertanian dan ketidakmampuan perguruan tinggi untuk menghasilkan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat karena rendahnya motivasi untuk meneliti, selain itu perguruan tinggi masih belum memainkan perannya secara maksimal dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.
Menyikapi apa yang telah dikemukakan di atas, peneliti bermaksud mencari celah yang relatif cukup strategis untuk ikut menyumbangkan pemikiran tentang upaya logis dalam rangka meningkatkan kualitas calon lulusan pendidikan tinggi sebagai sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan. Celah yang dimaksud adalah peningkatan skills yang termasuk kedalam apa yang disebut sebagai transferable skills. Transferable skills ini dipilih karena berdasarkan beberapa hasil kajian yang relevan ternyata skills inilah yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat kerja. Upaya tersebut dituangkan dalam kegiatan penelitian yang pada tahun pertama ini dilakukan melalui pendekatan survey dengan tujuan untuk mengidentifikasi tingkat transferable skills mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Identifikasi ini dilakukan dengan memanfaatkan alat ukur jenis non-tes yang telah memenuhi validitas teoritis dan empiris sebagai syarat utama suatu alat pengukuran yang baik.
Di samping mengidentifikasi tingkat transferable skills mahasiswa, penelitian ini juga mengidentifikasi praktek pembelajaran statistika yang dilakukan pada 10 program studi dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Hal ini dilakukan karena mata kuliah yang dipilih sebagai sarana untuk meningkatkan transferable skills mahasiswa dalam keseluruhan kegiatan penelitian ini adalah mata kuliah statistika. Statistika ini dipilih karena dua alasan utama. Pertama, era globalisasi menuntut bidang pekerjaan yang bervariasi dan menuntut kemampuan bekerja dengan berbagai teknologi terutama yang bersifat computerized. Kedua, dari hasil studi empiris ditemukan bahwa sejak tahun 2001 yang lalu salah satu trend penelitian untuk semua bidang ilmu dilakukan melalui penelitian kuantitatif, hal ini antara lain ditandai dengan berkembangnya Quantitative History dimana kajian bidang sejarahpun ditangani dengan berbagai analisis statistik yang relevan di samping adanya kenyataan bahwa sejarawan mulai mencari formula baru dalam mengungkap fakta sejarah. Selain itu penelitian kuantitatif pada masa ini telah berhasil mendominasi dan merupakan salah satu modus dengan peminat terbanyak pada Pendidikan Tinggi. Kondisi seperti ini merambah ke semua bidang kajian yang memungkinkan penerapan analisis statistik menjadi salah satu alat yang sangat dipertimbangkan dalam rangka membantu memecahkan permasalahan penelitian. Selanjutnya dari hasil studi empiris juga menyebutkan bahwa dalam rangka meningkatkan akurasi dalam peramalan (forecasting) penggunaan komputer yang disertai dengan metode statistik semakin meningkat dan bahwa penggunaan komputer yang memang dimaksudkan untuk memfasilitasi proses pembelajaran, oleh mahasiswa dipandang sebagai langkah strategis dalam meningkatkan layanan akademik di perguruan tinggi. Mempertimbangkan kedua hal tersebut maka tidaklah berlebihan jika pembelajaran statistika berbantuan komputer dipilih sebagai sarana untuk mengembangkan transferable skills mahasiswa.
Penelitian survey ini mengambil sampel sebanyak 304 mahasiswa dan 10 program studi secara random dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Surakarta dalam rangka mengidentifikasi tingkat transferable skills mahasiswa dan praktek pembelajaran statistika yang dilakukan saat ini.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa secara kuantitatif rata-rata tingkat transferable skills dari 304 mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Surakarta adalah 5,23 dimana angka ini berada pada kategori rendah. Jika dikaji secara kualitatif maka transferable skills mahasiswa ini berada pada kategori batas minimum (threshold). Selanjutnya dapat diinformasikan bahwa 18 dari 33 aspek transferable skills yang tergolong rendah (55% dari seluruh aspek yang diukur) yang sangat mungkin ditingkatkan melalui pembelajaran statistika berbantuan komputer adalah sebagai berikut
1.   Kemampuan melakukan komputasi (aspek-7)
2.   Kemampuan memanfaatkan spreadsheets (aspek-15)
3.   Kemampuan menafsirkan grafik (aspek-16)
4.   Kemampuan menguji hipotesis (aspek-17)
5.   Kemampuan menafsirkan hasil pengolahan data (aspek-18)
6.   Kemampuan mempresentasikan hasil pengolahan data dengan tepat (aspek-19)
Hasil identifikasi ini kemudian dipadukan dengan hasil analisis faktor yang dimaksudkan untuk mengkaji transferable skills yang diprioritaskan untuk ditingkatkan. Berdasarkan kedua kajian ini maka transferable skills yang ditargetkan meningkat melalui strategi pembelajaran statistika berbantuan komputer (sebagaimana yang tertera pada Draft SAP) yang akan diujicoba pada tahun II adalah:
1.   Tingkat kemampuan melatih (X5)
2.   Tingkat kemampuan mengumpulkan data (X12)
3.   Tingkat kemampuan menghitung (X13)
4.   Tingkat kemampuan memanfaatkan spreadsheets (X15)
5.   Tingkat kemampuan menafsirkan grafik (X17)
6.   Tingkat kemampuan menguji hipotesis (X18)
7.   Tingkat kemampuan menafsirkan hasil pengolahan data (X19)
8.   Tingkat kemampuan mempresentasikan hasil pengolahan data (X20)
9. Tingkat kemampuan mengolah (memproses) data yang diperoleh (X31)
Selanjutnya dapat diinformasikan tiga hal yang berkaitan dengan praktek pembelajaran statistika yang diselenggarakan tahun 2006 ini. (1) Cakupan materi yang disampaikan kepada mahasiswa relatif bervariasi dan masih cenderung teoritis. (2) Secara umum metode pembelajaran yang digunakan relatif sama yaitu ceramah bervariasi dan penugasan (pemberian soal-soal latihan) dan (3) Pembelajaran yang dipraktekkan pada 10 program studi yang diamati ternyata memberikan kesimpulan yang sama dimana pembelajaran statistika masih dilakukan secara konvensional artinya tidak satupun dari sampel yang menggunakan teknologi komputer. Di samping itu strategi pembelajaran yang dilakukan masih bersifat “teacher oriented”.

Pengembangan Model Pembelajaran Penstimulasian Multiple Intelligences Siswa untuk Pencapaian Standard Kompetensi Belajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi di Sekolah Dasar.

Kata kunci: pembelajaran, multiple intelligences.

Legowo, Edy; A, Chadijah II.; Syamsuri, H.A.*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Model Pembelajaran Penstimulasian Multiple Intelligences (MP2-MI) di Sekolah Dasar (SD). Selanjutnya dengan menerapkan MP2MI di SD diharapkan dapat meningkatan prestasi belajar dan kecintaan belajar Matematika dan IPA (MIPA) siswa Sekolah Dasar, dan peningkatan keterampilan guru SD dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran MIPA. Target khusus penelitian tahun pertama (2006), yaitu dihasilkan: (1) Instrumen Pengukuran Kecenderungan Profil MI (IPKP-MI) siswa SD; (2) Rancangan MP2-MI (sebut: Kurikulum Instruksional Model Pembelajaran Penstimulasian MI siswa (KIMP2-MI) mata pelajaran MIPA SD dan Strategi Evaluasi Hasil Belajar Pendekalan MI (SEKHB-MI) mata pelajaran MIPA; (3) Dihasilkan contoh-contoh KIMP2-MI mata pelajaran MIPA. Pada tahun kedua (2007) dan tahun ketiga (2008) MP2MI yang telah dikembangkan diuji cobakan tingkat keefektifannya dalam lingkup terbatas dan dalam lingkup luas. Secara khusus target yang diharapkan dicapai dalam penelitian tahun kedua dan ketiga adalah: (1) Peningkatan sikap positif guru terhadap potensi dan gaya belajar siswa, (2) Peningkatan keterampilan guru dalam merancang dan mengimplementasikan MP2MI, (3) Peningkatan kompetensi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dan Matematika; dan (4) Peningkalan kecintaan belajaran siswa pada dua pelajaran tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (K&D). Dalam mengadaptasi instrument IPKP-MI dilakukan uji validitas empiris dengan subjek sasaran guru SD kelas I, II, III, dan IV sebanyak 11 orang dan orang tua siswa kelas I,II, III, dan IV SD sebanyak 450 orang, serta 4 orang judges ahli pembelajaran. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif.
Pada Tahun Pertama, penelitian ini telah menghasilkan (1) Adaptasi instrumen IPKP-MI; (2) Pemetaan kecenderungan profil MI siswa kelas I, II, III, dan IV SD; (3) Pengembangan format MP2-MI, meliputi kegiatan: (a) Peyusunan KIMP2-MI dan SEKHB-MI mata pelajaran MIPA SD; (b) Uji validitas Model KIMP2-MI dan SEKHB-MI oleh judges; dan (c) Uji keterterimaan model oleh guru, serta (d) contoh-contoh hasil pengembangan KIMP2-MI mata pelajaran MIPA SD kelas I, II, III, dan IV.
Keberhasilan dalam pengembangan MP2-MI diharapkan dapat menjadi alternatif model pembelajaran yang bermakna dalam aplikasi kurikulum berbasis kompetensi khususnya dalam mata pelajaran matematika di SD.

Model Bimbingan Perencanaan Karir Untuk Mahasiswa UNS Melalui Kolaborasi Konselor dan Dosen dalam Mewujudkan Teaching University dengan Pendekatan Multikultural.

Kata kunci: karir, teaching university, purposive cluster sampling.

Fadhilah, Siti S.*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Hibah Bersaing, 2006.

Penelitian pada tahun pertama ini bertujuan untuk mengembangkan model bimbingan perencanaan karir untuk mahasiswa melalui kolaborasi konselor dan dosen mewujudkan teaching university dengan pendekatan multikultural.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and development), dengan dua rancangan, yaitu: survai, dan evaluatif. Survai dilakukan sebagai penelitian pendahuluan untuk mengetahui kondisi pendukung yang terkait dengan penelitian atau produk model yang akan dikembangkan. Penelitian evaluatif, digunakan dalam uji ahli dan praktisi terhadap pengembangan produk.
Populasi yang digunakan sebagai subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), yang terdiri dari sembilan fakultas (Hukum, Ekonomi, ISIP, Sastra, KIP, MIPA, Pertanian, Kedokteran, dan Teknik). Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 6 sampai 8 Progdi PKh di Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP, Biologi, FMIPA, dan Sastra Indonesia, F. Sastra. Adapun teknik sampling yang digunakan adalah purposive cluster sampling. Jumlah sampel 125 orang mahasiswa. Teknik pengumpul data menggunakan wawancara, kuesioner, dan tes kecerdasan (IQ), dan data dianalisis dengan persentase dan deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil penilaian para ahli yang juga sebagai praktisi menyatakan bahwa model bimbingan perencanaan karir untuk mahasiswa ini layak digunakan. Artinya model yang dikembangkan telah memenuhi aspek validitas isi, bahasa dan tata tulis, baik pedoman yang digunakan oleh konselor dan dosen dalam memberikan bimbingan kepada mahasiswa, maupun bahan atau materi yang digunakan konselor dalam memberikan bimbingan kepada mahasiswa.

Pengembangan Model Pengajaran Bahasa Indonesia Dengan Pendekatan Apresiasi Drama.

Kata kunci: model pengajaran, apresiasi drama.

Waluyo, Herman J.; Kartodirdjo, Suyatno; Setiawan, Budhi*)
Program Pascasarjana UNS, Penelitian, dikti, Hibah Pasca, 2006.
Buku ajar apresiasi drama yang representatif, bersifat apresiatif, dan memberikan kemungkinan untuk pementasan drama kiranya belum ada di khasanah sastra dan khasanah pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Yang ada adalah buku ajar dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang di dalamnya hanya memasukkan sangat sedikit materi tentang drama. Materi ajar Apresiasi Drama itu belum mencukupi dari segi keluasan dan kedalaman materi apresiasi, baik secara kognitif, afektif, terlebih-lebih untuk maksud psikomotor berupa pagelaran drama. Karena itu, melalui buku-buku teks yang dipakai di SMU saat ini, belum dapat dilaksanakan penghayatan terhadap drama khususnya dan sastra pada umumnya . Dengan menggunakan buku semacam itu, belum terpenuhi persyaratan untuk membentuk “the educated person” seperti yang dikemukakan oleh Moody (1989). Pengenalan secara memadai tentang materi drama Indonesia dan drama-drama penting dunia belum dapat dipenuhi melalui buku tersebut.
Buku ajar apresiasi drama hendaknya dapat membantu pencapaian tujuan pembelajaran apresiasi drama yang oleh Moody (1989: 59) untuk (1) membantu keterampilan berbahasa; (2) meningkatkan pengetahuan budaya; (3) mengembangkan cipta dan rasa; dan (4) menunjang pembentukan watak. Melalui mendengarkan drama, mementaskan drama atau fragmennya, membaca teks drama, dan menulis respons terhadap drama, keempat keterampilan berbahasa dapat dilatihkan melalui drama. Materi ajar Apresiasi Drama hendaknya memungkinkan siswa tidak hanya mengapresiasi naskah (teks) drama, namun juga mementaskan drama. Pementasan drama dapat dijadikan media aktualisasi diri bagi siswa. Dengan diberlakukannya pendekatan humanistik Maslow dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, aktualisasi diri yang dianggap sebagai proses belajar yang cukup penting itu, dapat dilatihkan melalui pagelaran drama (Sunardi, 2003:21).
Dalam metode pembelajaran yang bersifat inovatif, prinsip pendramaan (dramatisasi) sangat berperan (Connie S., 1995). Hal ini disebabkan dengan dramatisasi, terjadi proses keterlibatan (internalisasi) fisik/mental dan internalisasi nilai-nilai dalam diri siswa terhadap materi pengajaran yang sedang dipelajari. Simulasi, sosiodrama, dan role-playing (yang menggunakan prinsip dramatisasi) banyak digunakan untuk pembelajaran yang bertujuan menanamkan nilai, tingkah laku, dan juga perubahan tingkah laku yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan metode- metode ekspositoris.
Karena di masa depan semua mata pelajaran harus diarahkan kepada kompetensi dalam bidangnya, yang membentuk kemampuan “life-skills” pada siswa seperti halnya ketentuan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), maka pendekatan atau basis yang digunakan dalam penyusunan model buku ajar disusun dengan berlandaskan pada basis kompetensi (cf. Mulyasa, 2002: 71). Basis kompetensi mengarahkan siswa untuk dapat memiliki “life skills”. Pembentukan kemampuan “life skills” dalam pengajaran drama berarti memungkinkan siswa mampu mencari nafkah melalui antara lain: menulis naskah drama, menulis skenario drama televisi, menulis resensi drama, drama televisi, berakting, bermain drama, dan jika dikembangkan lebih lanjut dapat memungkinkan siswa kelak menjadi pemain drama, sinetron, atau film profesional.
Drama adalah karya sastra dan karya seni (Bakdi Sumanto, 2001). Sebagai karya sastra, teks-teks drama dalam sastra Indonesia sangat jarang dibaca oleh siswa. Dalam penelitiannya di daerah Jawa Barat, Yus Rusyana (1989) mendapatkan hasil bahwa perbandingan pembacaan/apresiasi prosa : puisi: drama adalah 6 : 3 :1. Hal ini menunjukkan bahwa ketertibatan siswa dalam drama (naskah) sangat kurang. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan drama pentas.
Sebagai karya seni, pertunjukan drama sebenarnya sudah memasyarakat, membudaya, atau mentradisi karena di semua wilayah Indonesia ada jenis teater tradisional di Jawa Tengah cukup terkenal dan digemari oleh rakyat, antara lain ketoprak , srandul, dan gatoloco; di Jawa Timur ada lodruk, kentrung, topeng dhalang, dan reyog (yang biasanya juga menampilkan teater); di Sumatra Barat ada randai; di Jawa Barat ada tarling (Cirebon), ubrug, banjet, dan ketuk tilu; di daerah Betawi ada lenong, balntek, dan topeng Betawi (Kasim Achmad, 1981) sebagai teater tradisi. Teater tradisi pula yang telah menjiwai bangkitnya teater modern Indonesia dan naskah-naskah drama modern, seperti karya Wisran Hadi, Rendra, Arifin C.Noer, Akhudiat, N. Riantiarno, dan Heru Kesowo Murti (Putu Wijaya, 1981). Bahkan dramawan-dramawan muda seperti Hanindawan, St. Wiyono, Sosiawan Leak, dan Sitok Srengenge sangat menyadari peranan tradisi dalam mempengaruhi karya-karya drama mereka (Hanindawan, 1999).
Karena itu, pendekatan tradisi kiranya merupakan pendekatan yang dapat membantu meningkatkan daya tarik, minat, dan sikap positif kepada seni drama bagi para siswa. Dalam penelitian ini, tradisi dijadikan pendekatan di dalam memberikan variasi pemilihan materi dalam penyusunan buku ajar Apresiasi Drama. Jika mengingat bahwa kita sangat miskin naskah drama, maka dengan mempertimbangkan aspek tradisi penyediaan naskah drama yang menarik siswa kiranya dapat diatasi. Di dalam tradisi budaya kita, tersedia cerita yang berlimpah-limpah yang dapat dijadikan bahan mentah penyusunan naskah drama. (Waluyo, 2002).
Penelitian ini bermaksud menghasilkan buku ajar apresiasi drama yang berbasis kompetensi dan berdasarkan pendekatan tradisi. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap atau tiga tahun. Tahun pertama adalah tahap penqembanqan model buku ajar atau MSP atau silabus, yang dimulai dengan penyusunan prototype model yang dikembangkan melalui uji coba. Pada akhir tahun pertama dihasilkan model buku ajar untuk pelajaran Apresiasi Drama. Pada tahun kedua model buku ajar itu dikembangkan melalui uji coba di lapangan menjadi buku ajar Apresiasi Drama. Pada Tahun ketiga diadakan uji coba dengan eksperimen untuk menguji efektivitas buku ajar Apresiasi Drama di SMU melalui penelitian kuantitatif. Pada akhir tahun ketiga, didapatkan buku ajar andal yang telah teruji efektivitasnya melalui pengujian secara empirik.
Proto model, model, dan buku ajar Apresiasi Drama disusun bersama dan dikembangkan bersama oleh peneliti, guru-guru Apresiasi Drama di SMU, dan tokoh-tokoh pakar drama, dramawan, penerbit, pengamat drama, dan ahli pendidikan (kemudian disebut stakeholders).
Pengembangan model dan pengembangan buku ajar dilaksanakan melalui metode penelitian tindakan kelas (classroom action research) di daerah Surakarta yang meliputi SMU di Kota Surakarta, Sukoharjo, dan Karanganyar. Pemilihan SMU tempat uji coba adalah dengan cara purposive sampling. Sebelum pelaksanaan tindakan kelas, terlebih dulu diadakan lokakarya untuk focus group discussion dengan guru-guru pelaksana uji coba, kepala sekolah, petugas Depdiknas Kabupaten, dan para stakeholders. Kemudian diadakan training bagi para guru pelaksana uji coba di lima SMU tersebut dan bagi murid-murid tempat uji coba . Setelah itu, dikembangkan model buku ajar melalui uji coba minimal selama 3 siklus. Setiap akhir siklus diadakan refleksi dan rencana perbaikan untuk pelaksanaan siklus berikutnya.
Di samping itu, setiap awal tahun dan akhir tahun penelitian diadakan lokakarya (focus-group-discussion) secara kolaboratif antara peneliti, guru-guru, dan wakil murid, beserta para stakeholders. Lokakarya tersebut bermaksud untuk (1) merumuskan prototype model buku ajar, (2) merumuskan model buku ajar yang diterbitkan, (3) merumuskan buku ajar : dan (4) menentukan keungqulan buku ajar tersebut dibandingkan dengan buku ajar konvensional. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa pada akhir tahun kedua, buku ajar yang dikembangkan telah diterbitkan dan dilampirkan dalam laporan penelitian dan kemudian pada akhir tahun ketiga buku tersebut bila telah dinyatakan unggul dapat diterbitkan secara luas.

Penggunaan Software SIG Khusus Dan Pendekatan Pembelajaran Aktif Untuk Mempermudah Penguasaan Kompetensi SIG Pada Pembelajaran Geografi Di SMAN 1 Surakarta.

Kata kunci: bahasa komunikatif, matematika.

Sugiyanto; Milangsih, Sri; Suyoto; Lestari,Eny Wiji; Utomowati, Rahning*)
Fakultas KIP UNS, Penelitian, Dikti, Tindakan Kelas, 2006.
Penelitian tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan materi SIG di SMA. Sedangkan tujuan khususnya adalah 1) ingin meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran SIG, 2)meningkatkan semangat belajar siswa, 3) meningkatkan keaftifan belajar siswa
Cara penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas melalu 4 prosedur ptk yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII- IS2 SMAN 1 Surakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, test, penugasan, kuesioner. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan cara matching.
Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan software SIG khusus pembelajaran mampu meningkatkan hasil belajar siswa, semangat belajar, dan keaktifan dalam pembelajaran, serta ketertarikan untuk belajar geografi.